TERJEBAK CINTA META

TERJEBAK CINTA META
Happy Birthday Ardian


Rendi menyiapkan segala sesuatunya dibantu oleh Devan dan mamanya Rendi. Semua teman-temannya pun turut hadir untuk ikut membantu.


Dina masuk ke kamar Ardian, nampak Ardian yang masih berbalut infus ditangannya raut wajahnya terlihat lesu seperti yang biasa dina lihat. Ardian memang seolah sudah kehilangan semangat hidup semenjak dia divonis menderita penyakit meningitis. Seolah semua harapannya hancur dan semua semangatnya sirna untuk menjalani kehidupannya.


Bahkan Ardian tak ingin menjalani pengobatan di rumah sakit dan lebih memilih dirawat di kamarnya sendiri. Ardian merasa lebih nyaman ketika di kamarnya ketimbang harus dirawat di rumah sakit. Entah sudah berapa kali Dina membujuknya untuk menjalani pengobatan, semuanya gagal. Kali ini Dina berharap Rendi dan teman-temannya bisa benar-benar membuat Ardian bersemangat.


"Sayang, kamu dicari teman kamu di bawah?" kata Dina menghampiri ardian.


"Teman? Siapa ma?"


"Itu, teman SMA kamu, ayo temuin, kasihan mereka menunggu di bawah."


"Tapi ma....!"


"Ayolah sayang sekali ini aja, lagi pula kamu juga butuh udara segar kan?"


Ardian hanya mengangguk dan mengikuti kemauan mamanya.


Dina dibantu oleh pelayan di rumahnya membantu Ardian berjalan menuruni anak tangga di rumahnya.


Sekilas rumah itu masih nampak tak ada Hongaria bingar apa pun, semua hanya terlihat sepi.


"Dimana mereka ma?"


"Sebentar ya mama ajak kamu ke taman belakang," kata Dina.


Ardian berjalan menuju taman belakang yang berukuran lumayan luas, di sebelahnya terdapat kolam renang yang cukup luas dengan gazebo di pinggirnya.


Rasanya ada yang berbeda dengan taman itu, sepintas Ardian melihat taman itu berubah jadi gelap tak ada cahaya lampu.


Dina menuntun Ardian ke taman itu.


"Surprise.....!!!!" teriak mereka bersamaan.


Lampu di taman itu pun di nyalakan, nampak hiasan lampu kelap-kelip dan spanduk bertuliskan


"Happy birthday Ardian....Semangat Buat Kamu.....Kami semua akan selalu menyemangatimu ....semoga lekas sembuh!!"


Ardian menatap satu per satu wajah teman-temannya satu per satu. Dia tidak menyangka teman-temannya masih ingat denganya terlebih peduli dengannya seperti ini.


"Happy birthday Ardian!"


Devan dan Rendi membawakan kue untuk Ardian, sedang teman-temannya mengikuti mereka berdua dari belakang.


"Gue bener-bener gak nyangka, makasih ya Van Rend! Aku gak nyangka kalian masih inget hari ulang tahunku! Makasih ya semua!" ucap Ardian berbinar.


"Sama-sama bro, kita ke sini buat kasih semangat buat Lo! Jadi Lo jangan pernah ngerasa sendiri lagi apalagibpatah semangat, Lo harus semangat bro!" kata Rendi.


"Makasih banget Rend, aku gak nyangka setelah semua yang aku lakuin ke kamu dan meta, kamu masih bisa care sama aku kayak gini!"


"Udahlah bro, yang lalu biar aja berlalu. Gue harap Lo bisa lebih semangat lagi dalam menjalani hidup Lo!" kata Rendi sambil menepuk pundak Ardian.


Dina sedikit merasa lega sekaligus senang melihat Ardian bisa tersenyum kembali setelah sekian lama dia tak pernah lagi melihat senyum Ardian.


"Makasih ya nak Rendi dan semuanya sudah mau datang untuk memberi semangat untuk Ardiani!"


"Sama-sama Tante!" jawab mereka hampir bersamaan.


Mereka pun menyanyikan lagu ulang tahun untuk Ardian, dan Ardian meniup lilin dan memotong kue ulang tahunnya.


"Tante benar-benar berterimakasih karena sudah bisa melihat Ardian bisa tersenyum bahagia lagi!" kata Dina.


"Saya hanya bisa membantu seperti ini Tante, semoga dengan kayak gini Ardian bisa lebih bersemangat lagi! Oh iya Tante, saya punya rekomendasi dokter di rumah sakit Singapura yang bagus untuk menjalani terapi pengobatan Ardian. Kalo memang Tante berkenan nanti saya bisa antar ke sana, karena besok saya juga akan kembali ke Singapura lagi!" kata Rendi.


