
Keesokan harinya
Meta, Rendi, Karoline dan Risma bersiap di dalam mobil untuk pergi ke Bedugul. Rendi memang sengaja menyetir sendiri tanpa menggunakan sopir.
Meta duduk di samping meta, dari tadi tak sepatah katapun dia ucapkan pada Rendi. Sesekali Rendi memperhatikan meta yang sedari tadi tak menatapnya dan justru hanya melihat jalanan dan sesekali mengutak-atik hpnya.
Karoline dan Risma saling menatap heran melihat tingkah laku mereka berdua yang hanya terdiam padahal biasanya mereka berdua pasti bergurau atau justru asik ribut sendiri. Tapi kali ini mereka berdua seperti saling cuek satu sama lain.
"Ehem....ada apa ini? Ini mobil kok kayaknya sepi yah...padahal kita berempat Lo. Tapi kok kayak cuma ada kita berdua aja ya jeng Risma," sindir Karoline.
"Iya nih biasanya udah kayak Tom and Jerry ributnya. Kalian lagi marahan?"
"Eh nggak kok ma!" kata meta yang sedari tadi hanya diam menatap jalanan.
"Mending kita dengerin musik aja ya biar gak pada ngantuk!" jawab Rendi mengalihkan pembicaraan.
Rendi pun menyetel musik untuk mereka supaya suasana tidak sepi. Sesekali Rendi melirik meta yang dari tadi cuek dengannya. Rendi mencari cara supaya meta melihat dia, karena meta hanya membuang muka dengan memandang ke kaca dari tadi.
Sesaat Rendi mengetik pesan untuk meta saat mobil mereka berhenti di lampu merah.
^My Prince^
Kamu marah sama aku?
Meta yang melamun kaget melihat ada pesan masuk melalui WhatsAppnya. Sekilas meta hanya membacanya dan tak berniat untuk membalasnya. Meta pun kembali melihat jalanan tanpa menghiraukan pesan itu.
Rendi yang geram karena tak mendapat balasan dari meta berusaha mengirimkan pesan lagi.
^My Prince^
Kenapa sih gak di bales?
Aku minta maaf kalo ada salah.
Aku percaya kok sama kamu!
Tin tin tin
Bunyi klakson mobil-mobil yang di belakang Rendi meminta Rendi untuk melajukan mobilnya karena lampu sudah berubah menjadi lampu hijau.
Rendi langsung tersadar dan melajukan mobilnya.
"Kamu tuh Rend, kalo lagi nyetir jangan maen hp dulu dong. Jadi pada protes kan mobil belakang!" gerutu Karoline.
"Maaf ma tadi lagi WhatsApp orang yang lagi marah?"
"Siapa emangnya?" tanya Risma.
"Eh nggak kok tante, yang jelas tadi aku coba minta maaf gitu tapi orang yang marah sama aku gak mau bales!"
Karoline dan Risma seperti mengerti Rendi membicarakan siapa. Mereka saling pandang dan tersenyum melihat kelakuan anak-anak mereka yang sedang marahan.
"Berarti kamu salah banget tuh Rend, sampai dia gak mau maafin kamu!'
"Gak tahu sih ma, sebenarnya cuma salah paham aja. Tapi gak tahu lah mungkin memang Rendi yang salah!"
Meta melirik Rendi yang seolah menyindirnya dari tadi. Tapi meta tak ingin merespon omongan dari Rendi itu. Meta masih sebal dengan Rendi yang selalu cemburu dan tidak percaya dengannya.
"Meta, kenapa dari tadi kok diem aja? Kamu sakit?" tanya Karoline.
"Eh nggak kok Tante, cuma lagi pengen ngantuk aja mungkin karna semalam kurang tidur kali jadi sekarang ngantuk."
"Oh gitu, jangan malem-malem dong Rend nonton konsernya. Kasihan kan meta harusnya seneng-seneng liburan sekarang jadi ngantuk gitu!"
"Iya ma, maaf Rendi memang salah...Maaf ya met semalam pulangnya kemalaeman."
"Iya gak papa!" jawab meta tanpa memalingkan wajahnya.
Meta masih cuek, bahkan sampai di Bedugul pun meta lebih banyak diam. Sesekali dia ngobrol dengan mamanya dan Karoline.
