TERJEBAK CINTA META

TERJEBAK CINTA META
Kacau


Rendi tersenyum melihat reaksi meta yang kebingungan.


"Itu spesial buat kamu!"


"Ya ampun... cincinnya bagus banget Rend! Ini buat aku?"


Meta mengambil cincin itu dari dalam gelasnya, mengamati keindahan yang terpancar dari cincin itu.


"Kamu suka cincinnya? Itu sengaja aku pesan buat orang yang spesial, kebetulan aku dapat rekomendasi dari teman bisnis mama yang ada di sini."


"Aku suka banget Rend, makasih ya!"


Rendi meraih tangan meta, dan menatapnya dengan intens.


"Meta, kamu mau kan tunangan sama aku?"


Meta yang tadinya masih mengagumi keindahan cincin itu, kaget mendengar perkataan Rendi.


"Kamu bilang apa tadi Rend?Tunangan?"


"Iya meta, kalo kamu belum siap buat nikah, aku pengen kita tunangan dulu! Kamu mau kan?"kata Rendi dengan penuh keseriusan.


Meta berpikir sejenak untuk menjawab pertanyaan Rendi. Dia merasa bingung saat ini, tak tahu harus menjawab iya atau tidak.


"Aku....."


Belum sempat meta meneruskan kata-katanya terlihat ada dua orang yang menghampiri meja mereka.


"Ehem....!Hallo semuanya....!"


Meta dan Rendi langsung menatap orang yang menyapa mereka. Nampak di situ Devan sudah berdiri di samping meja mereka menyunggingkan senyumannya.


"Heh ngapain lo di sini!" tanya Rendi dengan penuh amarah.


"Gue kebetulan ada projek di sini sama temen gue. Kenalin ini Maxis, dia dari Indonesia juga, temenku satu jurusan," jawab Devan sok ramah.


Rendi tak menggubris perkataan dari Devan dia ingin meluapkan amarahnya kali ini.


"Gue gak tahu dan gak pengen tahu Lo ada di sini ngapain yang jelas gue gak mau liat muka Lo di sini, Lo tuh udah ngacauin makan malam gue sama meta tau gak!" kata Rendi Penh emosi.


"Woles bro, tadi gue kan cuma nyapa, gue gak ada maksud buat ganggu kalian berdua!"


"Lo bener-bener ya!" Rendi menarik baju Devan hendak memukulnya.


"Rend, udah Rend! Kamu gak malu apa dilihatin banyak orang kayak gini!" teriak meta mencoba melerai.


"Tapi dia udah ganggu makan malam kita met, lagi pula ngapain sih dia ada di sini, pasti dia sengaja ngikutin kita sampai di sini!"


"Gue bener-bener gak tahu kalo kalian di sini. Sorry kalo gue ganggu kalian!"


"Gak usah banyak omong deh Lo, Lo pasti sengaja ngikutin kita kan?Maksud Lo apa sih ngikutin kita terus?"


"Gue bener-bener gak ngikutin Lo!Gue udah bilang kan kalo gue kebetulan ada di sini!"


"Halah basi tahu gak, ayo met kita pergi dari sini. Gue muak lihat muka dia!"


Rendi mengajak meta meninggalkan tempat itu, tak lupa meta membawa buket bunga dan cincin yang diberi Rendi tadi. Rendi menggenggam tangan meta menuju mobilnya.


Devan dan Maxis masih duduk di situ, mereka duduk di meja yang tadi ditinggalkan oleh Rendi dan meta.


"Lo kenapa Van, muka Lo kusut banget kayaknya?" tanya Maxis.


"Gue merasa kacau max, Lo tahu kan gue jauh-jauh ke sini cuma pengen biar bisa lebih deket sama meta."


"Gue tahu Van, tapi harusnya Lo juga sadar kalo meta itu udah punya Rendi. Bahkan harusnya Lo juga tahu barusan jelas-jelas Rendi mau ngajak tunangan meta!"


"Gue emang bener-bener bodoh! Harusnya gue bisa lupain meta, harusnya gue tahu gue bakal sakit hati! Tapi kenyataannya gue gak bisa. Bahkan Lo tahu sendiri kan, gue bela-belain ikut kuliah ke Jerman dan mencari apartemen di dekat kamarnya meta dengan susah payah supaya bisa deket sama meta terus."


