
Di sebuah cafe elite pusat kota Karoline menunggu mamanya meta yang sebelumnya mereka sudah berjanjian. Setengah jam kemudian mamanya meta sampai di cafe.
"Mohon maaf reservasi atas nama Bu Karoline?" tanya mama meta ke seorang pelayan.
Pelayan itu mengantarkan mama meta ke meja Karoline.
"Permisi, selamat siang benar dengan ibu Karoline?"
Karoline pun memandang mama meta dan menjabat tangannya.
"Oh iya, perkenalkan saya Karoline, mamanya Rendi!"
"Saya Risma, mamanya meta!"
"Mari silahkan duduk!'
"Maaf menunggu lama, tadi agak sedikit macet di jalan!"
"Oh iya tidak apa-apa, saya tahu kalo di jam-jam makan siang seperti ini pasti jalanan. sedikit macet. Oh iya Bu Risma mau pesan apa?"
"Em m m saya pesan sphageti sama orange juic saja."
"Ok! sphageti 1, orange juice 1, kalo aku salad sama lemon squash 1 !" kata Karoline pada pelayan itu.
"Sebelumnya saya minta maaf karna sudah mengganggu waktu Bu Risma untuk bertemu."
"Oh Bu Karoline tenang saja, ini sama sekali tidak mengganggu saya kok. Kalo boleh tahu untuk membicarakan hal apa yah Bu Karoline ingin mengajak saya bertemu?"
"Saya ingin membicarakan mengenai masalah Rendi dengan meta. Jadi sebenarnya weekend besok saya akan kembali ke singapur lagi, dan kebetulan Rendi juga akan medical checkup disana. Kemarin Rendi meminta saya untuk meminta ijin untuk mengajak meta menemani Rendi medical checkup di sana, itu pun kalo Bu Risma tidak keberatan!"
"Kalo saya selagi itu weekend, tidak mengganggu sekolah meta dan metanya mau saya pasti mengijinkan. Saya tahu Rendi anak yang baik, saya juga tahu Rendi mencintai meta semenjak SMP, jadi pasti Rendi bisa menjaga meta."
"Terimakasih Bu Risma sudah memberi ijin."
"Silahkan Bu" kata pelayan menyajikan menu yang tadi dipesan.
"Terima kasih!"
"Bu risma?"
"Iya?"
"Maaf kalo saya to the points, saya tahu mungkin ibu mempunyai hubungan dengan mas Hans."
"Oh mengenai hal itu, saya dan mas Hans kita memutuskan untuk berteman dan memang kami juga mempunyai kerja sama bisnis."
"Mohon maaf Bu Risma saya tidak bermaksud untuk menyinggung perasaan Bu Risma. Saya tahu mas Hans juga memerlukan pendamping hidup. Karna kita sudah berpisah cukup lama, dan mungkin dia kesepian sehingga membutuhkan pendamping."
"Bu Karoline tenang saja saya tidak akan mengganggu kebahagian meta dan Rendi hanya karena kedekatan saya dengan mas Hans."
"Saya tahu mungkin ini sulit, tapi saya berharap Rendi bisa bahagia dalam hidupnya. Apalagi semenjak Rendi sakit, hanya metalah yang menjadi penyemangat hidupnya. Dan saya berharap mereka bisa bahagia bersama. Saya mohon maaf seandainya ini terkesan egois."
"Bu Karoline, kebahagian meta adalah melebihi segalanya dalam hidup saya. Tujuan hidup saya hanya untuk membahagiakan meta, dan jika memang kebahagian itu dengan Rendi pasti saya akan mendukungnya."
"Terimakasih Bu risma, o iya silahkan di makan Bu!"
"Iya terimakasih Bu!"
"Saya harap komunikasi kita tidak sampai di sini, saya harap kita bisa lebih dekat seperti layaknya teman!"
"Pasti, jika Bu Karoline ke Indonesia jangan sungkan untuk ke rumah atau bertemu seperti ini, saya sangat senang kita bisa lebih akrab!"
"Tentu saja, nanti kapan-kapan kita shoping bersama bagaimana?atau gimana kalo Bu Risma ikut kita jalan-jalan ke singapur besok weekend?"
"Mohon maaf sekali untuk sekarang saya belum bisa ikut ke singapur karena ada pekerjaan yang mesti saya selesaikan, mungkin next time."
"Sayang sekali, padahal saya ingin mengajak Bu Risma jalan-jalan keliling singapur. Tapi Bu Risma tidak usah khawatir nanti meta akan saya jaga baik-baik selama di Singapur."
