TERJEBAK CINTA META

TERJEBAK CINTA META
Benar-benar Bucin


Sepertinya Dinda memang tak pernah bosan mencari celah untuk menarik perhatian Rendi. Meta melihat Dinda begitu agresif mendekati Rendi. Bahkan di depan matanya berani-beraninya dia terang-terangan mendekati Rendi.


"Hai meta!" sapa seseorang.


Meta mengalihkan pandangannya ke orang yang menyapanya. Menatap wajah seseorang itu dengan penuh rasa malas yang masih menyergap di hatinya. Tiba-tiba teringat peristiwa tidak mengenakan beberapa Minggu sebelum kelulusan sekolah.


"Kamu apa kabar met? Lama banget gak bertemu, aku benar-benar kangen sama kamu!"


Meta membulatkan matanya mendengar kata-kata memuakkan itu dari Ardian. Orang yang bahkan dia ingin hajar ketika dia hampir berlaku hal-hal yang tidak pantas pada dirinya.


"Mau ngapain lo ke sini! Masih berani Lo muncul di hadapan meta!" kata Devan sambil menghalangi Ardian yang mendekati meta.


"Gue gak ada urusan sama lo! Lagian lo tuh gak berubah yah, masih aja jadi pahlawan kesiangan buat meta!"


"Apa Lo bilang, lo tuh pengen cari ribut sama gue? Pake bilang pahlawan kesiangan segala lagi! Kalo Lo berani macam-macam sama meta, gue bakal bener-bener bikin perhitungan sama lo!"


"Gue gak bakal ganggu meta, gue cuma mau nyapa dia aja karena udah lama gak ketemu sama dia, sekaligus gue pengen minta maaf sama dia mengenai kejadian waktu itu!"


Melihat kehadiran Ardian yang ada di depannya saat ini seperti membuka kisah lama yang membuatnya tak ingin mengingatnya lagi.


Ardian mendekati meta yang dari tadi membuang muka padanya, sedang Devan juga mengawasi Ardian dan bersiap untuk menghajarnya seperti waktu dulu dia menghajar Ardian saat dia hendak berbuat kurang ajar dengan meta.


"Aku bener-bener minta maaf met, aku gak pernah maksud untuk melakukan hal-hal yang tidak pantas. Aku bener-bener diluar kendali waktu itu. Aku berharap kamu bener-bener mau maafin aku!"


"Ardian, gue udah bilang kan sama Lo gue bakal maafin Lo asal lo jangan muncul di depan gue lagi. Jadi gue mohon Lo pergi jauh-jauh dari hadapan gue! Waktu itu gue udah berbaik hati untuk tidak memperkarakan semua perlakuanmu ke jalur hukum jadi gue berharap kita gak bakal ketemu lagi!"


Ardian mendekati meta dan meraih tangan meta, entah dia refleks atau ada tujuan lain tapi yang jelas meta merasa tak Sudi disentuh oleh Ardian.


Dari kejauhan Rendi melihat meta yang sedang bersama dengan Ardian membuat Rendi langsung menghampiri meta. Bahkan Rendi mengacuhkan Dinda yang dari tadi berusaha menarik perhatiannya.


"Eh rend, diajak ngomong kok malah pergi sih!" teriak Dinda kesal.


Rendi tak menggubris ocehan Dinda, yang ada dibenaknya sekarang hanya pertanyaan tentang Ardian yang berani-beraninya mendekati meta.


Rendi melepaskan tangan Ardian yang berusaha menggenggam tangan meta dengan kasar.


"Ngapain lo ganggu meta lagi!" teriak Rendi.


Teriakan Rendi itu membuat teman-teman yang ada di sekitar mereka kaget dan melihat ke arah Rendi dan Ardian.


"Gue cuma mau minta maaf sama meta, itu aja kok!" jawab Ardian agak kikuk.


"Gue udah pernah bilang sama Lo, jangan pernah lo muncul di hadapan meta lagi. Masih untung waktu dulu meta gak nglaporin Lo ke polisi."


Ardian pun mulai ciut ketika mendengar kata-kata polisi, pasalnya memang dulu bisa saja meta menjebloskannya ke penjara karena kesalahannya itu.


"Sabar Rend, gue janji gak akan ganggu meta lagi, gue tadi cuma nyapa dia aja dan gue mau minta maaf sama meta, itu aja kok!"


