
Meta melangkah menuju stasiun terdekat, bersiap untuk pergi ke alamat yang dituju. Saat itu Devan berjalan mengikuti kemana pun meta pergi. Namun meta masih mengabaikannya.
Di sini meta harus benar-benar mandiri. Karena tidak ada sopir yang akan mengantarnya kemanapun atau asisten rumah tangga yang bisa memasakannya makanan yang dia mau.
Meta melihat peta yang ada di stasiun itu, mencari tujuan kereta yang akan dinaikinya. Setelah melihat beberapa rute perjalanan yang ada di situ meta menuju kereta yang akan dia naiki sesuai dengan alamat yang akan dia tuju.
Meta mencari tempat duduk kosong di kereta. Sesekali meta masih mengawasi Devan yang masih mengikutinya. Meta memang sengaja tak menegur Devan, dia hanya ingin tahu apa niat Devan sesungguhnya.
Selepas dari stasiun meta bertanya pada beberapa orang tentang alamat yang ada di catatannya. Karena sebelum dia ke Jerman mamanya memberi alamat Zimmer Apartment yang akan ditinggali selama di Jerman. Tempat itu adalah rekomendasi dari rekan bisnis mamanya yang ada di Jerman.
Mamanya memang sengaja memberikan tempat tinggal semacam apartemen satu kamar yang di dalamnya sudah ada dapur dan kamar mandi sendiri. Alasannya adalah supaya meta lebih nyaman dan tentu saja bisa lebih fokus belajar karena tidak harus berbagi kamar seperti asrama mahasiswa atau sejenisnya.
Meta menuju apartemennya, bahkan Devan masih mengikutinya sampai di depan kamar apartemennya.
"Fix, kamu pasti ngikutin aku!" kata meta menghampiri Devan yang sedari tadi mengikutinya dari belakang.
"Hehehe, ketahuan deh kalo aku ngikutin!" jawab Devan garing.
"Ya elah nenek-nenek juga tahu kali kalo dari tadi kamu ngikutin! Maksud kamu apa sih Van ngikutin aku!"
"Gak, aku cuma penasaran aja dimana tempat tinggal kamu di Jerman!"
"Harus gitu banget ya, sampai harus ngikutin aku sampe ke sini, kurang kerjaan banget sih!"
"Wah wah wah, ngremehin banget ni anak bilang aku kurang kerjaan! Aku di sini juga mau kuliah tahu! Dan aku juga akan jadi tetangga sebelah kamu di sini!" kata Devan menunjuk kamar sebelah.
"What? Apa kamu bilang? Tetangga sebelah?" tanya meta kaget sekaligus tidak percaya.
"Iya, kamu gak tahu ya, kita bakal satu kampus, dan sekarang aku juga udah booking kamar sebelah kamar kamu!"
"Wah bener-bener nih anak! Parah banget keponya sampe mau ngikutin sampe ke kampus segala lagi! Tapi kenapa mesti boong kalo mau kuliah segala sih? Udah gak mempan boongnya van!"
"Siapa juga yang boong, orang serius juga!"
"Aku tahu sih Van kalo kamu masih mengharap cintaku, tapi ya gak kayak gini juga kali Van bucinnya!"
"Apa bucin? Siapa yang bucin?"
"Jelas kamulah, buktinya kamu masih ngikutin aku sampai sini!"
"Hahahaha, terserah deh apa kata kamu, yang jelas di sini aku disini bakal satu kampus sama kamu!"
"Sebenarnya mau kamu apa sih Van?"
"Kamu tanya mau aku apa? Aku mau jadi bodyguard kamu di sini!Hehehehe!" jawab Devan sambil tersenyum penuh makna.
"Van, gak lucu tahu gak. Maksud kamu apa sih kayak gini!"
Devan mengabaikan omongan meta dan melangkah pergi memasuki kamarnya yang tepat berada di sebelah meta.
Meta tak habis pikir kenapa Devan masih mengikutinya sampai sini. Meta tahu kalo Devan itu memang suka dengannya tapi dia tak habis pikir kalo Devan sampai nekat mengikutinya sampai sini.
Meta masuk ke kamarnya, membersihkan diri, kemudian menata barang-barang yang ada di kamarnya. Sampai akhirnya dia tersadar belum memberi kabar pada Rendi. Meta mencoba menghubungi Rendi, beberapa kali tapi tidak diangkat.
