TERJEBAK CINTA META

TERJEBAK CINTA META
Iya Aku Mau!


Rendi mendudukkan dirinya di samping meta, bersiap untuk menyantap makanan yang sudah tersaji.


"Ayo dimakan, kenapa cuma dilihatin!"


"Ini juga mau dimakan kok."


"Kenapa jadi salting gitu sih?"


"Siapa yang salting?"


"Kamulah."


"Gak, ya udah ayo makan, aku udah laper banget nih! Tadi gak sempet makan malah udah keburu pulang."


"Habisnya ada pengganggu sih, lagian heran banget, kenapa sih selalu aja ada si kunyuk Devan itu! Dia pasti sengaja tuh ngikutin kita supaya dia bisa membuat kacau makan malam kita. Huft...bikin gak mood aja kalo ngomongin dia. Oh iya jadi ke inget, cincinnya?"


"Kamu tenang aja cincinnya aku simpen tadi."


"Syukurlah kalo gitu, gara-gara si Devan aku jadi lupa tentang cincin itu, dia itu udah ngrusak makan malam kita tahu gak. Aku heran kenapa sih dia ganggu kita terus!"


"Udahlah Rend, gak usah bahas Devan lagi. Nanti kamu jadi emosi dan gak jadi makan lagi. Sekarang kita makan dulu ya!" kata meta mencoba meredam emosi Rendi.


"Iya ini aku makan!" kata Rendi sambil melahap steak yang sudah terhidang.


Selesai makan malam meta melihat ke balkon kamar hotel. Terlihat menara Eiffel dari kejauhan dihiasi lampu yang begitu indah.


Rendi menghampiri meta dan memeluknya dari belakang.


"Rendi....!" kata meta kaget.


"Mana cincinnya sayang?"


Tangan Rendi melingkar di pinggang meta, dagunya dia tumpukan di bahu meta.


Rasanya jantung meta berdegup kencang, dia benar-benar merasa gugup. Bahkan rasanya dia kehabisan oksigen karna menahan nafas karena pelukan Rendi yang begitu erat.


"Itu aku taruh di meja rias."


"Ok, aku ambil yah."


Rendi melepaskan pelukannya dan mengambil cincin itu.


Sesaat kemudian dia menghampiri meta yang masih berdiri di balkon.


"Sepertinya kita harus meneruskan yang tertunda tadi!"


"Tertunda?" tanya meta bingung.


Rendi tiba-tiba berlutut di depan meta.


"Met, kamu mau gak jadi tunanganku!"


Meta kembali dibuat bingung oleh Rendi, meski sebenarnya inilah yang dia impikan, dilamar oleh seorang pria tampan di romantisnya kota Paris. Apalagi di malam yang sangat syahdu ditemani temaram sinar lampu hotel.


Meta berpikir sejenak.


"Iya, aku mau Rend!" jawab meta dengan mengangguk.


"Beneran kamu mau kita tunangan?Aku gak mimpi kan?" teriak Rendi seolah tak percaya.


"Iya aku beneran mau jadi tunangan kamu!" kata meta meyakinkan.


Rendi yang melonjak kegirangan langsung memakaikan cincin di jari manis meta.


"Makasih ya sayang!" kata Rendi sambil mencium tangan meta.


"Iya, kamu tahu kan ini salah salah satu mimpiku, dilamar di kota Paris."


"Aku emang sengaja pengen mewujudkan mimpi kamu itu!"


"Makasih ya Rend. Aku seneng banget malam ini! Makasih atas semua kejutan yang kamu kasih hari ini!"


"Apa pun buat kamu!" jawab Rendi.


Rendi memeluk meta erat dan mencium kening meta. Perasaan bahagia menyelimuti mereka malam ini.


"Tapi Rend? kamu gak akan nglarang aku buat nerusin kuliah di Jerman kan walaupun kita tunangan?"


"Aku harap kamu bisa bersabar sampai aku benar-benar sudah lulus kuliah. Lagi pula kamu juga harus nyelesain kuliahmu kan?"


"Aku akan nunggu sampai saat bahagia itu tiba. Aku janji secepatnya bakal nyelesain kuliahku, dan aku juga akan membangun perusahaanku buat masa depan kita dan anak-anak kita nanti!"


