
Meta mengejar Rendi ke parkiran mobil, mencari keberadaan rendi yang sekarang entah menghilang di mana. Meta mencari tempat parkir yang tadi digunakan Rendi untuk parkir mobil. Namun nihil, mobil Rendi sudah tidak ada di situ. Meta mencoba menghubungi Rendi melalui telpon, namun juga tak ada jawaban.
"Pasti Rendi marah sama aku! Ini semua gara-gara Dinda si cewek ular itu!" gerutu meta sendiri.
Meta masih mencoba menelpon Rendi.
"Met !!"
Meta menolehkan pandangannya ke arah orang yang memanggilnya.
"Apalagi si Van?"
"Maafin aku yah, pasti gara-gara tulisan itu Rendi jadi marah sama kamu! Aku benar-benar gak bermaksud bikin kamu marahan sama Rendi!"
"Van, please aku mohon cukup Dinda aja yang bikin aku sama Rendi kayak gini! Jadi kamu jangan nambah-nambahin masalah lagi! Lagi pula kenapa sih kamu harus nulis tulisan kayak gitu di baju seragamku ini, bahkan aku udah kayak orang bego karna aku gak tahu kalo kamu nulis kayak gitu di seragamku!"
"Aku bener-bener minta maaf met! Tapi kamu masih ingat kan, aku pernah nulis surat buat kamu waktu kita SMA dulu, surat yang mengisyaratkan isi hatiku buat kamu! Aku juga sadar kalo perasaanku itu salah. Aku tahu kamu cuma nganggep aku sebagai seorang sahabat. Aku juga tahu kamu cuma cinta sama Rendi!"
"Aku tahu Van, aku tahu kamu suka sama aku semenjak aku baca surat kamu itu! Tapi jawabanku dulu sampai sekarang kamu tahu kan? Aku bener-bener gak bisa van, aku cuma nganggep kamu seperti sahabatku dan aku yakin ini kamu masih ingat karna sudah berulang kali aku ucapkan sama kamu."
"Aku tahu met, aku tahu banget itu. Aku juga gak mungkin memaksakan perasaan kamu buat aku."
"Van, aku pengen tanya sama kamu, dari dulu kamu hanya menghindar dengan pertanyaanku ini! Aku mohon kali ini kamu jawab pertanyaanku dengan jujur kalo kamu bener-bener masih nganggep aku sebagai temanmu!"
Udara malam yang tadinya mendung kini sudah mulai meneteskan air hujan yang mulai deras.
"Aku bakal jawab, tapi kita berteduh dulu!"
"Gak, aku mau kamu jawab di sini, sekarang aku!!" pinta meta setengah berteriak.
"Tapi met, nanti kamu kehujanan, aku gak pengen kamu sakit!"
"Van, cukup!!!Gak usah ngalihin pembicaraan lagi! Sampai kapan sih kamu nutupin semua dari aku!"
"Nutupin apa sih met?"
"Apa....apa sebenarnya alesan kamu kuliah di Jerman dan apa alesan kamu tinggal satu apartemen denganku?Aku pengen kamu jawab jujur tanpa ada satupun yang kamu tutupin Van!" teriak meta.
Saat ini meta berharap Devan bisa benar-benar menjawab pertanyaan yang selama ini membuat meta bertanya-tanya.
"Kamu kan tahu aku ke Jerman karena aku kuliah di sana!"
"Apa itu jawaban jujur dari kamu? Aku udah memohon kamu buat jujur, tatap aku van, bilang kalo kamu udah jawab jujur!"
Devan memang dari tadi tak berani menatap meta, selama ini memang ada beberapa hal yang dia tutupi dari meta.
"Iya aku bakal jawab sejujurnya tentang semuanya," jawab Devan mendekati meta.
"Baguslah, karna kalo kamu bohong sama aku, aku bener-bener gak bakal pengen ketemu kamu lagi!"
Hujan semakin deras, mereka berdua sudah basah kuyub di bawah air hujan yang sedari tadi mengguyur mereka.
"Jujur alasan aku pergi ke Jerman adalah....supaya aku bisa selalu dekat denganmu!" jawab Devan mulai berterus terang meski ini berat untuknya.
"Aku tahu aku memang tak bisa memiliki hatimu, karna hatimu hanya milik Rendi. Tapi aku juga tidak bisa membendung perasaanku sendiri. Waktu kelulusan SMA dulu aku tahu kamu akan kuliah ke Jerman, dan semenjak itu aku mencari cara supaya aku juga bisa ke Jerman. Aku mengikuti tes masuk kuliah yang luar biasa sulit, namun aku tetap bersemangat karna yang dipikiranku saat itu adalah aku harus bisa satu kampus denganmu!" terang Devan.
