
Rendi melanjutkan pekerjaannya kembali, membaca beberapa dokumen yang dia harus pelajari. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu di sana.
"Permisi pak, boleh saya masuk?"
Rendi menatap sesosok wanita muda yang memasuki ruangannya.
"Iya ada perlu apa?" jawab Rendi dingin.
"Maaf pak saya mengantar berkas dari divisi marketing untuk bapak pelajari!" kata wanita itu tersenyum ramah.
"Baiklah taruh saja di situ!" jawab Rendi tanpa melihat wanita itu.
Wanita itu masih berdiri di situ, mengamati ketampanan Rendi yang membuatnya terpesona.
"Ada perlu lagi?" tanya Rendi.
"Oh, gak pak, maaf sudah mengganggu!Kalo begitu saya permisi dulu pak!"
"Iya, " jawab Rendi singkat masih fokus dengan berkas yang ada di depan matanya.
"Maaf pak Rendi, kita belum berkenalan!" kata wanita itu tiba-tiba menghampiri Rendi lagi.
Rendi mengalihkan pandangannya ke arah wanita itu.
"Nama saya Stella pak, saya manager marketing di sini!" kata wanita itu tanpa disuruh sudah memperkenalkan diri.
"Oh baiklah Bu Stella, terima kasih atas perkenalannya tapi...."
"Jangan panggil Bu dong pak, panggil Stella saja. Umur kita kan gak beda jauh," kata Stella dengan nada menggoda.
Rendi sebenarnya tahu kalo kedatangan dia kemari hanya sekedar basa basi membawakan berkas namun sesungguhnya dia hanya ingin tebar pesona padanya. Terlihat dari gestur dan nada bicara wanita itu.
"Baiklah Stella masih ada keperluan lainnya?Kalo tidak tolong tinggalkan saya sendiri, karena masih ada pekerjaan yang akan saya kerjakan!"
"Tidak ada pak, baik saya permisi dulu. Mohon maaf sudah mengganggu."
Stella tersungut-sungut melihat perlakuan Rendi dengannya. Dia keluar ruangan Rendi dengan uring-uringan.
"Beraninya dia menolak ku, apa karna dia pewaris perusahaan ini! Hah sombong sekali dia, jangan pernah anggap remeh Stella, Rendi...suatu saat kamu akan bertekuk lutut di hadapanku memohon-mohon cintaku! Hari ini kamu nyuekin aku, tapi lihat saja nanti!"
Stella merupakan salah satu karyawati yang memang cantik, bahkan para lelaki di kantor itu banyak yang tergila-gila dengannya.
Di tempat lain
Seperti biasa meta duduk di pinggir sungai dekat kampus setelah berkutat dengan perkuliahan seharian ini. Entah kenapa pemandangan di sekitar sungai di sini adalah salah satu spot kesukaan meta dalam menyendiri.
Meta membaca buku sambil menikmati makanan yang dia bawa, sesekali memandang keindahan sungai di depannya.
"Hayo Lo nglamun aja!"
Tiba-tiba lamunan meta buyar karena dikagetkan oleh seseorang yang tak lain adalah Devan.
"Ih....Devan Lo tuh ngagetin gue aja!"
"Tuh kan Lo gue lagi!"
"Habisnya Lo nyebelin, lagian kenapa kalo aku manggil Lo mesti aku kamu!"
"Yaelah kayak gitu aja kaget, makanya jangan suka nglamun. Ntar kesambet hantu penunggu pohon Lo! Lagian aku tuh dengernya gak enak banget kalo manggil Lo gue, mendingan aku kamu, Iya gak?" kata Devan sambil menyenggol lengan meta.
"Apaan sih Van! Semenjak di Jerman kayaknya Lo tambah aneh deh!"
"Tuh kan Lo lagi manggilnya!"
"Iya, iya, kamu, kamu! Ribet banget sih ni bocah!"
"Kamu baca apa met?"
"Biasalah materi kuliah, Lo eh kamu ngapain sih ngikutin Mulu! Aku tuh butuh ketenangan tahu gak buat belajar!"
"Ya elah belajar apaan, orang tadi aku lihat kamu nglamun!"
"Gak, apaan sih! Orang dari tadi baca buku juga!"
"Masih gak ngaku! Pasti nglamunin Rendi kan? Pasti itu kan yang ada di pikiranmu!"
"Emang, terus kenapa?Masalah buat Lo!"
"Gak masalah sih, cuma takutnya kalo kamu nglamun ntar kesambet hantu penunggu sini lagi! Eh met, di sini hantunya kan beda sama di indo, mungkin bisa aja drakula atau zombie atau....!"
