TERJEBAK CINTA META

TERJEBAK CINTA META
Rencana Untuk Rendi


Meta merebahkan tubuhnya setelah seharian beraktivitas, dia mengecek semua pesan dan panggilan masuk di hpnya. Ternyata Rendi mengirimkan berpuluh-puluh pesan melalui WhatsApp dan melakukan beberapa panggilan video call.


Sekarang dia memang sedang ingin menghindari Rendi, rasanya butuh waktu untuk menata hatinya. Apalagi semua ini terasa berat untuk dia terima.


Selama ini Rendi memang tak pernah melakukan hal-hal yang aneh-aneh apalagi selingkuh. Walaupun banyak yang mengejar-ngejarnya tapi seperti yang meta ketahui Rendi tak pernah tertarik dengan wanita-wanita itu.


Dret dret dret


Panggilan masuk ke hp meta, Meta melihat ID pemanggilnya.


"Ya ampun, ngapain mamanya Rendi telpon aku??" pekik meta sendiri.


Meta langsung mengangkat telpon itu, karena tak biasa-biasanya Tante Karoline menelponnya.


"Halo, Tante Karoline?"


"Hallo sayang, senangnya bisa dengar suara kamu! Bagaimana kabarmu?"


"Alhamdulilah baik Tante, Tante sendiri gimana?"


"Tante juga baik-baik kok, gimana kuliahnya? lancar kan?"


"Lancar Tante, oh iya tumben Tante telpon meta nih."


"Iya nih maaf yah kalo Tante malam-malam gini ganggu. Tante sengaja cari waktu yang tepat untuk ngobrol sama kamu. Maaf ya kalo Tante ganggu kamu."


"Eh nggak ganggu ko Tante, ini di sini juga baru jam 7 malam kok. Lagi pula meta gak lagi ngapa-ngapain juga kok."


Meta tahu pasti Tante Karoline menelponnya karena kejadian tadi.


"Gini meta, Rendi tadi bilang sama Tante, katanya kalian lagi marahan. Tapi maaf sebelumnya Tante jadi ikut campur nih masalah kalian."


"Memang Rendi bilang ke Tante kalo kita marahan?"


"Tadi sih Rendi bilang katanya ada kesalahpahaman sedikit dengan kalian. Meta, Tante gak akan membela siapa pun di sini. Jadi Rendi tadi bilang kalo ada salah satu karyawan yang merayu dan mencium dia. Sebenarnya Rendi sangat merasa bersalah sama kamu, bahkan dia langsung memecat karyawan wanita itu gara-gara kejadian tadi apalagi wanita itu sudah membuat kalian marahan."


"Wanita itu sampai dipecat sama Rendi Tante?"


"Iya, katanya Rendi gak mau lagi lihat dia di kantor. Jadi rendi mecat dia!"


"Emm meta gak nyangka karena kesalah pahaman ini jadi bikin orang dipecat. Jujur aku memang sakit hati ketika tahu Rendi dicium oleh wanita itu Tante."


"Tante tahu pasti kamu cemburu sama Rendi. Tapi meta, setahu Tante Rendi itu sangat menyayangi kamu. Bahkan Rendi pernah bilang kalo kamu adalah cinta pertama dan terakhir buat dia. Tante tahu mungkin ini sulit, tapi Tante juga gak akan maksa kamu."


"Aku tahu Tante, aku juga sangat menyayangi Rendi. Aku hanya butuh waktu untuk meredam rasa sakit hatiku melihat kejadian tadi. Jadi maaf karna dari tadi memang aku sengaja gak ngangkat telpon dan pesan Rendi."


"Seandainya bisa sebenarnya Tante ingin kalian cepat menikah. Tapi sepertinya Tante harus bersabar menunggu kalian lulus kuliah. Kemarin waktu Rendi pulang dari Jerman, katanya kalian akan bertunangan?"


"Iya Tante, Rendi mengutarakannya waktu di Paris, bahkan dia memberiku cincin yang sangat cantik. Dari dulu aku memang selalu bermimpi bisa dilamar oleh pria tampan di kota paling romantis di dunia yaitu di Paris. Eh maaf Tante aku jadi curhat."


"Tante malah seneng bisa kamu jadikan teman curhatmu. Meta, kamu ada waktu sebentar untuk ke Singapura? Gak lama kok, mungkin 2 hari."


"Untuk apa Tante?"


"Tante pengen bikin surprise untuk Rendi."


"Surprise?"


"Masak kamu lupa sih kalo besok Sabtu itu Rendi ulang tahun?"


"Oh iya, ya ampun aku baru inget Tante."


"Gimana kalo kita bikin surprise ke dia. Eh tapi tunggu, kamu udah gak marah sama Rendi lagi kan?Atau jangan-jangan kamu masih marah sama dia, dia udah langsung mecat wanita perayu itu Lo demi kamu!"