"Dari dulu aku selalu berusaha untuk menarik perhatianmu, bahkan sebelum Rendi pindah ke sekolah ini. Entah semenjak kapan perasaanku tumbuh, dan semakin lama aku tak bisa mengelak dari perasaanku ini. Aku selalu berusaha mencari perhatianmu semenjak SMA dulu, tapi kamu tak pernah menganggap ku. Aku semakin frustasi kala aku tahu kamu dan Rendi punya hubungan spesial, dan lebih menyakitkannya lagi kamu dan Rendi sudah mempunyai hubungan sewaktu kalian SMP. Itu berarti kalian sudah berhubungan jauh sebelum aku mengenalmu."
"Jujur aku ingin berhenti memikirkan kamu, ingin lupain kamu dan ingin menjauh dari kamu. Tapi aku gak bisa bohongin perasaanku sendiri, semakin aku menentang perasaanku ini, semakin kuat juga perasaan ini muncul."
"Semua ini menyakitkan buatku meta, apalagi melihat kamu bersama Rendi. Perasaanku sakit banget setiap melihat kamu sama Rendi. Aku pikir dengan aku ke Jerman dan bisa satu kampus sama kamu apalagi bisa satu apartemen sama kamu, meski aku gak bisa memilikimu tapi setidaknya aku bisa selalu dekat dengan kamu, bisa selalu ada buat kamu, bisa melindungi kamu setiap saat, yah meski aku tahu kamu belum tentu menganggap semua perhatianku!"
"Aku benar-benar minta maaf met, aku minta maaf kalo aku mencintai kamu selama ini! Seandainya aku bisa menghilangkan perasaan ini, pasti sudah aku hapus semua perasaanku ini."
Meta terpaku mendengar semua penjelasan devan. Meta tak pernah melihat Devan seserius itu dalam bicara. Sekarang meta mengetahui semua alasan dari perlakuan Devan selama ini.
Devan yang sudah basah kuyub sesekali mengusap wajahnya dengan kasar karena air hujan yang membasahi wajahnya.
"Sekarang aku terserah kamu met, kamu mau benci aku sekalipun aku gak masalah! Aku tahu mungkin aku memang tidak pantas mencintai kamu. Tapi setidaknya aku sudah jujur semuanya dengan kamu!"
Entah kenapa Devan merasa lega bisa mengucapkan semua yang dia pendam selama ini.
"Aku hargai kejujuran kamu Van! Aku minta maaf karna aku juga gak bisa membohongi diriku sendiri. Kamu tahu kan dari dulu hanya ada Rendi di hatiku, dan aku yakin kamu juga tahu itu!" kata meta sambil menitikkan air mata.
Meta terisak di bawah guyuran air hujan, dia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Perasaanya bercampur aduk saat ini, hanya air matanya yang bisa mewakilkan perasaanya saat ini.
"Maafin aku yah met, maafin aku karna gara-gara aku kamu sama Rendi marahan kayak gini!"
"Udahlah Van, setidaknya aku udah tahu kejujuranmu! Dan sekarang aku mau pergi ke cari Rendi. Aku pengen jelasin ke dia supaya dia gak salah paham sama aku!"
Meta hendak pergi meninggalkan Devan di situ.
"Tunggu met! Biar aku anter!" kata Devan sambil menarik lengan meta.
"Gak usah van, aku gak mau Rendi semakin salah paham sama kita berdua," kata meta menepis tangan Devan.
"Tapi ini udah malem met, hujan deres pula, kamu mau nyari Rendi kemana?"
"Aku mau ke rumahnya! Aku gak mau kita salah paham kayak gini!"
"Okey aku anter kamu ke tempat Rendi, aku janji gak bakal ganggu kalian. Kamu tunggu sini ya, aku ambil mobilku dulu ya!"
Devan pun mengambil mobilnya di parkiran.
Devan membukakan pintu mobil untuk meta.
"Ayo masuk met!" ajak Devan.
Meta masih berdiri mematung, sebenarnya dia tidak ingin Devan mengantarnya karena dia takut Rendi akan semakin marah dengannya.
"Aku janji gak bakal gangguin kamu sama Rendi, aku cuma gak mau kamu kehujanan kayak gini apalagi ini udah malem!"
Meta pun menghela nafas dan menuruti perkataan Devan untuk masuk ke mobil Devan.
^^^Hai...jangan lupa vote dan like ya.....^^