Rendi menangkupkan tangannya ke pipi meta, meraih dagu meta dan kemudian mencium bibirnya dengan lembut. Meluapkan segala kebahagian mereka malam ini.


Rasanya malam ini begitu romantis, mereka bercumbu di tengah temaram lampu balkon kamar hotel ditemani sepoi angin yang begitu syahdu.


Keesokan harinya


Meta terbangun dari tidurnya, sekilas melihat Rendi yang masih tertidur di sofa. Sesaat meta mengingat kejadian semalam saat Rendi melamarnya, rasanya begitu romantis, dan mungkin peristiwa itu akan selalu dia kenang selama hidupnya.


Meta beranjak dari tidurnya untuk menghampiri Rendi, menyelimutinya dengan hati-hati supaya Rendi tidak terbangun.


Namun saat dia beranjak dari tempat duduknya Rendi menarik meta dan memeluknya.


"Mau kemana?" kata Rendi sambil memeluk meta dari belakang.


"Rendi, kamu tuh suka banget bikin aku kaget!"


"Tapi kamu suka kan?" bisik Rendi di telinga meta.


Hembusan nafas Rendi di telinganya membuat meta merinding. Rasanya dia tak bisa berbuat apa-apa saat Rendi memeluknya seperti itu.


"Aku mau mandi Rend? Kita kan mau pulang ke Jerman lagi kan hari ini?"


"Padahal aku masih pengen berlama-lama berduaan sama kamu di sini."


"Tapi besok kita kan udah masuk kuliah kan? Katanya semalam kamu udah janji mau kuliah yang bener sambil belajar mimpin perusahaan?"


"Iya, iya, sayang, aku inget kok! Demi kita cepet nikah aku mau kuliah yang bener sambil kerja di perusahaan mama. Oh iya nanti aku mau telpon mama supaya bisa ngatur tentang acara pertunangan kita, apa kamu gak mau kasih tahu mama kamu!"


"Nanti aku bilang sama mama, nanti biar bisa sama-sama nentuin tanggalnya!"


"Cie....cie....udah gak sabar mau tunangan yah, udah langsung mau nentuin tanggal aja nih kayaknya!"


"Rendi....aku udah serius kamu malah becanda lagi!" kata meta cemberut.


"Iya, iya maaf sayang, jangan cemberut gitu dong. Sebagai cowok yang bertanggung jawab nanti aku akan khusus secara pribadi bertemu dengan mama kamu!"


Meta tertawa terbahak melihat kelakuan Rendi yang ingin terlihat serius tapi malah terlihat lucu.


"Lah malah ketawa lagi, tadi suruh serius, udah serius kamu malah becanda! Ngeselin deh!"


"Ups....maaf aku kan gak sengaja keceplosan ketawa, abisnya ekspresinya itu lucu banget kalo lagi serius!"


"Apah....lucu....?"


Rendi menggelitiki perut meta, tapi karena meta tak tahan digelitik justru secara tak sengaja terbaring di sofa dengan posisi mereka yang sangat dekat.


Jantung meta berdegup kencang dengan kedekatan yang begitu dekat seperti ini. Sesaat mereka pun hening dan saling bertatapan satu sama lain.


Rendi justru semakin mendekat dan mencium bibir meta dengan penuh hasrat.


"Rend, udah ah....aku mau mandi!" jawab meta menghindari Rendi yang sebenarnya sudah terbakar oleh hasrat.


Meta tak mau melakukan hal-hal yang kelewat batas sebelum mereka menikah.


"Maaf sayang aku kelepasan!"


"Aku gak mau kita khilaf, apalagi sampai melakukan hal-hal di luar batas."


"Tenang aja sayang, aku bakal jaga kamu sampai kita nikah nanti. Ya udah mandi sana, atau mau aku mandiin."


"Rendi...baru aja tadi bilang gak bakal ngapa-ngapain...sekarang mulai lagi!" jawab meta sambil melotot.


"Iya...iya...maaf...keceplosan. Ya udah mandi gih sebelum aku berubah pikiran!"


Meta pun langsung bangun dari tempat duduknya dan berlari menuju ke kamar mandi.


"Dasar....gitu aja udah lari ketakutan! Apalagi kalo malam pertama?"


Rendi menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku meta yang selalu salting saat digoda olehnya.