TERJEBAK CINTA META

TERJEBAK CINTA META
Takut Kehilangan


Devan berjalan mencari udara malam, udara malam yang justru terasa sesak baginya. Sesaat Devan menuju lobi rumah sakit untuk mencari beberapa makanan di luar untuk meta. Pandangannya tiba-tiba tertuju pada satu sosok yang sepertinya dia kenal.


Devan menghampiri sosok perempuan yang berdiri di depan resepsionis rumah sakit. Devan langsung menghampiri perempuan yang nampak dia kenal itu.


"Tante Dina? Tante sedang apa di sini?" sapa Devan.


"Eh...nak Devan yah!! Hallo apa kabar?Gak nyangka bisa ketemu kamu di sini!" sapa Tante Dina.


"Iya nih kebetulan banget bisa ketemu di sini!"


Dari sorot mata Dina terlihat ada kegelisahan sekaligus kesedihan yang tak bisa di sembunyikan. Tante Dina nampak murung dengan raut wajah yang tak seperti biasanya.


"Tante kenapa? Gimana keadaan Ardian sekarang?'


"Ardian....Ardian sedang ada di ruang ICU Devan! Kondisinya kritis, Tante gak tahu harus berbuat apa?"


"Apa? Ardian di ICU? Boleh kita ke sana Tante, aku pengen lihat dia?"


Dina mengangguk perlahan, mengantarkan Devan ke ruang ICU dimana Ardian di rawat. Devan melihat Ardian terbaring lemah dengan alat bantu pernafasan yang terpasang. Devan hanya melihat Ardian dari kaca pintu luar ruangan itu.


"Ardian kritis beberapa hari ini, dokter bilang kalo hidupnya gak akan lama lagi!"


"Tante yang sabar yah, Devan bener-bener gak nyangka bisa kejadian seperti ini. Devan pikir waktu itu Tante dan Ardian sudah melakukan perawatan dan aku pikir Ardian sudah lebih baik, tapi ternyata.....!!"


"Waktu dulu nak Rendi bilang rumah sakit ini adalah rekomendasi terbaik untuk menangani penyakit Ardian Tante langsung diantar sama nak Rendi ke sini. Tapi sayang karena mungkin Ardian telat menjalani pengobatan untuk penyakitnya, makanya Tante hanya bisa pasrah dengan semua ini!"


Tangis Dina pecah mengingat kondisi Ardian saat ini, Devan pun hanya bisa menangkan Tante Dina dengan memeluknya.


"Terimakasihrimakasih ya nak Devan atas support buat Ardian. Dan tante mohon doanya untuk kesembuhan Ardian!"


"Pasti Tante, pasti saya akan selalu berdoa untuk kesembuhan Ardian!"


"Oh iya, nak Devan kebetulan tadi ada di sini, kalo boleh tahu ada yang sakit atau nak Devan ada keperluan apa di rumah sakit?"


"Saya ke sini jenguk Rendi Tante!"


"Nak Rendi? ada apa dengan Rendi?"


"Rendi di rawat di sini Tante!"


"Di rawat di sini, ya ampun dia sakit apa? Atau jangan-jangan ini masih ada kaitannya dengan penyakit leukiminya yang dulu?"


"Kok Tante bisa tahu kalo Rendi punya penyakit leukimia?" tanya Devan heran.


"Awalnya Tante tahu dari Ardian, dan waktu itu Rendi juga cerita ke Tante tentang penyakitnya. Tapi akhir-akhir ini kita tidak pernah bertemu, karena setahu Tante Rendi masih sibuk dengan proyek barunya!'


"Ow gitu, bukannya proyek baru Rendi itu adalah kerja sama dengan perusahaan Tante? Jadi selama ini Tante jarang ketemu sama Rendi?"


"Rendi harus dirawat intensif bahkan harus menjalani beberapa kemoterapi karena saat ini penyakit leukimianya sudah stadium 4. Dan mungkin dengan kemoterapi itu menjadi salah satu jalan untuk kesembuhannya. Sebenarnya ada satu cara lagi untuk bisa menyembuhkan Rendi, yakni melalui donor sum-sum tulang. Tapi untuk mencari pendonor sum-sum tulang sangatlah sulit bahkan hampir tidak mungkin!" terang Devan.