"Ya udah Lo udah minta maaf kan, jadi sebaiknya Lo pergi jauh-jauh dari hadapan kita sebelum gue berubah pikiran!"


"Okey gue bakal pergi, tapi gue cuma berharap meta benar-benar maafin kesalahan gue yang memang fatal bagi meta!" kata Ardian sambil menatap meta.


"Gue udah maafin Lo, jadi gue harap Lo bisa jauh-jauh dari hadapan gue!"


"Gue akan pergi dari hadapan Lo, tapi gue mohon tolong Lo baca ini ya met!"


Ardian memberikan amplop putih kepada meta.


"Lo tuh malah nglunjak yah, udah di kasih kesempatan buat minta maaf malah mau ngasih sesuatu ke cewek gue, Lo mau ngasih surat cinta dengan gombalan-gombalan alay Lo itu kayak waktu dulu SMA?"


Rasanya amarah Rendi mulai membuncah melihat Ardian yang dari dulu ingin menarik perhatian meta dengan gombalan-gombalannya.


"Gue mohon met, kamu bisa baca ini, setelah ini aku janji gak bakal gangguin kamu lagi!"


Ardian pun memberikan amplop itu dan berlalu meninggalkan mereka.


"Apa sih maunya tuh anak, pakai suruh baca surat kayak gini lagi!" gerutu Rendi.


"Aku juga gak tahu, tapi yang jelas aku gak mau ketemu sama dia lagi!"


"Ya udah kita ke sana aja yuk, aku haus dari tadi belum minum!"


Rendi menarik tangan meta dan tak menghiraukan Devan dan Rika yang sedari tadi mematung di situ melihat adegan pertengkaran mereka.


"Huft....cinta itu rumit banget yah....!" celetuk rika.


Devan yang ada disampingnya spontan mengernyitkan dahinya mendengar kata-kata dari Rika.


"Maksud Lo?"


"Iya, yang satu sukanya sama siapa, yang satunya lagi sukanya sama siapa? Huft bener-bener rumit!"


"Cinta emang gak bisa ketebak, dan cinta juga gak bisa milih sama siapa dia akan memilih!" kata Devan sambil menatap meta dan Rendi dari kejauhan.


Terus terang saat ini Devan memang juga tidak mengerti dengan perasaanya sendiri, bahkan sekuat tenaga dia mengelak dari perasannya justru dia semakin yakin tentang perasaan cintanya itu. Perasaan cinta yang sebenarnya salah.


"Van, hei kok malah nglamun sih?"


Rika mengamati Devan yang tak mengalihkan pandangannya dari meta dan Rendi yang duduk di meja.


"Lo pasti merhatiin mereka berdua kan? Ayolah Van, sampai kapan sih lo kayak gini terus?"


"Ngomong apa sih lo Rik?"


"Sampai kapan lo nunggu orang yang jelas-jelas udah tunangan! Gue tahu kali Van dari dulu Lo suka kan sama meta, bahkan mungkin sebelum ada Rendi di sekolah kita!"


"Ngawur Lo!" jawab Devan cuek masih sambil menatap meta dari kejauhan.


"Halah nih anak udah ketangkep basah masih aja ngelak! Gue tahu kali Van dari dulu, dan gue juga tahu kalo Lo kuliah ke Jerman supaya bisa tetep Deket sama meta. Lo gak perlu ngelak lagi Van, orang bego sekalipun juga pasti bakal tahu dari semua perlakuan Lo ke meta!"


"Terus kalo Lo dan seluruh orang bego di dunia ini udah tahu terus mau Lo apa?"


"Ya elah nih anak, bener-bener ngeselin yah!"


"Ya abis pakai bawa orang bego segala lagi!"


"Karna Lo gak mau ngaku kalo Lo bener-bener bucin sama meta yang jelas-jelas udah punya Rendi! Sebagai temen yah Van gue cuma gak mau Lo terus-terusan sakit hati melihat mereka berdua kayak gitu. Jadi mending Lo lupain meta dan cari cewek lain!"


Semua yang dikatakan Rika padanya itu memang benar, karna tak seharusnya dia berharap pada meta yang jelas-jelas sudah punya Rendi. Tapi lagi dan lagi perasaannya pada meta sulit untuk ditampiknya.


^^Jangan lupa vote dan like ya.....terus pantengin kelanjutan ceritanya ya..... thanks my reader yang udah setia baca novelku dan udah kasih vote dan like.....😘😘^^