"Mungkin dia tidur!" kata meta sambil mencoba menelpon Rendi lagi.
Meta mencoba menelpon lagi, kali ini panggilannya dapat tersambung.
"Hallo!' jawab Rendi dengan suaranya yang jelas terlihat seperti habis tidur.
"Hei Rend, udah tidur?"
"Maaf ya udah ganggu tidur kamu, aku baru sampai jadi aku baru bisa menghubungi kamu sekarang!"
"Iya gak papa, aku bisa denger suara kamu aja udah seneng. Bagaimana Jerman, kamu sudah sampai di sana?"
"Iya, aku sudah sampai jam 6 tadi. Di sana jam berapa sekarang? Kamu dimana sekarang?"
Sementara ini Meta tak ingin menceritakan dulu kalo Devan juga ada di sini. Meta tak ingin Rendi justru semakin kepikiran kalo Rendi tahu devan ada di sini.
"Di sini udah lewat tengah malam, setelah mengantar kamu tadi aku langsung ke Singapura! Aku bakal semakin tersiksa kalo di Jakarta sendiri!"
"Semoga kamu dapat universitas terbaik di sana!"
"Meta...."
"Iya Rend, kenapa? Kok suara kamu berat gitu?"
"Aku kangen banget sama kamu!"
"Iya, sama aku juga kangen sama kamu. Kamu yang semangat ya di sana!"
"Aku gak bisa semangat tanpa kamu!"
"Jangan gitu dong Rend, nanti aku jadi sedih lagi!"
"Aku pengen nyusul kamu ke sana!"
"Iya besok kalo kamu ada waktu kamu ke sini ya!" hibur meta.
"Aku pengen kuliah di sana bareng kamu!"
"Kuliah bareng? Tapi Rend bukannya kamu sudah didaftarkan mamamu untuk kuliah di situ?"
"Entahlah, tiba-tiba aku gak berminat untuk kuliah di sini! Aku cuma pengen sama kamu!"
"Iya aku tahu, tapi nanti mama kamu pasti kecewa kalo kamu gak kuliah di situ!'
"Nanti biar aku diskusi sama mama soal ini!"
"Rend, yang perlu kamu tahu, aku cuma berharap semua yang terbaik untuk kamu! Di sini aku ingin berjuang juga demi masa depan kita. Kamu sendiri setelah lulus kuliah nanti kamu juga pasti akan nerusin perusahaan mamamu juga kan!"
"Terus?"
"Yah aku sih terserah kamu mau kuliah dimana aja pasti aku dukung! Tapi kamu harus benar-benar mempertimbangkan semuanya baik-baik!"
"Aku sudah memikirkannya baik-baik."
"Yang penting kamu diskusikan dulu semuanya dengan mamamu. Rend, aku minta maaf gak bisa telpon kamu lama-lama. Aku harus tidur awal karena besok pagi-pagi aku harus ke kampus untuk mengurus semuanya!"
"Okey kalo gitu, kita terusin besok lagi ngobrolnya! Yah meskipun aku masih kangen sama kamu! Selamat malam sayangku, I love you meta!"
"Malam juga, I love you too Rendi!"
Tut Tut Tut sambungan telpon terputus.
Sebenarnya meta tak keberatan kalo Rendi menyusulnya ke Jerman, namun meta berpikir Rendi harus mempertimbangkan hal itu matang-matang mengingat kesehatan Rendi yang harus rutin check up di Singapura. Apalagi meta tidak bisa membayangkan kalo Rendi sampai tahu Devan mengikutinya sampai ke sini. Walaupun meta sendiri juga gak tahu apa alasan Devan bisa mengikutinya sampai sini.
Sebelum tidur meta mempersiapkan beberapa berkas yang akan dibawa ke kampus besok. Sesekali meta juga masih melatih kosa kata bahasa Jerman yang harus dia pelajari supaya lebih mudah beradaptasi di sini.
Setelah semuanya selesai, Meta pun berusaha memejamkan matanya, perjalanan seharian tadi cukup membuatnya lelah, mulai hari ini dia bertekad harus semangat agar bisa menyesuaikan diri di sini.