Sesekali Rendi memfoto mereka bertiga di Pura Ulun Danu Beratan yang sangat indah.
"Boleh tuh ma!"
Rendi menyerahkan kameranya ke mamanya, dan dia menarik meta dalam dekapannya untuk berfoto.
"Senyum dong sayang biar fotonya bagus!" bisik Rendi.
Meta tak menjawab perkataan Rendi dia hanya sepintas tersenyum saat Karoline memfoto mereka.
Karoline dan Risma tahu sepertinya mereka butuh waktu berdua untuk ngobrol.
"Rendi, meta, mama sama Tante Karoline mau cari makan sebentar di sana ya! Kalian di sini dulu gak papa kan?"
"Iya gak papa Tante, nanti biar Rendi ajak jalan-jalan meta keliling sini biar gak bosen!" kata Rendi semangat.
"Bagus lah kalo gitu, mama pergi dulu ya rend,."
"Iya ma, yang lama juga gak papa kok!" kata Rendi.
"Tapi ma, aku mau ikut!"
Rendi mendekati meta yang sedari tadi mendiamkannya.
"Mau kemana sih?"
"Aku mending ikut mama sama Tante aja!"
"Gak boleh, kamu di sini aja nemenin aku!"
"Gak mau!"
Rendi tetap menggenggam tangan meta supaya dia tidak pergi.
"Aku minta maaf kalo aku ada salah sama kamu. Aku minta maaf tentang semalam. Kamu salah paham, bukannya aku mau percaya sama Dinda."
"Terus apa? Semalam kamu justru kelihatannya malah berpikir sama dengan Dinda. Padahal aku udah jelasin ke kamu kan, aku aja gak tahu kenapa Devan bisa satu kampus bahkan satu apartemen sama aku. Aku juga gak tahu kenapa Dinda bisa-bisanya bilang kalo aku sama Devan janjian buat kuliah di Jerman."
"Iya aku tahu, makanya aku minta maaf kalo sempet gak percaya sama kamu. Sebenarnya aku cuma cemburu kalo kamu dekat dengan devan. Karna dia selalu aja pengen Deket sama kamu sampai-sampai dia mengejatmu sampai ke Jerman."
"Tapi jujur Rend, aku gak suka dan aku sakit kalo kamu lebih percaya omongan Dinda dibanding aku."
"Aku gak maksud gitu meta, aku tadi kan udah minta maaf. Bukannya aku mau percaya sama Dinda. Tentu aja aku lebih percaya sama kamu!"
Meta sebenarnya masih kesal dengan Rendi yang selalu cemburu berlebihan dengannya.
"Aku mesti nglakuin apa biar kamu bisa maafin aku?"
"Gak perlu! Aku cuma pengen kamu tidak kekanak-kanakan dengan cemburu berlebihan. Harusnya kamu tahu kan dengan kita mutusin buat tunangan berarti kita itu lebih berkomitmen untuk menuju ke jenjang yang lebih serius."
"Iya aku tahu, aku minta maaf. Aku memang gak bisa mengontrol kecemburuanku! Aku benar-benar minta maaf sama kamu."
Rendi memeluk meta, sedang meta pun merasa sedikit lebih baik dengan pelukan dari Rendi yang seolah mampu meluruhkan kekesalannya.
"Rend, meski kamu cemburu sama Devan karna dia selalu mendekatiku, perasaanku juga masih tetap sama ke kamu!"
"Iya, aku tahu itu. Maaf kalo aku terlalu cemburu sama kamu, karna aku cuma takut kehilangan kamu! Jadi kamu maafin aku kan?"
Meta hanya mengangguk di pelukan Rendi.
"Makasih ya kamu udah mau maafin aku."
"Aku harap kita bisa lebih dewasa dalam menyikapi hubungan kita, apalagi sekarang kita udah bertunangan!"
"Aku janji akan berusaha untuk tidak cemburuan lagi!"
Rendi melepaskan pelukannya dan mengajak meta berkeliling di area danau Beratan yang sangat indah.
Mereka menyewa sampan yang ada di situ untuk berkeliling di daerah sekitar danau yang indah sambil sesekali mengabadikan momen kebersamaan mereka.