
Sepanjang jalan menuju rumah Rendi meta hanya terdiam dengan berbagai pikiran yang berkecamuk. Metahanya memandang ke arah jalan dengan tatapan kosong dan keinginannya sekarang adalah ingin segera bertemu Rendi untuk menjelaskan semuanya.
Sesekali Devan memperhatikan meta yang menyilangkan tangannya seolah sedang kedinginan.
"Met, kamu ganti baju dulu deh, kayaknya kamu kedinginan! Di bagasi aku ada kaos punyaku, kalo mau kamu bisa pakai," kata Devan mencoba mengajak bicara meta yang sedari tadi hanya diam membisu.
"Gak usah Van, aku gak papa kok, biar nanti aja aku gantinya!" kata meta berbohong, padahal sejujurnya tubuhnya mulai menggigil kedinginan.
"Kalo kamu gak mau pakai bajuku mending kita mampir dulu ke toko baju. Kamu bisa masuk angin dengan baju yang basah kuyub kayak gitu", bujuk Devan.
"Hachimmmm."
"Tuh kan kamu mulai bersin-bersin, aku ambilin baju aku ya sebentar."
"Gak usah Van, aku baik-baik aja!"
Devan menepikan mobilnya dan langsung mengambil kaos di bagasinya. Baju itu memang sengaja dia taruh di situ sebelum berangkat reuni tadi, karena sebenarnya dia sudah tak nyaman dengan seragam yang dijadikan dress code reuni itu.
"Ini cepat pakai, kebetulan aku juga bawa jaket Hoodie tadi."
Devan memberikan kaos dan hoodienya untuk meta lewat jendela mobil.
"Kamu ganti aja dulu di dalem, aku tunggu di luar sini. Tenang aja aku gak bakal ngintip ko!"
"Ya udah aku ganti dulu, kamu tunggu di luar. Awas kalo kamu ngintip, nanti aku jitak kepalamu!"
"Ya elah sapa juga yang mau ngintip, udah buruan sana ganti bajumu ntar keburu masuk angin!"
Sesaat suasana yang tadinya tegang sedikit mencair karena Omelan meta pada Devan.
Devan menunggu di luar mobil dengan bersandar di bagasi belakang sambil mengutak-atik handphonenya. Membuka media sosialnya, Devan menemukan beberapa rekaman video tentang keributan tadi saat di reuni sekolah.
"Shittt!! Bener-bener ya tuh si dinda! Ngapain dia posting video gak penting kayak gini, sampah tahu gak!" umpat Devan sendiri.
Bahkan Devan semakin geram dengan berbagai komentar-komentar yang menyebalkan tentang dirinya. Meski lebih tepatnya komentar itu justru banjir belas kasihan karena cintanya yang tak terbalas.
"Gue gak perlu dikasihani! Gue mesti buat perhitungan sama Lo Dinda. Awas aja, Lo udah berani maen-maen dan mempermalukan gue kayak gini. Yang lebih parah meta juga jadi korban karena ulah Lo. Tunggu aja pembalasan dari gue!" ancam Devan.
Devan masih mengutak-atik handphonenya sampai tak sadar meta sudah selesai ganti baju dan berdiri di sebelahnya.
"Woiii! Aku panggil dari tadi juga malah gak nyaut!"
"Sorry, tadi lagi fokus liat medsos!"
"Pasti si Dinda udah posting tentang kejadian tadi kan?"
"Kok bisa tahu!"
"Kamu kayak gak kenal dia aja! Dia itu kan cewek ular, yang bisa melakukan berbagai macam cara untuk menjatuhkan musuhnya. Dan musuhnya itu adalah aku!"
"Kamu gak usah ambil pusing sama dia, ya udah sekarang aku anter kamu ke tempat Rendi!"
"Ya udah ayok!"
Sebenarnya Devan berat untuk melakukan hal ini, karena meski dia bermaksud baik dengan mengantarkan meta ke tempat Rendi tapi sebenarnya hatinya terasa sakit. Tapi bagi Devan sekarang yang lebih terpenting adalah kebahagian orang yang paling dia cintai, meski kebahagian itu bukan bersamanya.
Devan dan meta melanjutkan perjalanan menuju rumah Rendi. Sesampainya di rumah Rendi meta langsung memencet bel rumah Rendi. Nampak dari luar rumah Rendi terlihat sepi, bahkan tak ada mobil Rendi di parkiran rumahnya.
