
Devan memperhatikan meta dengan seksama, tak ingin semua ini berlalu begitu saja.
"Van, kenapa kamu ngliatin aku kayak gitu?"
"Eh, gak kok! Met, apa bener kamu mau tunangan sama Rendi?"
"Emm, kemarin waktu di Paris Rendi menyatakan keseriusannya sama aku, dia memang pengen tunangan sama aku."
"Dan kamu bilang iya?"
"Tentu saja aku bilang iya, dari dulu aku bermimpi ada pangeran tampan yang melamar aku di kota paling romantis yaitu di Paris. Dan aku ngerasa beruntung banget, bisa mewujudkan impian aku itu," jawab meta dengan semangat.
Devan tahu betul dari ekspresi wajah meta terlihat dia sangat senang dengan rencana pertunangannya itu.
"Terus kapan kalian akan tunangan?"
"Aku belum tahu, aku juga belum bilang ke mama aku. Rendi bilang dia mau menemui mamaku secara langsung, baru kita tentuin tanggalnya."
"Ow, gitu! Terus rencanamu kapan mau pulang ke Indonesia?"
"Mungkin libur semester nanti! Aku udah kangen banget sama mama, udah kangen juga suasana di Indonesia."
"Kangen sama mama atau udah kangen sama Rendi ? Baru aja ketemu udah kangen, dasar bucin!" kata Devan menggoda meta, walau sebenarnya dalam hatinya tak rela jika meta bertemu dengan Rendi lagi.
"Devan apaan sih! Sapa yang bucin, orang beneran kangen sama mama kok."
"Heleh....!!" kata Devan menyenggol lengan meta sambil tersenyum menggoda meta.
"Devan....kamu tuh!Kumat deh nyebelinnya, kayaknya kamu udah sembuh nih, buktinya udah jail sama aku lagi!'
"Udah mendingan sih, makasih ya Bu dokter udah ngrawat aku."
"Iya, ya udah kalo gitu aku ke kamar dulu yah."
Meta hendak beranjak dari tempat tidur Devan, spontan meta berjingkat melihat kecoa yang ada di lantai kamar Devan.
"Devannnnn ada kecoa!!!" teriak meta ketakutan.
Devan yang kaget mendengar teriakan meta langsung bangun dari tempat tidurnya.
"Kamu kenapa met?" tanya Devan menghampiri meta.
Tanpa sengaja karena ketakutan meta berhambur memeluk Devan.
"Ya ampun Van, itu ada kecoa. Sumpah aku geli banget tahu gak sih!" kata meta ketakutan.
"Kirain apa cuma kecoa doang kamu takut?" jawab Devan tersenyum menyeringai.
Rasanya ingin lebih lama Devan merasakan pelukan meta seperti ini.
"Buang Van, please, aku takut banget tahu gak!"teriak meta.
"Iya, iya, ini mau aku buang, tapi lepasin dulu dong!"
Meta baru sadar kalo dari tadi dia memeluk Devan karena ketakutan.
"Cuma sama kecoa aja takut, ni aku buang!"
Devan berniat membuang kecoa itu naasnya kecoa itu justru terbang ke arah meta sebelum dibuang oleh Devan.
"Eh Van lah kenapa kecoanya malah terbang ke bajuku sih. Van tolongin dong, hush hush hush!" usir meta.
Meta benar-benar merasa ketakutan dan panik apalagi kecoa itu saat ini berada di bajunya.
"Tenang met aku ambil ya, kamu jangan gerak-gerak dulu!"
Meta berjingkat ketakutan kala kecoa itu makin mendekat ke wajahnya, sedang Devan berusaha mengambil kecoa yang ada di baju meta.
Brukkkkk
Meta menubruk Devan yang ada di depannya, mereka berdua jatuh ke lantai dengan posisi meta berada di atas Devan. Sesaat mereka berpandangan satu sama lain.
Deg
"Biar aja seperti ini terus met, jangan kamu lepasin! Aku ingin lebih lama dekat denganmu!" batin Devan.
Sesaat mereka saling berpandangan satu sama lain. Hingga saat tersadar meta langsung bangun dan berdiri.
"Gak papa met, lagian sama kecoa aja takut sih!"
"Haduh Van, aku tuh paling anti yang namanya kecoa! Lagian bisa-bisanya di kamarmu ada kecoa. Kamu gak pernah bersihin kamar yah?"
