
"Van....Devan.....! Devan....bangun!!!! Ini aku meta....buka pintunya!"
Meta mengetuk pintu sambil berteriak-teriak di depan pintu kamar devan. Waktu masih menunjukan pukul 5 pagi di Jerman.
Devan yang mendengar teriakan meta dari luar terkaget mendengar suara meta yang nampak begitu panik. Nyawanya yang belum terkumpul sepenuhnya dan mata yang masih belum terbuka sempurna Devan melompat dari tempat tidurnya berlari membukakan pintu.
"Ada apa meta? Kenapa pagi-pagi udah teriak-teriak sih?" kata Devan masih mencoba membuka matanya lebar.
Meta yang sudah mendapati Devan berada di depannya langsung berhambur memeluknya erat. Tangisnya pecah seketika, dengan sesenggukan diaenumpahkan air matanya di dada bidang Devan.
"Kamu kenapa?"
"Rendi....Van.....dia...!" kata meta terbata karena menangis sesenggukan.
"Rendi?? Kenapa dengan Rendi? Kamu mimpi buruk lagi?"
"Nggak Van, ini bukan mimpi ini kenyataan!! Aku mau balik ke Indonesia sekarang, tante Karoline telpon aku katanya rendi masuk rumah sakit!!!"
Devan melepaskan pelukannya, menatap intens meta sambil memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
"Masuk rumah sakit? Ya udah aku siap-siap dulu ya....aku anter kamu pulang ke Jakarta. Aku gak mau kamu ada apa-apa di jalan karna kamu kayak gini! Tunggu yah aku siap-siap dulu!"
Devan langsung secepat kilat membersihkan diri, memasukan beberapa baju seadanya ke tas ranselnya. Setelah dia selesai dia mengecek meta di kamarnya.
Meta duduk termenung di kamarnya, seolah pikirannya larut dalam lamunan dan tangisnya.
"Kok belum siap-siap?" tanya Devan.
Devan yang tak mendapat jawaban dari meta langsung membantunya mengemasi baju-bajunya.
"Van...apa aku bakal kehilangan rendi!?" tanya meta dengan derai air mata yang dari tadi mengalir tanpa henti.
"Gak usah mikir yang macem-macem! Yang terpenting kita pastiin dulu kondisi Rendi sekarang. Kamu udah siap?"
Meta mengangguk, pandangannya kosong seperti orang linglung. Devan yang melihat meta seperti itu langsung menuntunnya keluar kamar.
"Ayo kita berangkat!"
Devan menuntun meta menuju taxi yang sudah dia pesan tadi.
Sepanjang perjalanan meta hanya terdiam, air matanya terus mengalir.
"Rendi pasti baik-baik aja! Please kamu jangan sedih kayak gini dong! Aku gak bisa kalo lihat kamu nangis terus kayak gini!' kata Devan sambil menghapus air mata meta.
Devan benar-benar tidak bisa melihat meta yang nampak begitu sedih, hatinya ikut hancur kala melihat meta yang sedih seperti itu.
Tak butuh waktu lama Devan langsung ke reservasi tiket, meski dia juga tak yakin bisa membeli tiket secara mendadak seperti ini. Namun beruntung karena dia tiba di bandara pagi hari dia bisa mengikuti penerbangan selanjutnya.
Perjalanan hampir 8 jam mereka tempuh, meta pun lebih banyak terdiam dengan tatapan kosong selama di perjalanan. Pikirannya sudah campur aduk, Devan pun berusaha memahami meta dengan menenangkannya.
Sesampainya Singapura Devan langsung menelpon nomor Rendi, namun tak ada jawaban.
"Biar aku yang telpon Tante Karoline!" kata meta.
"Okey! Coba kamu tanya dia di rawat di rumah sakit mana?"
Meta langsung mencoba menelpon Tante Karoline.
"Halo Tante Karoline!"
"Iya sayang...meta....gimana...??" jawab Tante Karoline yang nampak jelas dari suaranya terdengar parau, mungkin karena dia sedang menahan tangisnya.
"Tante, sekarang meta ada di bandara Singapura! Sekarang Rendi di rawat di rumah sakit mana Tante? Gimana dengan kondisi Rendi sekarang? Meta bener-bener khawatir banget sama Rendi Tante?" kata meta sambil berurai air mata.
"Kamu sudah ada di Singapura?Rendi sekarang lagi dalam ruang perawatan meta. Kalo gitu kalian tunggu di situ, biar nanti dijemput supir Tante buat menuju ke sini biar kalian bisa langsung menuju rumah sakit!"