"Aku udah gak marah kok sama Rendi, aku tahu ini cuma salah paham."


"Syukurlah kalo gitu, Tante jadi ikut lega. Berarti kamu setuju kan kita bikin surprise untuk Rendi? Tapi untuk beberapa hari ini kamu jangan mengangkat atau membalas pesan dari Rendi dulu."


"Iya Tante, pokoknya beres."


Tante Karoline menjelaskan panjang lebar perihal surprise ulang tahun untuk Rendi. Bahkan sepertinya Tante Karoline sudah memikirkannya dari jauh-jauh hari.


Pada dasarnya meta memang masih menyimpan kepercayaan pada Rendi. Karena Rendi bahkan sudah menunjukan keseriusannya untuk bertunangan. Jadi meta rasa Rendi benar-benar ingin serius dengannya.


Setelah menerima telpon dari Tante Karoline meta merebahkan tubuhnya lagi ke ranjang, hari ini rasanya dia sangat lelah sekali. Apalagi mengingat kelakuan Devan yang aneh tadi.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu kamar membuyarkan lamunan meta. Dengan malas dia melangkahkan kakinya untuk membuka pintu.


Meta sudah bisa menebak siapa orang yang sudah mengganggunya, yang tak lain adalah Devan.


"Met, kamu punya mie instan?"


"Ampun deh kamu tuh Van, gak bosen-bosen gangguin orang. Hampir aja aku mau tidur tapi gara-gara kamu ngetuk pintu kamar aku jadi bangun kan!!"


"Ssssttttt! Udah ngomelnya?? Gimana punya atau gak?"


"Tuh ada di dapur ambil aja sendiri. Lagian kamu tuh tadi habis makan steak di cafe masih aja belum kenyang!"


Tanpa aba-aba Devan langsung mencari mie di dapur kamar meta.


"Eh met, aku bikin sekalian di sini yah?"


"Ya ampun ini anak, gak odal banget sih! Udah minta traktir sekarang minta mie instan, eh malah mau masak di sini juga lagi. Emang kompor di kamar kamu kemana??".


"Komporku? Ada sih, cuma pengen bikin mi di sini aja, biar ada temennya. Sapa tahu kan kamu ngerasa stres karna sakit hati sama Rendi terus kamu nglakuin hal yang nggak-nggak."


"Helllowww, maksud kamu apa tuh nglakuin hal yang nggak-nggak! Bilang aja kamu tuh gak modal mau numpang makan di sini pake nuduh hal-hal aneh lagi!"


"Ya kali Lo khilaf terus berbuat aneh-aneh!!"


"Devan....!!!Kalo kamu gak bisa diem nanti aku usir dari sini!!Cepet tuh bikin mie instannya, o iya sekalian aku juga bikinin!!"


"Iya, iya, aku bikinin nih!!"


"Gitu dong, harus tahu diri kalo minta makan tuh!!"


"Huh dasar!!' gerutu devan.


15 menit kemudian Devan selesai membuatkan mie untuk mereka berdua.


"Eh met gimana kamu udah telpon Rendi?" tanya Devan sambil menyantap mienya.


"Belum."


"Kenapa? Kamu masih marah?"


"Sengaja gak aku angkat telponnya. Oh iya Van besok aku mau ke Singapura."


"Ngapain?"


"Heleh kepo aja kamu!!"


"Ya elah ditanyain serius juga, mau ngapain ke sana? Emang kamu gak ada kuliah?"


"Aku mau kasih surprise buat Rendi, paling 2 hari di sana."


"Oh, surprise apa?"


"Pengen tahu aja sih urusan orang!!"


"Ya udah sih, gak mau kasih tahu juga gak papa! Gak penting juga kan gue tahu!!" kata Devan ketus.


"Ngambek?"


Devan terdiam tak memberi respon, dia hanya fokus menyantap mienya. Seolah-olah bersikap cuek dengan kata-kata meta.


"Ya udah aku kasih tahu deh, biar kamu gak penasaran. Tadi mamanya Rendi telpon sama aku ngejelasin semuanya, terus kita berdua sepakat buat ngasih kejutan ulang tahun buat Rendi," kata meta menjelaskan panjang lebar.


"Oh...!"


"Cuma oh doang??"


"Ya terus suruh bilang apa? Ya ampun so sweet banget!!!!Gitu??"


"Ish...kamu tuh nyebelin!!"


"Biarin...Aku udah selesai makan nih, sini aku cuciin mangkokmu sekalian!"


Devan beranjak dari duduknya dan dia benar-benar membereskan semuanya.


"Makasih ya met mienya, aku mau ke kamarku dulu, ngantuk mau tidur. Bye." kata Devan sambil keluar dari kamar meta.


Meta bingung dengan sikap Devan yang tiba-tiba berubah.