
Rendi menutup telpon dari meta, sejenak memandang sekeliling tempat dia duduk. Siang ini suasana cafe begitu ramai. Rendi teringat bagaimana paniknya meta tadi yang bermimpi buruk tentangnya.
""Apa itu sebuah firasat atau memang hanya sebatas bunga tidur?" gumam Rendi sendiri.
Yang jelas saat ini Rendi hanya ingin berkonsentrasi untuk persiapan proyek perusahaan barunya di Indonesia sambil menyelesaikan kuliahnya.
"Mas Rendi!" sapa pak Alex yang dari tadi di depan Rendi.
"Mas....mas Rendi! Kok malah ngelamun?" kata pak Alex mengulangi karena tak mendapat jawaban dari Rendi.
"Eh maaf pak, jadi nyuekin pak Alex!"
"Dari tadi saya perhatiin mas Rendi melamun setelah terima telpon dari mbak meta!"
"Hem...gak tahu kenapa tiba-tiba meta telpon aku, dia panik karena mimpi buruknya! Entah kenapa aku juga jadi kepikiran, apa ini sebuah pertanda ya pak?"
"Maksud mas Rendi pertanda apa?"
"Pertanda kalau umurku gak lama lagi!"
"Kok mas Rendi ngomong kayak gitu! Kita gak boleh mendahului takdir Tuhan mas!"
"Aku gak tahu pak, rasanya itu semacam firasat saja!"
"Mas Rendi, semua yang hidup pasti akan mati, hanya saja kapan waktu kita mati itu rahasia Tuhan. Yang terpenting dalam hidup ini kita bisa mengisi waktu kita sebaik-baiknya, bisa bersama dengan orang yang kita sayang, membahagiakan mereka, bermanfaat bagi orang-orang di sekitar kita!"
"Pak Alex benar, aku bakal ingat semua kata-kata pak Alex! Oh iya pak, habis ini aku gak bisa ke kantor, nanti jam 3 aku ada kuliah. Jadi aku mau langsung ke kampus ya pak!"
"Iya mas, mas Rendi bawa baju ganti?"
"Ada, udah di siapin di mobil tadi! Kalo gitu aku berangkat ke kampus dulu ya pak!"
"Baik mas Rendi, hati-hati di jalan!"
"Iya makasih pak Alex, nanti kalau mama nyariin aku bilang saja aku ke kampus, mungkin sampai malam!"
"Baik mas!"
Rendi berlalu meninggalkan tempat itu, melajukan mobilnya ke kampusnya.
Beberapa menit kemudian Rendi sampai di parkiran kampus. Rendi mengganti pakaian jasnya dengan setelan kemeja biasa yang terlihat lebih casual dipadukan celana jeansnya. Mengganti sepatu pantofelnya dengan sepatu sporti berwarna putih.
Rendi berkaca membenarkan rambut spike yang selalu menjadi gaya rambut andalannya. Setelah semua persiapan kecilnya itu, dia melangkahkan kaki menuju ruang kelasnya.
Rendi yang bergaya casual dengan tas punggung yang hanya satu tali yang melingkar di bahunya seolah menambah ketampanan seorang Rendi yang selalu terlihat cool di mata gadis-gadis di kampusnya.
Mungkin Rendi menyadari kalau dia melintas banyak gadis-gadis kampus yang berbisik-bisik satu sama lain karena melihat ketampanannya. Namun Rendi tak menggubris itu bahkan ketika ada salah satu mahasiswi yang terang-terangan menyapa dan mendekatinya dia hanya bersikap dingin menanggapinya.
Dari dinginnya sikap Rendi itu justru semakin membuat para mahasiswi itu penasaran dengannya.
"Hai Rendi?" sapa seorang mahasiswi saat Rendi melintas di depannya.
Spontan geng cewek-cewek itu langsung heboh melihat senyum Rendi yang selalu terlihat cool dan tampan.
"Hai kak Rendi!"
Sapaan yang sukses menghentikan langkahnya dan membuat dia melihat ke sumber suara itu. Geng Mahasiswi yang tadi heboh mendadak terdiam melihat sesosok cewek yang terlihat menyapa Rendi seolah sok akrab dengan Rendi.
"Kak Rendi, ini aku Anisa! Ica kak!"
Rendi menatap Anisa dengan tatapan bingung kenapa dia bisa berada di kampusnya.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Rendi bingung.