"Ruang perawatan? Tapi Rendi baik-baik aja kan Tante?"
"Nanti Tante ceritakan kalo meta udah sampai di sini. Kamu tunggu sopir Tante ke situ jemput kamu yah!"
"Ya udah kamu hati-hati ya, Tante tunggu!"
Tut Tut Tut sambungan telepon terputus.
"Gimana?" tanya Devan.
"Kita di suruh nunggu jputan sopirnya Tante karoline!"
"Ya udah kita tunggu di depan aja, tapi sebaiknya kita beli makanan dulu! Dari tadi kamu belum makan kan?"
"Tapi aku gak laper Van!" tolak meta.
"Tapi kalo kamu gakakan nanti kamu ikut sakit! Ya udah kamu tunggu di depan, biar aku beli makan sebentar!"
Tanpa melihat persetujuan dari meta, Devan langsung mencari makanan di food court bandara.
Setelah membeli makanan Devan langsung ke depan bandara mencari keberadaan meta. Nampak meta duduk di ruang tunggu bandara, dari kejauhan devan melihatnya termenung.
"Jangan kebanyakan ngelamun!" sapa Devan yang sudah membawa sejumlah makanan.
"Ayo makan dulu! Atau mau aku suapin biar kamu mau makan?"
"Gak usah Van, biar aku makan sendiri aja!'
"Gitu dong, kamu harus makan meski cuma sedikit. Perut kamu harus diisi!"
Meta menyuap beberapa suap makanan ke mulutnya, rasnay memang dia sedang tidak nafsu untuk makan saat ini.
"Habisin dong!" kata Devan melihat meta yang hanya memakan beberapa suap makanannya.
"Aku udah kenyang Van!"
Devan mendengus kesal dengan meta yang keras kepala. Rasanya semua ucapannya terbantahkan oleh meta.
"Selamat malam!" sapa seorang laki-laki yang menghampiri mereka berdua.
"Malam!" jawab Devan yang masih mengunyah makanannya.
"Saya sopir Bu karoline, saya mau menjemput mbak meta!"
"Oh iya, saya pak, mari kita berangkat sekarang pak!" kata meta langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Eh tunggu met!!!"
Devan yang masih mengunyah makanan langsung membereskan makanannya dan langsung menenteng tas ranselnya mengikuti meta dari belakang.
Mereka berdua langsung diantar menuju ke rumah sakit tempat Rendi di rawat.
Hampir satu jam perjalanan dari bandara mereka lewati. Meta melihat pemandangan icon patung Merlion yang mengingatkan kenangannya bersama dengan Rendi waktu itu. Bahkan waktu itu mereka berdua berjalan-jalan bersama sambil berfoto bersama.
Masih jelas kenangan romantis saat meta dan rendi mengunjungi garden by the bay, kala itu meta benar-benar bahagia karena baru pertama kalinya dia melihat keindahan kota Singapura. Apalagi momen itu adalah salah satu momen romantis meta dengan Rendi. Momen yang mungkin tidak pernah dia lupakan seumur hidupnya.
Sekarang meta hanya bisa melihat patung Merlion dari jauh, air mata mengalir tanpa henti kala teringat momen kebersamaan itu.
Tanpa berkata apapun Devan yang duduk di samping meta hanya bisa mengelus pundak meta yang nampak sesenggukan dengan tangisnya. Devan tahu kalo saat ini meta hanya butuh support moril darinya.
Beberapa menit kemudian mereka tiba di halaman rumah sakit. Buru-buru meta mengajak sopir Tante Karoline untuk mengajak ke ruangan dimana Rendi dirawat.
Mereka langsung diantar menaiki lift menuju lantai 8 rumah sakit itu. Hati meta terasa berdegup semakin kencang, rasanya dia tak sanggup melihat sesuatu terjadi dengan Rendi. Langkahnya semakin gemetar kala dia diantar dalam suatu ruang perawatan bernomor 813.
Jantungnya semakin berdegup kala supir itu membukakan pintu ruangan itu. Terlihat Tante Karoline duduk di samping Rendi dengan memegang tangan Rendi.
Langkah meta semakin gontai, rasanya sekujur badannya lemas melihat Rendi terbaring lemas di tempat tidur.
^^^Hai teman jangan lupa like dan vote yah!!!! Jangan lupa juga mampir ke novel baruku yah!!! Judulnya KONTRAK CINTA SUPERSTAR ^^^