"Enak aja..tiap hari aku bersihin tahu!"
"Hii, aku geli sekaligus takut tahu gak! Udah ah aku mau ke kamarku aja, nanti kecoanya balik lagi nempel di baju aku! Ngebayangin ya aja aku geli, hiii!" kata meta merinding.
"Dasar penakut!!"
"Ish nih anak, kalo udah sembuh beresin kamarmu biar gak ada kecoa lagi! Jorok banget sih!"
"Biarin ah, kalo kecoanya banyak biar kamu ketakutan dan kamu bisa peluk aku lagi kayak tadi, upppss keceplosan, sorry!"
"Devan....kamu tuh ya!Mau cari kesempatan dalam kesempitan!!"
"Enak aja, kan kamu yang meluk aku duluan. Berarti kamu dong yang cari kesempatan?"
"Bener-bener yah nih anak, baru sembuh dikit udah kumat nyebelinnya. Udah ah aku mau ke kamarku, aku gak mau ketemu sama kecoa lagi!!"
Meta berjalan meninggalkan kamar Devan.
"Eh met... awas....di belakangmu ada kecoa!!!" teriak Devan sengaja menakut-nakuti meta.
"Hah....mana...dimana???" kata meta ketakutan sambil meneliti bajunya kalo-kalo benar ada kecoa di bajunya.
Devan tertawa terbahak melihat meta ketakutan.
"Devannnnn.....kamu ngerjain aku ya....awas kamu ya! Nanti kalo kamu sakit aku gak mau kasih kamu obat lagi!" gerutu meta.
"Idih cuma becanda gitu aja langsung ngambek! Dasar tukang ngambek!" celoteh Devan.
Seperti suatu kesenangan sendiri bagi Devan kala dia bisa menggoda meta seperti ini. Momen-momen seperti inilah yang selalu membuatnya tak bisa jauh dari meta.
"Bodo!"
Meta tak menghiraukan celotehan Devan lagi dan berjalan menuju kamarnya, dia tak ingin bertemu dengan kecoa-kecoa itu lagi.
Di Singapura
Hari ini Rendi memulai kerjanya kembali setelah beberapa hari kemarin dia tinggalkan. Rencananya hari ini dia akan mempelajari berkas-berkas yang tertunda untuk dipelajari kemarin.
Rendi membuka lembar demi lembar berkas yang ada di mejanya.
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu.
"Masuk."
Seorang wanita masuk ke ruangannya, dengan mengenakan rok mini hitam di atas lutut dengan kemeja warna pink yang sengaja dibuat agak terbuka di bagian atas membuat Stella tampak seksi dan menawan.
"Permisi pak Rendi, saya mau menyerahkan berkas yang perlu ditanda tangani."
Rendi masih berkutat pada berkasnya, dan tak melihat wanita itu di depan meja kerjanya.
"Pak Rendi?"
"Iya taruh saja di situ" jawab Rendi tanpa melihat wanita itu.
Tak kehilangan akal Stella menghampiri Rendi hendak mengeluarkan jurus-jurus rayuannya supaya Rendi bisa tertarik padanya.
"Pak Rendi, berkas yang perlu ditanda tangani sangat banyak, jadi biar saya tunjukan berkas mana saja yang akan ditanda tangani," kata stella menghampiri Rendi.
Rendi menatap Stella yang ada di sampingnya, sedang Stella sengaja berusaha membuat gestur menggoda supaya Rendi tertarik.
"Apa kamu gak denger tadi aku ngomong apa? Tadi aku suruh kamu keyakinan di meja kan berkasnya? Kenapa kamu sekarang malah berdiri di samping aku?"
Rendi merasa Stella sudah menganggu kerjanya saat ini. Apalagi dengan gaya Stella yang sengaja untuk menggodanya membuat Rendi semakin terganggu dengan tingkahnya.
Namun sebaliknya, Stella tak menanggapi kemarahan Rendi itu. Dia justru mendudukkan dirinya di meja kerja Rendi, sengaja ingin memperlihatkan kemolekan tubuhnya di hadapan Rendi.
"Pak Rendi, masak pak Rendi gak tertarik sih sama aku!" kata Stella dengan nada menggoda.
"Maksud kamu apa? Kamu sengaja mau menggoda aku dengan cara kayak gini?"