TERJEBAK CINTA META

TERJEBAK CINTA META
Menara Eiffel


Seperti rencana kemarin Rendi dan meta berangkat ke Paris menggunakan pesawat. Hanya dalam waktu kurang lebih 1 jam mereka sudah tiba di Paris.


Tak hentinya meta mengaggumi keindahan kota Paris yang romantis. Gaya klasik bangunan yang masih di jaga membuat tata kota terlihat begitu cantik.


Tujuan pertama mereka tentu saja adalah menara Eiffel. Rendi sengaja mempersiapkan mobil khusus yang dia pesan kemarin untuk mengantarkan mereka keliling kota Paris. Rencananya malam ini mereka akan menginap di kota ini.


"Kamu suka sayang?" tanya Rendi kepada meta yang sedari tadi mengamati hiruk pikuk jalanan.


"Aku suka banget Rend, selain Jerman negara impianku adalah kota Paris yang romantis. Dulu aku pernah bermimpi, ada pangeran tampan yang bisa melamar ku di Eiffel, kota ini begitu romantis!" terang meta sambil berkhayal.


"Aku juga suka kota ini, aku gak nyangka selain dulu aku bisa jalan-jalan ke Singapura sama kamu ternyata sekarang aku bisa jalan-jalan ke Paris sama kamu. Kalo kamu suka di Paris, nanti kalo kita nikah kita bulan madu di sini aja."


"Tuh kan mulai lagi ngomongin nikah, tapi kalo di pikir-pikir seru juga kali bisa bulan madu keliling Eropa. Tapi....."


"Iya aku tahu kita mesti lulus kuliah dulu kan."


Meta hanya tersenyum menanggapi perkataan Rendi itu, sambil memandangi jalanan kota Paris dari dalam mobilnya.


Sesaat mobilnya berhenti di Taman Champs de Mars. Taman indah dekat dengan menara Eiffel menjadi pemberhentian awal mereka.


"Rend, ayo kita foto-foto dengan latar belakang menara Eiffel."


Meta menarik tangan Rendi seperti anak kecil yang meminta dibelikan permen.


"Iya sayang nanti aku foto, kamu nih kayak anak kecil aja!" jawab Rendi sambil mengelus rambut meta.


Rendi pun mengambil gambar meta dengan latarbelakang menara Eiffel dan kemudian bergantian meta memfoto Rendi. Tak ketinggalan Rendi meminta sopir sekaligus tour guidenya untuk memfoto mereka berdua.


Setelah selesai bergaya beberapa pose, mereka mencari makan untuk mengisi perut.


"Kamu mau makan apa sayang?"


"Kita makan di sekitar sini aja, itu ada yang jual sandwich! Kamu mau?


"Ya udah kita ke sana aja yuk!"


Mereka berdua makan sekaligus menikmati pemandangan yang ada di taman itu.


"Malam ini kita nginep di hotel sekitar sini aja ya!"


"Hotel?"


"Iya, kalo gak nginep di hotel mau nginep dimana dong! Tenang aja, aku gak bakal macem-macem kok."


"Tapi aku masih mau di sini. Katanya menara Eiffel kalo malam terlihat lebih romantis. Gak papa kan kita di sini dulu!"


"Iya, apa pun buat kamu, biar kamu seneng!"


"Makasih rendi sayang....!"


"Tumben?"


"Apanya yang tumben?"


"Tumben bilang sayang ke aku, biasanya aku yang kelihatan bucin tiap hari manggil kamu sayang!"


"Hehehe, aku malu tahu kalo bilang sayang ke kamu!"


"Hahaha, malu?Kayak pacaran baru 1 bulan aja masih malu-malu, kamu tuh ada-ada aja!"


Dret dret dret


Rendi mendapat satu panggilan telpon, dengan sigap dia langsung mengangkat telponnya.


"Halo!"


"........"


"Ok thank you!"


Meta memperhatikan Rendi yang sedang telpon, seakan bertanya-tanya siapa yang sedang menelpon Rendi.


"Siapa Rend?" tanya meta setelah melihat Rendi mematikan panggilannya.


"Oh, nggak orang dari kantor tanya beberapa file!"


"Oh gitu!"


"Em sayang katanya kamu mau menikmati suasana romantisnya malam di kota Paris?"


"He em, terus?"


"Gimana kalo kita ke suatu tempat yang paling romantis di sini?"


"Tempat romantis?Dimana?"


"Di hatiku..." jawab Rendi sambil terbahak.


"Iya, ampun, kamu tuh gak pernah berubah. Masih aja suka nggelitikin aku!"


"Abisnya kamu nyebelin!"


"Ya udah pokoknya ikut aku, gak jauh dari sini kok. Tapi kamu tutup mata dulu!"