Meta masih mencoba memencet bel rumah Rendi lagi namun belum ada jawaban dari dalam sana. Meta mencoba menelpon Rendi, namun handphonenya tidak aktif.
Terlihat pembantu rumah Rendi muncul dari dalam rumah.
"Eh bi, rendinya ada bi! Meta pengen ketemu sebentar!"
"Den rendinya dari tadi sore keluar sampai sekarang belum pulang!"
"Oh belum pulang ya bi," kata meta lesu karna sekarang dia tak tahu harus mencari rendi kemana lagi.
Devan yang sedari tadi hanya menunggu dari dalam mobil langsung menghampiri meta yang nampak kebingungan.
"Gimana met, ada rendinya?" tanya Devan.
"Katanya belum pulang, huft.....aku gak tahu mesti nyari dia kemana lagi? Aku telpon juga gak diangkat, pasti dia benar-benar marah sama aku!"
"Kamu tenang dulu, nanti aku bantu cari dia," kata Devan menenangkan meta.
"Kalo gitu kita permisi dulu ya bi, nanti kalo Rendi pulang tolong bilang ke dia kalo aku nyariin!"
"Oh iya non nanti saya sampaikan ke den Rendi kalo non meta ke sini!"
"Makasih ya bi! Kita permisi dulu!"
Meta dan Devan pun masuk ke dalam mobil, sesekali meta masih mencoba menghubungi Rendi namun handphonenya justru masih tidak aktif.
"Gimana met, kita mau pulang atau mencari Rendi lagi?"
"Jujur aku gak tahu mesti nyari rendi kemana!"
"Kalo saranku sih met, karna ini udah malem sebaiknya aku anter pulang aja! Mungkin Rendi butuh waktu untuk sendiri dulu!"
"Tapi Van aku mesti jelasin semuanya ke Rendi, aku gak mau dia salah paham kayak gini!"
"Kalo memang Rendi itu sayang dan cinta sama kamu, pasti dia akan percaya sama kamu tanpa kamu harus menjelaskan semuanya!"
"Maksud kamu ngomong kayak gitu apa?"
"Yah gak maksud apa-apa sih, kalo menurutku seseorang yang punya hubungan apalagi sudah bertunangan harusnya hubungan itu udah serius dan lebih berkomitmen. Harusnya hal-hal sepele seperti ini gak penting untuk diributkan!"
"Enteng banget kamu ngomongnya, kayak kamu udah pernah ngerasain punya pacar aja!"
"Jangan salah gini-gini aku kan juga udah sering gonta-ganti pacar kali, kamu aja yang gak tahu!"
"Eleh, kapan kamu pernah punya pacar, kok aku gak pernah tahu??"
"Kamu aja yang terlalu ngremehin aku!"
"Ish...kok kita malah jadi ribut gak jelas kayak gini sih!"
"Lah kamunya sendiri yang ngajakin ribut, sekarang mending aku anter kamu pulang, yah seperti saran aku tadi, kalo memang Rendi itu bener-bener cinta dan dia itu dewasa, gak bakal cuma karna hal sepele kaya gini dia marah sama kamu!"
"Apa? Sepele kamu bilang? Bagiku ini bukan hal sepele Devan!!"
"Yang jelas kalo memang bener-bener Rendi sayang dan cinta sama kamu pasti dia akan lebih percaya pada kamu dibanding orang lain. Apalagi orang yang jelas-jelas ingin menjatuhkan kamu!"
Mendengar ucapan Devan meta jadi tersadar, harusnya Rendi memang harus berpikir dewasa. Dan harusnya Rendi bisa percaya padanya, meta tahu Rendi memang tipe laki-laki pencemburu. Namun apakah pertunangan mereka itu tidak cukup membuktikan betapa seriusnya perasaan mereka berdua.
"Ya udah kalo gitu, antar aku ke rumah! Aku gak mau debat sama kamu lagi. Bukannya dapet solusi aku malah makin pusing!"
"Ya udah aku anter kamu ke rumah, aku juga cuma kasih saran aja, diterima syukur nggak juga gak papa kok!" jawab Devan cuek.
Devan melajukan mobilnya dan mengantar meta ke rumahnya.