
Taman bunga yang di sebelahnya nampak air terjun dengan diiringi derasnya air sungai yang mengalir deras. Meta menggenggam tangan Rendi seraya menikmati keindahan bunga yang berwarna-warni. Saat itu dia merasakan keindahan pemandangan sekaligus kesenangan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
"Sayang bunganya bagus banget yah!"
"Iya bagus banget! Aku pengen deh suatu saat nanti kalau kita udah menikah, kita tinggal di rumah yang dipenuhi dengan bunga-bunga yang berwarna-warni seperti ini!" kata meta sambil menghirup mawar putih yang semerbak mewangi.
Meta menundukkan badannya, melihat bunga-bunga itu lebih dekat, sambil sesekali menghirup wangi bunga.
Meta mengamati bunga-bunga yang bermekaran dengan indahnya, baunya yang semerbak di beberapa bunga membuatnya terasa damai dan tak ingin meninggalkan tempat itu.
Rendi melihat senyum meta seolah menambah kecantikan alami yang selalu terpancar di wajahnya. Rasanya selalu ada kedamaian kala dia bisa menatap wajah meta apalagi melihatnya tersenyum bahagia.
"Nanti aku buatkan rumah dengan taman bunga yang berwarna-warni. Kalau kamu nanti pengen punya anak berapa?" tanya Rendi.
"2 cukup!"
"Masak cuma 2, kenapa gak 3 atau 4?"
"Hah...kebanyakan tau sayang!"
"Yah gak papa kan biar keluarga kecil kita itu ramai....biar mereka gak kesepian kayak kita yang jadi anak tunggal!"
"Bener juga sih, dari kecil kadang aku merasa kesepian kalau di rumah sendirian!"
"Aku pengen nemenin kamu sampai kapan pun, selamanya, membesarkan anak kita bersama-sama. Tapi....."
Tiba-tiba Rendi menunduk lesu, mencoba menahan kesedihannya yang seolah dia tak ingin meta mengetahui.
"Rend....kamu kenapa? Kok kayak sedih gitu?"
"Nggak, aku cuma kepikiran tentang sesuatu aja!"
"Kepikiran apa sih?"
"Aku cuma takut aja, takut kalau aku gak bisa menikah sama kamu! Takut kalau aku gak bisa melihat senyum kamu lagi!"
"Kok tiba-tiba kamu kayak gitu sih?"
"Meta...tolong jawab pertanyaanku dengan jujur....kalau suatu saat nanti aku gak ada di samping kamu...apa kamu akan mencari penggantiku?"
"Kamu ngomong apa sih, memangnya kamu mau pergi kemana? Aku gak mau kamu ngomong kayak gitu!" kata meta sambil menggenggam tangan Rendi.
"Maaf sayang, maaf kalau aku gak bisa selamanya ada di samping kamu. Maaf kalau aku hanya laki-laki lemah yang penyakitan. Maaf kalau aku gak bisa jagain kamu, maaf juga kalau aku gak bisa ngebahagiain kamu!"
"Cukup Rend, gak usah diterusin lagi! Kamu kenapa sih ngomongnya ngelantur gitu? Aku gak mau pisah sama kamu, aku pengen kita bisa bahagia! Aku minta maaf karna aku harus jauh sama kamu. Aku minta maaf karna aku egois, dan karna keegoisanku itu aku menuruti kemauanku sendiri untuk mengejar impianku sendiri!"
Meta memeluk Rendi erat, menumpahkan segala beban di hatinya sampai tak terasa air mata mengalir deras di pelupuk matanya.
"Nggak, kamu gak egois, memang kamu harus mengejar cita-cita kamu! Hanya saja aku yang lemah dan tak bisa menjagamu! Maaf meta aku harus pergi!"
Rendi pun berusaha melepaskan pelukan meta.
"Rend...kamu kenapa sih tiba-tiba kayak gini! Aku ada salah sama kamu, kalau aku ada salah aku minta maaf!" kata meta menarik tangan Rendi yang hampir pergi.
"Nggak, aku yang salah. Maaf aku harus pergi....!" jawab Rendi sambil melepaskan tangan meta.
Rendi pergi menjauh dari meta, berlari meninggalkan meta di situ.
Meta yang berusaha mengejar Rendi pun tak kuasa menahan tangisnya yang semakin deras.