"Tapi Lo kan juga harus tahu kalo meta dari dulu cinta sama Rendi."


"Udahlah Van, mending lupain aja meta, atau mending Lo cari cewek di Paris atau di Jerman, supaya Lo bisa lupa sama meta!"


Devan pun hanya tertunduk lesu meletakkan kepalanya di meja di depannya. Cuma rasa perih dihatinya yang saat ini dia rasakan. Devan masih belum rela kalo memang Rendi akan bertunangan dengan meta.


Di Tempat lain


Rendi mengajak meta untuk menginap di sebuah hotel berbintang di pusat kota Paris. Sesampainya di hotel berkelas itu, Rendi langsung menuju kamar yang dia sudah dipesan sebelumnya.


"Rend, kamu cuma pesan 1 kamar?" kata meta setelah sampai di depan pintu kamarnya.


"Iya, aku cuma pesen satu!" kata Rendi santai


Mereka berdua memasuki kamar yang begitu luas dan mewah.


"Kita tidur satu kamar ?' tanya meta ragu.


"Kamu kenapa sih sayang takut banget kalo kita satu kamar. Tenang aja aku gak bakal ngapa-ngapain kok! Nanti kamu tidur di ranjang biar aku tidur di sofa."


"Jangan Rend, biar aku aja yang tidur di sofa kamu tidur aja di ranjang."


"Ya gak mungkinlah aku ngebiarin orang yang aku sayang tidur di sofa. Kamu tenang aja, aku gak bakal nakal sama kamu kok, paling cuma nakal dikit aja?"


"Hem, maksudnya apa tuh nakal dikit?"


"Hehehe, gak cuma becanda aja kok, ya udah kamu mandi dulu gih, biar seger aku ngeliatnya!" kata Rendi menggoda meta dengan tatapan misterius.


"Apa tuh maksudnya?" tanya meta heran melihat kelakuan Rendi.


"Gak, gak ada maksud apa-apa kok!"


"Ya udah deh aku mandi dulu!"


Meta menyiapkan baju ganti dan berjalan menuju kamar mandi.


"Jangan lupa di kunci kamar mandinya, ntar aku khilaf bisa-bisa nyusul kamu mandi lagi!" kata Rendi menggoda meta.


"Rendi....awas ya kalo macem-macem!"


Meta berlari menuju kamar mandi, sedang Rendi tertawa terbahak melihat meta yang seolah ketakutan dia akan melakukan apa-apa dengannya.


Setelah beberapa saat meta selesai mandi saat itu dia mengenakan dress selutut yang membuat dia terlihat semakin cantik dengan rambut panjang yang masih sedikit basah karena habis keramas.


Rendi yang duduk di sofa menatap meta dengan penuh kekaguman.


"Kamu cantik banget sayang!"


Meta hanya tersipu malu melihat Rendi menatapnya seperti itu.


"Jangan ngliatin kayak gitu dong, aku jadi gak pd nih!" kata meta menutupi kegugupannya.


"Jangan salahin mata aku dong, kan mataku refleks lihat kecantikan kamu! Kamu tuh terlalu cantik!"


"Udahlah Rend, mending kamu mandi deh sana! Udah bau asem tahu!"


"Iya deh aku mandi, o iya tadi aku udah pesan makanan buat kita. Tunggu aku ya sayang, aku mau mandi dulu, nanti kita makan sama-sama nanti!" kata Rendi mengedipkan matanya sengaja menggoda meta.


"Ya ampun tuh anak dari tadi mancing-mancing aja!" gerutu meta dalam hati.


Seusai mandi Rendi melihat beberapa makanan sudah terhidang di situ.


"Ayo makan Rend, aku udah laper nih."


"Iya, iya ini aku pakai kaos aku dulu."


Rendi memang sengaja hanya mengenakan celana saat keluar dari kamar mandi untuk menggoda meta.


Meta yang tahu sedari tadi menggodanya tak berani melihat Rendi bertelanjang dada dan hanya pura-pura menatap makanan di mejanya.