"Devan....please deh....stop...stop!!!Gue gak mau denger!" jawab meta memukuli bahu devan.
"Iya ampun deh, sakit tahu!"
"Iya deh yang lagi meriang alias merindukan kasih sayang!" kata Devan masih menggoda meta lagi.
"Tuh kan, mau aku pukul lagi?'
"Ampun gak deh! Makanya jangan suka bengong! Btw gimana kuliah kamu?"
"Kenapa tanya kuliah?Tumben!"
"Tadi bahas hantu gak boleh, bahas kuliah gak boleh ya udahlah aku diem aja!"
"Ceileh ngambek nih ceritanya, baru gitu aja ngambek. Iya, iya aku jawab, kuliahku lancar-lancar aja sekarang lagi pendalaman materi fisiologi, tuh udah gue jawab, puas!" kata meta menatap wajah Devan.
Tak sengaja mereka bertatapan, namun buru-buru meta mengalihkan pandangannya.
"Kenapa jadi salting?" tanya Devan.
"Gak, sapa juga yang salting."
"Van."
"Hem," jawab Devan tanpa menoleh.
"Aku serius Van, kenapa kamu gak lihat aku!"
"Ntar kamu salting lagi kalo tatapan mata sama aku!"
"Ya gak harus tatapan mata juga kali, cukup dengerin aja."
"Iya ngomong aja aku dengerin ko!"jawab Devan cuek sambil memandang ke arah sungai di depannya.
"Kamu pernah gak ngrasa kalo kita tuh jauh banget dari rumah, saat ini aku ngerasa sendirian dan kangen banget sama rumah."
"Kamu kangen sama rumah atau sama Rendi?"
"Jujur dua-duanya. Kadang aku merasa pengen banget pulang, tapi di sisi lain aku harus bertahan untuk hidup di sini, meneruskan perjuanganku menempuh pendidikan. Aku gak mau semua perjuanganku ini berakhir sia-sia."
"Hem, sejujurnya aku juga sering kangen rumah, kangen sama mamaku, kangen sama semua hal yang ada di sana! Tapi aku yakin kita bisa met, kita harus berjuang meski harus jauh dari rumah karna itu sudah menjadi pilihan kita!"
Tak terasa meta meneteskan air matanya, selama ini meski mencoba tegar di depan Rendi. Tapi sebenarnya dia rapuh, ada perasaan rindu yang diam-diam dia tutupi. Saat telpon dengan Rendi pun meta masih berusaha menutupi kesedihannya.
"Met, kamu nangis?"
Devan menatap meta, mengusap air mata di pipi meta, memeluknya erat dalam dekapannya.
"Udah ya gak usah nangis lagi, aku tahu kamu pasti kangen banget sama suasana di Indonesia, kamu harus kuat dan semangat. Lagi pula ada aku di sini, aku siap kok jadi temen curhat kamu kapan pun kamu mau. Aku akan selalu nemenin kamu biar kamu gak kesepian!"
"Makasih Van, kamu udah mau jadi sahabat baikku yang selalu ada buat aku!"
Entah kenapa Devan selalu merasa perih ketika meta mengatakan kalo dia sahabat baiknya.
"Oh iya Van, kamu belum jawab pertanyaanku waktu itu!"
"Soal apa?"
"Soal kenapa kamu ke sini?"
"Aku udah bilang kan sama kamu, aku juga kuliah di sini, aku ambil jurusan sains."
"Kamu gak boong kan sama aku? Atau kamu cuma mau ngikutin aku doang!"
"Ya ampun met, aku serius, beneran aku gak boong!"
"Oke, kali ini aku percaya sama kamu! Tapi awas kalo boong!"
"Apa untungnya juga kalo aku boong sama kamu? O iya kamu laper gak? Semenjak di Jerman kayaknya makanku jadi gak teratur deh, soalnya biasanya udah ada nyiapin makanan, tapi sekarang apa-apa harus sendiri."
"Ya udah kita makan yuk, aku juga laper! Mau makan dimana?
"Di food court deket apartemen aja deh!"
"Ya udah yuk!"
Meta beranjak dari tempat duduknya, tapi justru Devan masih duduk ditempatnya dan masih menatap meta dari belakang.
"Meta, aku bakalan selalu nunggu kamu membuka hati untukku," bisik devan.
Devan menatap meta dengan kegalauannya sendiri.
"Ya ampun, ayo Van ngapain kamu masih di situ, katanya keburu laper!" teriak meta.
"Iya, iya, bawel banget sih!" kata Devan sambil beranjak dari tempat duduknya dan berlari mengejar meta.