"Terimakasih, saya titip meta ya Bu."
"Pasti saya akan jagain meta!O iya kata Rendi meta akan melanjutkan kuliah di Jerman?"
"Iya mengenai hal itu, meta itu dari dia kecil memang punya impian kuliah kedokteran di sana."
"Jujur Rendi sangat sedih mendengar hal itu, sebenarnya Rendi ingin mengajak meta kuliah di Singapur."
"Kalo masalah itu saya tidak bisa menghalangi meta, karna itu sudah menjadi impiannya dari dulu."
"Saya berharap meta bisa memikirkan lagi keputusannya itu, tapi saya juga berharap mereka tidak berjauhan lagi. Atau bagaimana kalo kita nikahkan saja mereka?Bagaimana? Bu Risma setuju?"
"Menikah?apa ini tidak terlalu cepat Bu?Kalo menurut saya sebaiknya biarkan mereka kuliah dulu saja, biar mereka bisa mengejar cita-cita mereka masing-masing dulu."
"Baiklah kalau menurut Bu Risma lebih baik seperti itu."
Risma melihat jamnya sudah menunjukan pukul 1 siang dan dia harus kembali ke kantornya lagi.
"Bu Karoline, mohon maaf sekali saya harus kembali ke kantor karna setelah ini saya masih ada meeting dengan klien."
"Sama-sama Bu, saya juga sangat senang bisa bertemu dengan ibu Karoline. Saya harap kita bisa makan siang atau sekedar jalan-jalan bersama lain waktu. Kalo begitu saya mohon pamit."
Risma menjabat tangan Karoline sambil mencium pipi kanankirinya.
"Selamat tinggal, hati-hati di jalan!" sambut karoline.
Karoline melambaikan tangannya sambil melihat punggung Risma yang sudah mulai menjauh.
Di sekolah
Seusai sekolah seperti biasa meta menunggu jemputan sopirnya.
Tin tin tin sebuah mobil berhenti di depan meta, yang tak lain adalah mobil Rendi.
"Ayo masuk aku anter pulang!" kata Rendi membuka kaca mobilnya.
"Gak mau, kamu kan lagi marah sama aku!"
Meta membuang muka, dia juga merasa kesal diacuhkan rendi dari kemarin.
Rendi turun dari mobil dan menariknya masuk ke dalam mobil.
"Lepasin aku gak mau pulang sama kamu!"
"Kalo kamu gak mau masuk nanti aku cium kamu di sini!Mau masuk atau mau aku cium di sini?Pilih mana?"
Meta pun akhirnya mau masuk ke dalam mobil rendi, meta gak mau Rendi sampe nekat nyium dia di depan umum.
"Kamu tuh ngeselin banget sih!!"
"Ngeselin?bukannya kamu yang ngeselin!"
"Kenapa?"
"Karna kamu keras kepala!"
"Hah?Aku?keras kepala? maksud kamu apa sih?"
"Maksudnya aku laper banget dan kamu harus nemenin aku makan sekarang!"
"Apaan coba?gak nyambung banget!Nanya apa jawabannya apa!Kenapa sih kamu dari kemarin kayaknya jadi eror?"
"Gara-gara kamu aku eror!"
"Aku?"
"Iya kamu, kamu yang bikin aku eror kayak gini!'
"Huft ini anak, maunya apa sih?"
"Maunya?serius kamu mau tahu mau aku apa?"
"Hemmm" jawab meta malas, malas kalo Rendi mulai melakukan hal aneh.
"Aku mau kamu gak usah ke Jerman!Paham?"
"Ampun deh Rend, aku harus bilang gimana lagi sama kamu!"
"Bilang kalo kamu gak akan ke Jerman atau?"
"Atau apa?"
"Atau aku bakalan bawa kamu kabur ke singapur!"
"Jangan gila deh Rend!"
"Biarin!Habis kamu ngeyel sih, kayaknya seneng banget kalo pisah sama aku!"
"Rend, kamu ngomong apa sih?Harusnya kamu dukung aku buat mewujudkan cita-cita aku!"
"Yah ngapain juga mesti ke Jerman, di sini juga banyak kan universitas yang bagus, kenapa mesti ke Jerman sih?"
Dret dret dret hp meta bergetar tanda sebuah panggilan masuk.
Meta langsung mengangkat telpon itu.
"Halo"
"......"
"Ok. makasih ya ma!"
Tut Tut Tut sambungan telepon terputus.