Meta melihat Rendi berlari ke arah sungai di bawah air terjun. Sungai yang di bawahnya mengalir arus air yang deras. Entah apa yang ada di pikiran Rendi saat itu, meta melihat Rendi melompat ke dalam sungai yang deras itu.
"Rendi.....Rendi....jangan....!!!!"
Meta berteriak sekencang-kencangnya, mencoba menahan Rendi namun sia-sia.
Tak terasa keringat dingin mengucur di badan meta, meta terbangun dari tidurnya dengan nafas terengah-engah. Seolah mimpi itu nyata, rasanya benar-benar mengerikan.
"Untung semuanya cuma mimpi!"
Rasanya seusai mimpi tadi badannya basah karena keringat dingin. Mimpi meta kali ini benar-benar mengerikan. Meta melihat jam weker di samping tempat tidurnya, waktu menunjukan pukul 5 pagi waktu Jerman.
"Hp, hpku mana yah? Aku harus segera telpon Rendi, perasaanku tiba-tiba jadi gak enak karna mimpi tadi!"
Meta beranjak dari tempat tidurnya dan meraih hpnya di meja, mencoba menelpon Rendi beberapa kali namun tak diangkat.
Meta semakin panik, tak biasa-biasanya Rendi mengabaikan telponnya.
"Kok gak diangkat sih? Apa dia lagi meeting? Huft....perasaanku jadi tambah gak enak, semoga kamu baik-baik aja Rend!"
"Ayo angkat dong Rend!" kata meta sambil terus mencoba menelpon Rendi.
Beberapa kali dia coba masih belum ada jawaban, sampai akhirnya dia memutuskan untuk menunggu beberapa menit, mencoba berpositif thinking siapa tahu Rendi masih sibuk kuliah atau bekerja.
Dret dret dret hp meta berbunyi, spontan dia langsung mengangkat telpon dari Rendi.
"Hai Rend....kamu lagi apa? Kok teleponku dari tadi gak di angkat sih? Kamu gak papa kan?"
"Hei hei....kamu kenapa sayang, kok kayak panik gitu sih? Coba deh tarik napas dulu biar agak sedikit tenang?"
"Dari tadi kok gak di angkat teleponku?Kamu lagi apa?"
Rendi bingung kenapa meta tiba-tiba menelponnya dengan ekspresi panik seperti itu.
"Maaf sayang, tadi aku lagi meeting sama Tante Dina, kamu masih inget kan aku ada proyek besar dengan dia? Tadi aku janjian makan siang dengan dia, aku gak enak kalau harus mengangkat telpon kamu, maaf yah! Lagian ada apa sih kamu sampe panik kayak gitu?'
"Oh kamu lagi meeting yah, maaf kalo tadi ganggu kamu. Tiba-tiba aja perasaanku gak enak, dan aku khawatir sama kamu!"
"Tapi aku gak papa kok sayang, aku baik-baik aja, kamu jangan khawatir yah!"
"Syukurlah kalo gitu, Rend.....tadi aku mimpi buruk....bukan hanya buruk tapi lebih tepatnya mimpi mengerikan!!"
"Memang kamu mimpi apa sih sayang sampai kamu ketakutan gitu?"
"Aku mimpi kamu ninggalin aku dan terjun ke sungai, aku berusaha menahan kamu tapi kamu kekeh mau ninggalin aku dan memilih terjun ke sungai. Rasanya mimpi itu benar-benar nyata, kamu bilang ke aku kalo kamu gak bisa nemenin dan jagain aku selamanya, terus entah kenapa kamu pergi ninggalin aku gitu aja dan terjun ke sungai. Hikssss!!"
Meta menangis tersedu mengingat mimpinya tadi, seolah dia benar-benar takut kehilangan Rendi.
"Aku takut Rend, aku takut kehilangan kamu...!"
"Iya sayang aku tahu mimpi itu mengerikan, tapi yang terpenting sekarang aku baik-baik aja kok. Jadi kamu gak perlu khawatir lagi yah!!"
"Tapi Rend, mimpi itu benar-benar kayak nyata banget! Aku berharap mimpi buruk itu gak pernah terjadi, Rend kamu mau kan janji sama aku, janji gak bakal ninggalin aku!"
"Aku janji sayang, aku janji gak akan pernah ninggalin kamu!"
^^^Ayo dong vote dan like....biar authornya tambah semangat lanjutin ceritanya!!!!😆😆^^^