
Setelah acara pensi perpisahan sekolah, anak-anak kelas 3 mengadakan pesta perpisahan kecil-kecilan yang khusus hanya dihadiri anak kelas 3. Mereka mengadakan acara itu di cafe dekat sekolah yang sudah mereka pesan sebelumnya.
Meta dengan Rendi mengambil tempat duduk. Mungkin ini juga sebagai pesta perpisahan diantara mereka sebelum meta pergi ke Jerman sedang Rendi memutuskan untuk kuliah di Singapura.
Banyak anak-anak yang bernyanyi bersama di atas panggung, sepertinya mereka memang ingin bmembuatbmoment perpisahan ini menjadi sesuatu yang berkesan dalam hidup mereka masing-masing.
Beberapa dari mereka masih ada yang saling bertukar tanda tangan di baju seragam mereka. Satu sama lain saling memeluk seolah tak ingin berpisah dengan teman yang selama ini bersama. Begitu pula dengan meta dan Rika, sudah hampir 3 tahun menjadi teman sekelas. Pastinya ini peristiwa yang menyedihkan sekaligus berat untuk berpisah.
"Jangan lupain aku yah met!" kata Rika memeluk meta.
"Gak bakal, janji yah meski udah lulus dan kuliah nanti kita bakal tetep sering ketemu!"
"Iya janji!"
Mereka berdua berpelukan sampai tak terasa keduanya meneteskan air mata. Rendi yang ada di samping meta kala itu juga merasakan kesedihan, dia tak dapat membayangkan akan jauh dengan meta lagi.
"Rend, aku boleh minta tanda tangan kamu di sini?"
Dinda menghampiri Rendi memintanya untuk tanda tangan di seragamnya. Rendi mengambil spidol yang diberikan Dinda dan kemudian tanda tangan di bagian bahu seragam Dinda.
"Aku boleh gak tanda tangan di baju kamu Rend?"
"Iya boleh!"
Dinda pun memberikan tanda tangannya di seragam Rendi.
"Makasih ya Rend! Oh iya rend, setelah lulus kamu mau lanjut kemana?"
"Ke Singapura."
"Ow, ambil jurusan apa?"
"Bisnis!"
"Wah keren! Kapan-kapan boleh dong aku maen ke rumah di Singapura?"
"Untuk apa?"
"Cuma sekedar maen!"
Rendi tak memberikan jawaban, membuang pandangan ke arah meta yang masih sibuk ngobrol dengan Rika.
"Ya udah aku ke sana dulu ya rend!"
Dinda merasa sebal karena Rendi bahkan tak pernah menggubrisnya.
"Kenapa sih Rend yang ada dipikiranmu cuma meta dan meta! Apa sih lebihnya meta sampai kamu gak bisa berpaling dari dia!" umpat Dinda yang marah dengan dirinya sendiri.
Rendi meminum secangkir lemon squash yang dihidangkan tadi sambil sesekali melihat meta yang masih mengobrol dan saling bertukar tanda tangan dengan yang lain.
"Hei Rend!"
Kali ini Devan yang menghampiri Rendi.
"Ada apa Van?" jawab Rendi datar, walau bagaimanapun Rendi teringat jasa Devan yang kemarin sudah menolong meta.
"Boleh duduk sini?"
"Boleh aja, ini kan tempat umum!"
Devan pun langsung duduk di samping Rendi.
"Aku harap kamu bisa menjaga meta dan membahagiakanny, karena cuma kamu yang di hatinya!"
"Maksud Lo ngomong itu ke gue?"
"Woles bro, jangan pake emosi gitu! Gue sebagai sahabat meta cuma pengen met bahagia, itu doang gak lebih!"
"Gue pasti bakal jaga dia! Gak akan gue biarin satu orang pun ganggu dia, termasuk elo! Tapi gue makasih Lo udah nolongin meta kemarin. "
"Hahaha santai aja bro, meta itu sahabat gue! Jadi yah pasti gue bakal nolong dia, apalagi saat dia butuh!"
Meta yang sedang mengobrol dengan temannya tak sengaja melihat Rendi dan Devan yang sedang mengobrol. Meta langsung menghampiri mereka berdua takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Hai, lagi pada ngobrol apa nih?" tanya meta menghampiri.
"Eh gak kok met, cuma ngobrol-ngobrol santai aja sama Rendi!"
"Ow, gitu?"
"Kalo gitu gue ke sana dulu ya!" kata Devan yang kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.
"Ngobrol apa sama Devan?"
"Gak, aku cuma bilang makasih aja karena udah nolongin kamu kemarin."
"Beneran? Kamu gak ribut kan sama dia?" selidik meta.
"Gaklah! Memang kamu lihat aku adu mulut sama dia?"
"Kamu mau aku pesenin minum atau mau pulang?"
