
Pagi ini Rendi bersiap untuk meeting mewakili mamanya, dengan setelan kemeja hitam dan sepatu senada berjalan menuju salah satu ruang meeting yang berada di lantai 8 salah satu perusahaan terkenal di kota itu Rendi nampak terlihat begitu gagah dan memukau. Walaupun mungkin usianya masih sangat muda untuk dikatakan sebagai pebisnis, namun dengan kepercayaan dirinya dia melangkah menuju ruang meeting.
Rendi diantar oleh 2 orang karyawan menuju ruang meeting, karena dia sudah ditunggu sedari tadi oleh pimpinan perusahaan rekanan bisnis mamanya.
"Silahkan masuk tuan!" salah seorang mempersilahkan Rendi untuk masuk ke dalam ruang meeting sambil membukakan pintu untuknya.
"Terimakasih!"
Rendi memasuki ruangan itu dan melihat beberapa orang yang sudah berada di ruangan itu.
"Silahkan masuk pak Rendi!"
Rendi melihat orang itu nampak tak asing baginya.
"Anda?" tanya Rendi kaget melihat siapa wanita yang ada di depannya.
"Ternyata kita bertemu lagi, saya gak nyangka kalo pak Rendi yang dibilang itu kamu!"
"Saya mewakili mama untuk meeting hari ini!"
Ternyata rekanan bisnis itu adalah orang yang ingin dia hindari bahkan sebenarnya dia tidak ingin berurusan dengannya.
"Pasti kamu kaget kalo ternyata orang yang kamu ajak meeting hari ini adalah saya. Terus terang memang kerja sama kita kali ini memang saling menguntungkan dan saya tahu betul reputasi mama kamu. Bagaimana kalo saya memberikan penawaran menarik untuk kamu?"
"Penawaran? Maksud Tante apa?"
Rendi melihat wanita paruh baya itu nampak ingin mengambil keuntungan dari kerja sama dengan perusahaannya.
"Saya bakalan mau bekerja sama dengan perusahaan mama kamu, bahkan saya akan membiayai semua proyek yang akan kalian rencanakan, tapi dengan satu syarat!"
"Apa syaratnya?"
"Putuskan hubungan kamu dengan meta, dan ikhlaskan meta dengan Ardian! Yah aku tahu ini memang pilihan berat buat kamu, tapi ini mungkin sebanding dengan keuntungan besar bagi untuk perusahaan kamu! Gimana?"
Rendi tersenyum kecut dengan penawaran dina yang seolah ingin menjebaknya dengan keuntungan perusahaannya.
"Saya tidak menyangka, pebisnis sekelas Tante bisa mencampur adukan urusan pribadi dengan urusan perusahaan! Dan asal Tante tahu, apa pun yang terjadi saya gak akan pernah nglepasin meta. Apalagi harus merelakan meta dengan anak Tante itu demi keuntungan perusahaan!"
"Jangan berpikir terlalu cepat dan mengambil keputusan yang tergesa-gesa. Mungkin untuk kamu itu semua gak akan kamu ambil, tapi bagaimana kalo mamamu yang menyetujuinya!" kata Dina yakin.
"Yang jelas sampai kapan pun aku gak bakal nglepasin meta, apalagi cuma demi keuntungan perusahaan semacam ini. Kalo begitu saya permisi, sebaiknya saya mencari partner bisnis yang lebih sesuai dengan perusahaan saya!Permisi!"
Rendi beranjak dari tempat duduknya dan hendak pergi dari tempat itu.
"Tunggu!!"
"Maaf sepertinya tidak ada lagi yang perlu dibicarakan dan saya masih banyak urusan lain!"
"Kamu masih muda, tidak sepatutnya mengambil keputusan yang terburu-buru seperti ini! Saya hanya melakukan ini karena terus terang saya tidak tega melihat Ardian yang kehilangan semangat untuk sembuh. Ardian itu adalah anak laki-laki satu-satunya yang Tante harapkan untuk meneruskan perusahaan ini. Tapi sekarang semuanya sudah hancur, semenjak Ardian divonis penyakit meningitis rasanya dia sudah tak punya harapan untuk hidup lagi. Dan hanya meta satu-satunya yang bisa menyemangati Ardian. Jadi saya benar-benar minta tolong nak Rendi bisa melepaskan meta untuk Ardian, sebagai gantinya Tante akan memberikan apa pun buat kamu!"