"Aku sekarang kuliah di sini kak! Aku sekarang jadi adik angkatanmu, jadi kita bisa sering-sering ketemu lagi kayak dulu waktu SMA!" kata Anisa penuh percaya diri.
Kata-kata yang membuat para geng mahasiswi langsung melotot satu sama lain. Seolah itu sambil bertanya-tanya siapa cewek yang tiba-tiba datang dan sok akrab dengan Rendi. Pasalnya selama ini Rendi yang sangat cool tak pernah terlihat menggandeng cewek di kampus, dan itulah salah satu penyebab mahasiswi-mahasiwi di sini seolah mendapat harapan bisa mendapatkan hati Rendi.
"Apa? Satu jurusan? Kok bisa?" tanya Rendi heran.
"Yah bisalah, Ica gitu loh, lagian apa sih yang nggak buat kak Rendi. Semenjak Ica tahu kak Rendi kuliah di Singapura, Ica langsung cari tahu semua informasi tentang kampus kak Rendi, dan setelah lulus Ica daftar di sini! Dan akhirnya aku bisa jadi adik angkatan kakak lagi!"
"Kurang kerjaan banget sih lo tuh, ngapain juga ngikutin gue! Gue udah bilang kan, jangan ganggu gue lagi, apalagi di sini, gue mau fokus buat kuliah, gueau cepet lulus supaya gue bisa cepat nikah sama meta!" jawab Rendi lugas.
"Kak Rendi kok gitu sih, aku kan cuma pengen ketemu kak rendi tiap hari. Itu aja udah cukup buat aku!" kata Dinda sok manja di depan Rendi.
"Udah deh ca, gak usah sok manja di depan gue. Tolong yah, gue bener-bener minta sama Lo, jangan ganggu gue lagi! Gue mau masuk kelas, gue gak ada waktu untuk ngadenin Lo!" kata Rendi dingin.
Rendi berlalu meninggalkan Anisa, namun langkahnya terhenti ketika tiba-tiba Anisa mengejarnya dan memeluknya dari belakang.
"Apa-apaan sih ca! Lepasin gak!" hardik Rendi.
Perlakuan Anisa itu membuat geng mahasiswi yang dari tadi mengamati gerak-gerik mereka berdua langsung heboh dan seolah ikut tak terima Ica memeluk Rendi.
"Aku gak bakal lepasin! Aku tuh kangen banget tahu gak sama kak rendi, udah lama aku nunggu saat-saat kayak gini!" kata Ica seolah tak menggubris perkataan Rendi.
"Lepasin gak, udah gila Lo! Lo tuh gak tahu malu yah meluk gue di depan banyak orang kayak gini!" kata Rendi sambil berusaha melepaskan pelukan Anisa.
"Kok kak Rendi sekarang kasar sih sama aku?"
"Gue udah bilang kan sama Lo! Jangan pernah ganggu hidup gue, tapi kenapa sih lo selalu aja kayak gini!"
Rendi melepaskan pelukan Anisa dengan kasar, sebenarnya dia tak ingin melakukan hal-hal kasar dengan cewek, tapi kelakuan Anisa selalu membuat emosinya meledak karena sudah membuatnya malu seperti ini.
"Kak Rendi!! Kenapa sih kak Rendi gak pernah lihat aku, aku pengen kayak dulu lagi kayak waktu kita kecil!"
"Apaan sih lo ca, udah gue bilang kan. Dulu kita masih kecil, terus untuk apa Lo kayak gini ke gue! Gue memang ngehargai Lo karena kita dulu saling kenal karena rumah kita yang berdekatan, tapi gak gini juga kali ca caranya. Gue risih dengan segala perlakuan Lo. Sorry gue mau masuk kelas, dan gue harap Lo ngerti dan gue mohon jangan pernah ganggu hidup gue lagi!"
Rendi meninggalkan Anisa dan menuju ke kelasnya. Anisa hanya terdiam melihat sosok Rendi yang mulai menjauh dari pandangannya, dan dia tersadar semua orang sudah memperhatikannya dari tadi. Anisa hanya mendengus kesal melihat sikap Rendi yang selalu dingin dengannya.
^^^Teman-teman....gak bosen-bosen aku ngingetin kalian buat vote dan like novelku yah....O iya mampir juga di novel aku yang baru yah...judulnya "Kontrak cinta superstar"^^^