"Kita pulang aja yuk, aku udah capek banget nih! Atau kamu masih mau di sini?"
"Ya udah aku juga mau pulang, aku anter kamu pulang!"
Mereka berdua pun berpamitan dengan teman-temannya.
Saat keluar dari cafe itu tiba-tiba Anisa datang menghampiri Rendi.
"Kak Rendi!" kata Anisa berlari dan memeluk Rendi.
Meta melihat Anisa memeluk Rendi di depan matanya.
"Apa-apaan sih nis! Lepasin!!" teriak Rendi sambil berusaha melepaskan tangan Anisa yang melingkar di tubuhnya.
"Kak Rendi, jangan tinggalin Anisa kak! Aku pengen kita kayak dulu lagi, aku pengen kak Rendi bisa jaga Anisa kayak waktu masa kecil kita!"
"Gue gak bisa nis! Gue udah punya meta, dan itu masa lalu saat kita kecil dan gue juga udah lupa sama kejadian itu! Jadi gue mohon Lo gak usah ganggu gue lagi!"
"Kak Rendi kok gitu sih, aku sedih tahu kak, sebentar lagi kak Rendi udah lulus dari sekolah dan Anisa gak bisa ketemu kakak lagi!" kata Anisa dengan nada manja.
Meta merasa benar-benar ingin marah dengan Anisa saat ini. Bahkan Anisa juga tak mempedulikan kalo saat ini dia ada disamping Rendi.
"Ngapain sih lo pake meluk-meluk Rendi segala!" kata meta ketus.
"Aku gak ngomong sama kamu!" jawab Anisa tak kalah ketus.
"Apaan sih nis, Lo tuh gak sopan banget sama kakak kelas Lo! Asal lo tahu meta ini pacar gue, dan gak seharusnya Lo bentak orang yang lebih tua dari Lo! Ayo sayang kita pergi dari sini!"
Rendi menarik tangan meta, untuk masuk ke dalam mobil.
"Apa sayang? Gue gak salah denger, dia manggil sayang ke kak meta?" pekik Anisa sendiri.
" Kak Rendi tunggu, jangan tinggalin aku!" teriak Anisa sambil mengejar mobil Rendi.
Namun mobil Rendi sudah pergi menjauh.
Di dalam mobil
Meta masih tak habis pikir dengan Anisa yang masih mengejar Rendi.
"Benar-benar menyebalkan!" teriak meta tiba-tiba.
"Aku minta maaf sayang kalo sikap Anisa bikin kamu kesel!"
"Bisa-bisanya dia meluk kamu di depan mata aku!"
"Aku juga kaget dia tiba-tiba meluk aku kayak gitu!"
"Huft!! Kesel kesel kesel! Bisa-bisanya dia bentak aku di depan umum kayak gitu!"
"Udah dong sayang marahnya!"
Meta pun memilih diam untuk meredam amarahnya saat ini. Dia juga tidak bisa menyalahkan Rendi karena ini bukan sepenuhnya kesalahan dia.
"Kita langsung pulang?"
"Iya aku mau langsung pulang tol aja!"
"Oh iya kamu serius mau berangkat ke Jerman?"
"Kamu kan udah tahu aku sudah ngurus semuanya, dan besok aku tinggal berangkat!"
Rendi terdiam mendengar perkataan meta itu.
"Kok diem?"
"Aku gak tahu apa aku bisa jauh dari kamu?"
Meta melihat tatapan Rendi yang berubah menjadi tatapan kesedihan.
"Aku mohon Rend, jangan membuat aku semakin berat! Aku butuh dukungan dari kamu! Kamu kan bisa berkunjung sesekali ke sana, atau nanti pasti aku juga bakal nyamperin kamu pas liburan semester."
Rendi terdiam lagi, menatap ke arah jalanan dengan tatapan kosong.
Sepanjang perjalanan Rendi masih terdiam, sampai di depan rumah meta Rendi pun masih terdiam.
"Kami mau masuk?"
"Nggak, aku mau langsung pulang!"
"Kenapa sih Rend kamu selalu marah saat kita ngomongin ini! Padahal aku butuh dukungan kamu Rend saat ini. Aku juga sama, aku juga pasti tersiksa kalo aku jauh dari kamu! Apalagi besok kamu akan pergi ke Singapura. Aku juga khawatir kalo kamu bisa saja digoda oleh cewek lain! Apalagi dengan kejadian tadi yang jujur membuatku takut kehilangan kamu!"
"Maafin aku met, aku janji bakal dukung kamu! Maaf kalo aku kekanak-kanakan seperti ini! Tapi aku kayak gini karena aku sayang banget sama kamu dan aku gak mau kehilangan kamu!"
Rendi memeluk meta erat sesekali mengecup puncak kepala meta. Mungkin ini memang berat baginya, tapi sepertinya Rendi memang harus mendukung meta meski ini sulit dia lakukan.