
Ciiittttttt
Mobil Devan seketika mendadak berhenti, meta yang tadi hampir tertidur kaget Devan mengerem mobilnya mendadak.
"Devan....kamu pengen bunuh aku? Kenapa sih ngerem mendadak kayak gitu! Hampir aja kepalaku kejedot!"
"Sorry met, gak sengaja! Itu ada mobil di depan yang berhenti mendadak!"
Meta langsung melihat ke depan memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
"Rendi!!"
"Hah Rendi?" tanya Devan yang juga langsung memastikan apakah benar itu Rendi.
Rendi keluar dari mobil yang tadi menghadang mobil Devan. Rendi menghampiri mobil Devan, seolah dia sudah tahu kalo meta memang sedang berada di dalam mobil Devan, Rendi langsung menuju jendela samping kiri.
Spontan meta pun langsung membuka pintunya untuk bertemu dengan Rendi.
"Rend, kamu kemana aja? Dari tadi aku nyariin kamu!"
"Kamu pulang bareng aku, ayo ke mobilku!" jawab Rendi dengan tatapan tajamnya pada meta.
Meta tahu mungkin saat ini Rendi masih marah dengannya, meta tak mungkin menolak ajakan Rendi karna itulah yang dia harapkan dari tadi, bisa bertemu dan menjelaskan semuanya pada Rendi.
"Eh tunggu!" kata Devan.
"Makasih kamu udah nganter meta pulang, sekarang biar aku yang nganter pulang meta!"
Meta kaget melihat ekspresi datar dari Rendi, meski dia cukup lega Rendi tak emosi dengan Devan seperti biasanya.
"Rend, aku mau jelasin semuanya!" kata Devan.
"Aku gak perlu penjelasan dari kamu Van! Gue balik dulu sama meta, thanks udah nganter meta!"
"Makasih ya Van udah nganter aku!" kata meta.
Rendi membawa meta untuk masuk ke dalam mobilnya. Rendi membukakan pintu mobilnya untuk meta dan dia langsung mengantar meta menuju ke rumahnya.
Devan pun sekilas memandang kepergian mereka berdua. Sekarang dia hanya duduk tertegun di depan mobilnya sambil menyilangkan tangannya.
"Mungkin aku hanya sebagai cowok cadangan buat kamu met! Tapi aku yakin suatu saat nanti waktulah yang akan membuktikan semua usaha dan perjuanganku!" gumam Devan sambil menatap mobil Rendi yang sudah mulai menjauh.
"Bagimu mungkin aku hanya cowok cadangan atau memang benar apa yang dikatakan oleh Dinda kalo aku hanya pahlawan kesiangan buat kamu. Seandainya aku bisa membuang dan menghapus perasaan ini, mungkin aku gak tersiksa lihat kamu sama Rendi!"
"Aku memang bener-bener bodoh! Sangat bodoh! Kenapa aku harus mengharapkan orang yang jelas-jelas tidak pernah mengharapkan ku!"
Seolah Devan ingin menumpahkan segala perasaan kekesalan dan sakit hatinya pada dirinya sendiri.
Sementara di dalam mobil, meta dan Rendi masih terdiam membisu. Meta memperhatikan Rendi yang masih dingin seolah membuatnya tak berani mengeluarkan kata-kata.
"Rend!" kata meta mencoba memberanikan diri bicara pada Rendi.
"Aku tahu kamu pasti marah sama aku! Aku bisa jelasin semuanya."
Rendi masih fokus menatap ke arah jalan bahkan seolah dia tak mendengarkan kata-kata meta.
"Rend! Kamu bener-bener marah sama aku sampai kamu gak mau ngomong sama aku!" kata meta menatap Rendi yang seolah dari tadi tak memperdulikannya.
Meta pun hanya mendengus kesal melihat Rendi yang cuek seperti itu. Meta hanya menyilangkan tangannya sambil memandang ke arah jalanan di depannya.
"Aku gak suka kamu pakai baju milik cowok lain!" kata Rendi membuka suara.
Meta langsung teringat kali tadi dia mengenakan kaos dan Hoodie Devan.
"Tadi Devan kasih aku baju ganti sama hoodienya karna tadi aku kedinginan karna kehujanan waktu nyari kamu! Kalo kamu gak suka aku bakal lepas sekarang!"
"Ini pakai jaketku! Aku gak mau lihat tunangan aku pakai baju punya cowok lain!"