"Tante benar-benar gak nyangka kondisi Rendi sekarang seperti itu, Tante benar-benar turut prihatin. Rendi adalah orang yang baik, Tante harap Rendi bisa segera pulih dari sakitnya!"


"Amin!!"


"Terus bagaimana dengan meta? Apa dia tahu kalo Rendi sakit?"


"Meta sekarang sudah ada di ruang perawatan Rendi, tapi dia belum tahu kalo Rendi sudah divonis stadium 4! Tante Karoline belum siap memberi tahu ini pada meta, tapi aku pikir pasti cepat atau lambat meta pasti akan tahu semuanya karna dia pasti paham soal penyakit ini!"


Ketika mereka bicara nampak dari kejauhan ada seseorang dibawa menuju ruang ICU dengan tergesa-gesa. Sedang di sampingnya ada seorang wanita yang menangis mengikuti di belakang dokter dan perawat yang membawa pasien ke dalam ruang ICU di sebelah ruangan Ardian.


"Meta!! Ada apa dengan Rendi??"


Betapa terkejutnya Devan ketika dia sedang berbicara dengan dina, dia melihat ternyata pasien yang dibawa ke ruang ICU itu adalah Rendi. Bahkan Devan melihat meta yang sudah menangis tersedu-sedu melihat kondisi Rendi.


"Aku mau ikut masuk!!"


Meta mencoba merangsek ingin mengikuti perawat dan dokter itu, meta ingin benar-benar ikut memastikan kondisi Rendi saat ini.


Meta meronta-ronta supaya dibiarkan memasuki ruang ICU namun dilarang oleh perawat itu. Meta semakin menangis tersedu dan spontan Devan hanya bisa memeluk meta untuk menenangkannya.


"Van, bilang sama dokternya aku pengen masuk! Aku juga calon dokter, aku harus tahu gimana kondisi Rendi sekarang!" teriak meta histeris.


"Sabar yah meta, dokter pasti melakukan yang terbaik untuk Rendi. Kita sabar aja tunggu di sini!!" kata Dina yang juga ikut menenangkan.


"Iya aku tahu kamu pasti khawatir sama Rendi, aku juga tahu kamu pasti pengen mastiin keadaannya. Aku juga tahu banget kalo kamu pasti juga tahu prosedural perawatan pasien, tapi met di rumah sakit ini mereka punya peraturan dan prosedur mereka sendiri. Tenang yah, ku tahu kan dokter di sini adalah dokter terbaik di sini. Jadi percaya deh, pasti mereka akan melakukan yang terbaik untuk Rendi!!"


Devan masih memeluk meta yang masih menangis sesenggukan di dalam pelukannya. Devan mengerti betul bagaimana perasaan meta saat ini. Tapi Devan tak bisa berbuat banyak, dia hanya bisa mencoba menenangkan meta sambil berdoa yang terbaik untuk Rendi.


Setelah meta agak tenang, Devan mengajak meta duduk. Dina berpamitan dengan mereka berdua karena dipanggil dokter yang akan melakukan. pemeriksaan pada Ardian.


Semua seperti mimpi buruk bagi meta, dia tak bisa menahan air matanya yang terus mengalir.


"Aku gak mau kehilangan Rendi, aku sayang banget sama dia Van!! Harusnya aku ada di samping dia terus buat menjaganya, tapi kenyataannya aku gak bisa!!"


"Udah met, kamu gak usah nyalahin diri kamu sendiri, sekarang yang Rendi butuh dari kamu adalah dukungan. Rendi juga pasti bakal tambah sedih kalo lihat kamu kayak gini!!"


"Aku belum siap untuk kehilangan Rendi, aku gak tahu apa yang bisa aku perbuat supaya Rendi bisa sembuh!!" kata meta yang sudah kalut.


"Meta, gak akan ada orang yang siap ketika kehilangan orang yang di sayangi, yang terpenting sekarang adalah kita bantu Rendi dengan


doa supaya diberikan yang terbaik"


Devan hanya bisa memeluk erat meta yang sudah kalut meski Devan yakin dengan kekacauan meta saat ini memang bukan suatu hal mudah bagi meta menerima keadaan seperti ini.