"Lah, kenapa pakai tutup mata segala sih?"


"Biar surprise!"


Sepertinya Rendi sudah mempersiapkan semuanya untuk meta. Bahkan Rendi sudah menyiapkan kain penutup mata untuk digunakan meta.


Rendi menuntun meta ke dalam mobil, sedang meta hanya bisa pasrah walaupun dalam hatinya merasa berdebar menanti surprise dari Rendi.


"Apa sih rend surprisenya, kok pake ditutup matanya segala?" tanya meta penasaran.


"Adalah, nanti kamu lihat aja, pasti kamu bakal suka banget!"


"Bikin penasaran aku aja!"


Beberapa menit kemudian mobilnya sampai ke tempat yang dituju. Rendi menuntun meta ke lantai 2 menara Eiffel, Rendi memang sengaja mengajak meta ke salah satu cafe ternama di kota itu.


"Rend kita mau kemana sih? Kok gak nyampe-nyampe? Jangan-jangan kamu mau ngerjain aku yah?"


"Sabar sayang bentar lagi sampe kok!"


Mereka berdua sampai di cafe Le Jule Vernes, Rendi mendudukkan meta di salah satu meja yang sudah dipesan sebelumnya. Rendi berusaha mencari tempat yang paling bagus supaya meta bisa menikmati makan malam dengan pemandangan kota Paris yang sudah dihiasi gemerlapnya lampu.


"Okey, aku buka yah, siap?" tanya Rendi.


"Iya."


Meta membuka matanya, menatap sekelilingnya, merasakan takjub ternyata dia sudah berada di dalam cafe dengan nuansa romantis. Apalagi dengan pemandangan kota Paris yang begitu indah di malam hari.


"Rend, kamu yang nyiapin semua ini?'


"Iya, aku siapin khusus buat kamu! Kamu suka?"


"Suka banget, makasih ya Rend!" kata meta sambil menggenggam tangan Rendi.


"Apa pun bakal aku lakuin buat kamu asalkan itu bisa buat kamu bahagia! Oh iya aku ada sesuatu buat kamu!"


Rendi memberikan kode pada pelayan, sesaat pelayan itu membawakan sesuatu ke meja mereka.


"Aku punya sesuatu buat kamu."


Rendi mengambil sebuket bunga mawar putih yang dibawakan oleh pelayan tadi dan memberikannya pada meta.


"Mawar putih untuk orang yang paling spesial!" kata Rendi sambil memberikan buket bunga mawar putih.


Dengan perasaan berseri meta menerima bunga pemberian Rendi. Kali ini meta benar-benar terharu dengan perlakuan Rendi. Bahkan saking terharunya sampai dia tak sadar menitikkan air mata.


"Ya ampun, ini bagus banget Rend. Makasih yah, aku suka banget sama semua ini!Hiks!"


"Jangan nangis dong, aku ke sini biar kamu bisa seneng, bukannya nangis kayak gini, udah ya jangan nangis!" kata Rendi sambil mengusap lembut air mata meta.


"Aku cuma terbawa suasana aja, jadi gak bisa nahan air mataku! Tapi yang jelas aku seneng banget malam ini!"


"O iya ada satu kejutan lagi buat kamu!"


"Hem, apa lagi Rend?"


Rendi kembali memanggil pelayan yang ada di situ untuk mengantarkan pesanannya lagi. Sesaat pelayan itu mengantarkan pesanan makananan dan minuman untuk mereka.


"Kita makan dulu aja yah, aku udah laper banget nih!"


Meta mengernyitkan dahinya, sebenarnya bertanya dalam hati. Apa kejutan Rendi sesungguhnya, kenapa Rendi justru menyuruh untuk makan?


Rendi hanya tersenyum melihat tingkah laku meta yang sebenarnya penasaran.


"Ayo sayang minum dulu, pasti kamu haus kan dari tadi jalan-jalan! Aku sengaja pesan orange juice karna kamu pasti gak mau minum wine kan?" ajak Rendi.


"Iya, aku gak suka wine, aku lebih suka minuman jus. Aku minum ya!"


Meta meneguk minumannya, setelah beberapa kali tegukan. Meta tersadar ada benda di dalam gelasnya.


"Habiskan dong sayang jusnya, kamu pasti haus kan?" kata Rendi sambil tersenyum penuh makna.


"Iya ini aku habiskan."


Meta pun meneguk jus itu lagi, karna sebenarnya dia juga penasaran dengan benda yang ada di dalamnya.


Alangkah terkejutnya ketika jus itu habis meta menemukan sebuah benda itu.


"Apa ini Rend? kenapa bisa ada di minumanku?"