"Emm, gimana yah, Tante mau banget sebenarnya menerima tawaran itu. Tapi....!"


"Tante tenang aja biar nanti kita yang bujuk Ardian supaya dia mau!" kata Devan meyakinkan.


"Tante akan sangat berterimakasih kasih sekali kalo kalian bisa membujuk Ardian untuk bisa menjalani pengobatan! Apa pun akan Tante lakukan demi kesembuhan Ardian!"


"Pokoknya Tante tenang aja, kita pasti bakal siap bantuin Tante!" jawab Rendi.


Rendi dan Devan pun menghampiri Ardian dan mengajaknya duduk bersama di gazebo.


"Gimana Lo suka ketemu sama temen-temen?" tanya devan.


"Rasanya sudah lama aku gak bisa tertawa lepas seperti ini, aku gak tahu kalo selama ini rasanya aku sudah banyak kehilangan semangat buat ngejalanin hari-hariku! Btw makasih ya Rend, Van, buat semuanya!"


"Sama-sama, gak usah terima kasih Mulu kali, sekali lagi Lo bilang makasih gue kasih piring cantik!" celetuk Devan.


"Hahahaha....bisa aja Lo! Lo tuh gak berubah yah dari dulu masih suka konyol!" kata Ardian spontan.


"Gitu dong, ketawa dikit napa! Lo tau gak sih gak ada satu pun orang di dunia ini yang bisa nentuin umur kita!" kata Ardian.


"Gue tahu Rend, dari kemarin gue memang udah hopeless. Kayaknya semenjak gue tahu penyakit gue ini semuanya rasanya udah hancur, tuh pada kenyataannya ujung-ujungnya gue bakalan mati kan! Jadi buat apa gue menjalani pengobatan!"


"Nenek juga tahu kali kalo semua orang bakalan mati, tapi gak gitu juga kali Ardian, masak Lo sebagai cowok gak ada struglenya melawan penyakit ini!"


"Percuma Van! Lo gak bakal ngerti karna Lo gak ngalamin seperti yang gue rasain karna Lo gak pernah tahu gimana rasanya divonis penyakit seperti ini!"


"Lo salah Ardian, justru sekarang gue juga berjuang melawan penyakit yang juga sama beratnya kayak Lo!"


"Maksud Lo apa sih rend, becanda Lo gak lucu!" celetuk Devan.


"Gue gak becanda, cuma kalian aja yang gak tahu!"


"Maksud Lo apa sih rend? Jangan hanya karena Lo pengen nyemangatin gue, Lo jadi boong kayak gini!"


"Gue gak boong, asal kalian tahu, dulu waktu smp gue divonis menyidap penyakit leukimia, bahkan gue harus keluar dari sekolah, dan pergi menjalani terapi di Singapura. Saat itu aku juga pernah terpuruk, dan sama seperti kamu seolah kehilangan semangat!"


"Apa? Leukimia? Gue gak salah denger nih, serius rend becandanya gak lucu!" timpal Devan yang seolah masih tidak percaya.


"Gak gue serius, mungkin selama dulu waktu SMA Lo pasti penasaran kok gue bisa langsung jadian sama meta!"


"Yah gue pikir waktu itu Lo udah jadian sama meta semenjak SMP!"


"Gue emang udah jadian sama meta semenjak kelas 3 SMP tapi waktu itu meta belum tahu kalo gue divonis punya penyakit leukimia. Dan waktu itu gue ninggalin dia gitu aja selama 3 tahun tanpa ada kejelasan!"


"Jadi?" tanya Ardian keheranan.


"Selama hampir 3 tahun aku pergi menjalani pengobatan di Singapura, bahkan aku tak memberi kabar meta waktu itu, karna aku gak pengen meta tahu penyakitku. Saat itu dibenakku aku hanya berjanji pada diriku sendiri, aku harus sembuh supaya aku bisa menemui meta lagi. Waktu aku sakit mamaku sempat bilang denganku, dia berjanji akan mencari meta untukku supaya aku bisa bersamanya tapi dengan syarat aku harus sembuh, dan setelah itu aku baru boleh menemui meta. Semenjak itu aku jadi bersemangat untuk sembuh, dan mamaku menepati janjinya, bahkan dia mencarikan informasi tentang meta dan akhirnya aku bisa sekolah di tempat meta sekolah."


Devan dan Ardian tercengang mendengar perkataan Rendi yang panjang lebar itu seolah semua yang diucapkan Rendi itu masih menjadi tanda tanya besar bagi Devan dan Ardian.


^^^Hai semuanya....jangan lupa kasih like dan vote...buat yang udah kasih vote dan like makasih banyak ya😘😘...tetep terus ikuti kelanjutan cerita novelku ya....!!!^^^