Dina memegang tangan Rendi sambil memohon, meruntuhkan segala ego dan reputasinya untuk memohon pada Rendi.
"Maaf Tante, saya bener-bener gak bisa! Cinta saya ke meta gak akan pernah bisa digantikan dengan apapun! Jadi mohon maaf saya gak bisa melepaskan meta. Permisi!"
"Apa Tante harus berlutut sama kamu supaya kamu bisa menolong Tante! Tante benar-benar tidak tahu lagi mesti bagaimana? Tante benar-benar tidak mau kehilangan Ardian dan hanya meta semangatnya untuk bisa sembuh!" kata Dina memohon sambil menangis dan berlutut.
"Tante gak perlu seperti ini!"
Rendi kaget melihat Dina yang bahkan sambil berlutut memohon ya seperti itu. Dengan sigap Rendi langsung mengajak Dina untuk berdiri, karena Rendi merasa tidak enak jika sampai adegan itu dilihat oleh orang lain.
"Tante gak tahu mesti gimana lagi memohon sama kamu!"
"Tante, saya tahu perasaan Tante seperti apa, tapi saya juga mohon sama Tante untuk juga bisa mengerti perasaan saya. Terus terang saya juga tidak bisa begitu saja melepas meta, saya benar-benar cinta dengan meta, dan gak mungkin akan melepaskan meta apalagi untuk orang lain. Jika memang Tante ingin saya menolong Tante, bukan seperti ini caranya. Saya akan bantu Tante, tapi bukan dengan cara merapatkan meta untuk Ardian."
"Lalu bagaimana caranya?"
"Saya dan teman-teman yang lain akan memberi semangat dan meyakinkan Ardian untuk berobat supaya dia bisa sembuh. Saya janji akan memulihkan semangat dia lagi!"
"Tante gak yakin itu bisa berhasil! Ardian divonis tidak akan bertahan lama apalagi dia tidak mau menjalani perawatan!"
"Tante, tidak ada yang pernah tahu seberapa lama umur seseorang, meski itu doktet sekalipun. Jadi selagi kita masih bisa berusaha setidaknya kita harus mencobanya Tante!"
Rendi menatap wajah Dina untuk meyakinkan, setidaknya dengan cara itu Dina bisa berpikir lebih jernih untuk mengatasi kesembuhan Ardian.
"Baiklah, Tante akan memberikan kesempatan untuk kamu membuktikan semua itu!"
"Nanti saya akan bawa teman-teman yang lain untuk ikut menyemangati Ardian, siapa tahu itu bisa memberikan semangat untuk dia mau berobat."
"Terimakasih nak Rendi, kamu sudah mau membantu Tante. Maaf kalo tadi Tante begitu emosional ingin merebut meta dari kamu!"
"Tante, sekali lagi saya mohon maaf, sampai kapan pun saya tidak akan melepaskan meta apalagi hanya demi keuntungan perusahaan. Masih banyak cara lain untuk bisa menyembuhkan dan memberi semangat untuk Ardian. Saya janji akan membantu Tante supaya Ardian bisa semangat lagi!"
"Tante benar-benar berterima kasih, Tante gak nyangka kamu mempunyai pemikiran yang jauh lebih dewasa dibanding umurmu. Memang tidak salah mamamu menyuruh kamu untuk mewakilinya mengurus perusahaan. Tante minta maaf kalo waktu itu bahkan tante sempat meremehkanmu!"
"Iya Rendi bisa memahami, Rendi tahu pasti Tante juga bingung dalam menghadapi semua ini! Tante tenang saja pasti nanti Rendi akan membantu, nanti setelah ini biar Rendi menemui Ardian dan Rendi juga bakal ngajak temen-temen Rendi yang lainnya! Kalo gitu Rendi pamit dulu ya Tante!"
"Iya, semoga rencana ini bisa berjalan lancar, Tante benar-benar berharap nak Rendi bisa membujuk Ardian untuk menjalani pengobatan penyakitnya!"
"Kalo gitu Rendi permisi dulu Tante, dan silahkan nanti untuk berkas-berkas perusahaan saya nanti silahkan Tante pelajari terlebih dahulu sebelum kita bekerja sama lebih lanjut!"
"Pasti, nanti Tante akan pelajari semua berkasnya! Tante juga berharap kita bisa bekerja sama lebih lanjut!"
Rendi menaruh semua berkas yang diperlukan dan meninggalkan ruangan itu.