Rendi menepikan mobilnya dan melepaskan jaket yang dia pakai supaya bisa dipakai oleh meta.
"Lebih baik aku kedinginan dibanding lihat kamu pakai baju milik cowok lain!"
"Rend, aku minta maaf soal tadi!" kata meta sambil meraih tangan Rendi.
"Aku tahu ini bukan salah kamu, maaf kalo tadi aku sempet marah dan gak percaya sama kamu!"
"Aku bener-bener gak tahu kalo ada tulisan itu di bajuku! Rend, aku tahu kamu pasti marah sama aku dan pasti kamu mengira kalo aku sama devan ada apa-apa!"
"Sssttt....udah kamu gak perlu jelasin semuanya, aku udah tahu semuanya kok!"
"Maksud kamu?"
"Aku minta maaf karna tadi sempet pergi ninggalin kamu dan sempet cemburu sama kamu!Gak seharusnya aku seperti anak kecil kayak gitu. Harusnya aku memang lebih percaya sama kamu dibanding orang lain."
"Makasih Rend, kamu udah percaya sama aku, makasih juga karna kamu udah gak marah sama aku lagi!"
Rendi meraih tangan meta dan menggenggamnya erat.
"Aku janji aku gak bakal cemburu berlebihan seperti ini lagi! Harusnya aku menyadari bahwa kita sudah berkomitmen melalui pertunangan kita, dan aku pengen kita menjalani hubungan yang lebih dewasa lagi!"
"Aku bener-bener lega kamu gak marah sama aku lagi, aku sempat khawatir karna hpmu tadi gak bisa di hubungi!"
"Jujur aku memang tidak bisa terlalu lama marah sama kamu! Dan kamu juga harus berterima kasih sama sahabatmu Rika!"
"Terimakasih sama Rika?"
"Iya, karna dia yang udah jelasin semuanya ke aku dan dia juga yang tadi ngirim video kamu sama Devan waktu hujan-hujanan."
"Tunggu deh aku jadi makin bingung, maksudnya video apa lagi dan memangnya Rika bilang apa ke kamu?" tanya met benar-benar penasaran karena selama ini antara Rika dan Rendi bahkan tak pernah akrab apalagi saling mengobrol.
"Tadi setelah kejadian itu Rika telpon aku buat jelasin semuanya, dan dia juga ngirim video percakapan kamu sama Devan waktu hujan-hujanan tadi."
"Aku cuma menganggap Devan itu sebagai sahabatku, dan aku berharap kamu bisa percaya sama aku!"
"Aku percaya sama kamu, aku benar-benar minta maaf kalo aku terlalu cemburu denganmu. Itu semua karna aku gak mau kehilanganmu! Aku tahu Devan memang sangat menyukai kamu, aku juga tidak bisa egois untuk melarang perasaan Devan ke kamu. Tapi yang terpenting sekarang, perasaan cinta kamu ke aku melebihi apa pun!"
Meta tersenyum memandang Rendi yang jauh terlihat dewasa dalam menyikapi semua ini, itulah yang dia harapkan selama ini.
"Rend, aku gak pengen kita saling cemburu gak jelas seperti ini lagi, padahal kita udah tunangan! Aku pengen kamu janji sama aku supaya kamu bisa percaya dan gak cemburuan lagi!" kata meta sambil menjulurkan jari kelingkingnya.
"Iya aku janji!"
Rendi menyambut jari kelingking meta dengan senyum yang tersungging di bibirnya.
"I Love you meta sayangku!" kata Rendi sambil mencium kening meta.
"I Love you too!!"
"Ya udah aku anter kamu pulang ya!"
"He em! O iya Rend, besok aku udah harus balik ke Jerman!"
"Kok cepet banget?"
"Kan aku udah waktunya masuk kuliah lagi!"
"Padahal aku masih kangen sama kamu!"
"Hemmm iya sama, tapi kan kamu juga gak bisa terlalu lama ninggalin kuliah dan kerjaanmu di Singapura!"
"Iya deh Bu dokter, kita harus sama-sama semangat kan untuk mengejar impian kita, dan suatu saat nanti kita akan melangkah ke penghulu setelah semua impian kita terwujud!"
"Itu kamu tahu!"
Meta sebenarnya heran dengan Rendi yang sudah lebih dewasa semenjak kejadian tadi. Meski dalam hatinya bertanya-tanya dengan perubahan sikap Rendi. Tapi yang jelas malam ini meta benar-benar lega dan bahagia karna dia sudah bisa berbaikan dengan Rendi.