
Devan mengejar meta yang sudah mulai menjauh.
"Ni anak bener-bener nyebelin ya! Udah ngacak-acak rambutku maen ditinggal aja lagi!"
"Syukurin!" celetuk meta.
"Kamu harus tanggung jawab!"
"Apaan sih emang aku ngapain kamu sampai kamu minta pertanggung jawaban sama aku??"
"Kamu udah nglakuin hal menyebalkan, kamu udah ngacak-acak rambutku yang keren ini. Dan sebagai gantinya kamu harus traktir aku makan!"
"Ya elah, bilang aja minta ditraktir, pake bilang suruh tanggung jawab segala!!"
"Hehehehe, maklumlah tanggal tua! Belum dapet kiriman dari mama!"
"Tuh kan bener cuma modus minta ditraktir, tapi okelah kali ini aku yang traktir kamu. Mau makan apa?"
"Apa aja deh yang penting bikinan kenyang!"
"Ya udah kita ke cafe yang deket apartemen aja yah. Eh tapi harusnya kamu loh yang harus nraktir aku!"
"Lah kok bisa gitu?"
"Kan kamu tahu aku sedang bersedih gara-gara peristiwa tadi. Jadi harusnya kamu nyenengin aku dengan mentraktir aku makan. Tapi ini malah aku yang suruh nraktir kamu. Tapi kali ini gak papa lah anggep aja aku beramal sama kamu. Aku kan anak Sholehah!!"
"Iya, iya deh, terserah mau ngomong apa yang penting aku udah laper jadi kita langsung aja ke sana ya!" kata Devan sambil menarik tangan meta dan mempercepat langkahnya.
Sesampainya di cafe Devan tanpa sungkan langsung memesan beberapa makanan dan minuman.
"Kamu tuh laper apa doyan?sampai kayak gitu makannya," kata meta melihat Devan sangat lahap menyantap makanannya
"Dua-duanya! Uhuk uhuk...!!"
"Tuh kan sampe keselek, makanya kalo makan pelan-pelan!"
Meta menyodorkan minumannya, dan langsung disambar oleh Devan.
"Aku suka banget sama arealnya! Aku boleh nambah lagi gak?"
"Ya ampun, kamu makan udah kayak kesetanan aja, ya udah sana pesen aja semaumu!!"
"Makasih meta!" kata Devan sambil mencubit pipi meta.
"Ih apaan sih, sakit tahu pipiku!"
"Habis gemes sih!"
"Apa gemes?? Kamu pikir aku dedek-dedek gemes apa!!!"
"Hehehe....gak papa kan jadi dedek-dedek gemes kan unyu-unyu!"
"Halah apaan coba, udah makan gih! Jangan banyak ngomong ntar keselek lagi!!"
Devan menyantap makanan yang terhidang tanpa tersisa. Rasanya hari ini dia begitu lapar.
"Eh met aku ke sana dulu ya!"
"Kemana? Udah malem ayo buruan aku mau pulang nih!!"
"Ya elah bentar doang, aku mau kasih kejutan sama kamu!"
"Please deh Van, gak usah macem-macem."
"Udah gak bakal macem-macem, kamu di sini dulu aku mau ke depan dulu bentar."
Devan berlari ke depan yang tak tahu mau kemana.
"Mau ngapain lagi sih tuh anak, awas aja kalo dia aneh-aneh," batin meta.
Meta melihat Devan menuju panggung dan berbisik-bisik dengan pemain musik di cafe itu.
Setiap malam cafe ini selain menyuguhkan masakan yang enak juga pengunjung bisa menikmati hiburan life music.
Devan maju ke depan dan memegang mic.
"Ya ampun tuh anak, gilanya mulai kumat, ngapain dia maju ke panggung!" umpat meta sendiri.
"Gute Nacht allerseits (selamat malam semuanya), heute Abendanon mochte, ich win lied Dur meinen besonderen freund singen der am Tisch numme vier, Meta Arleta sitz(malam ini saya ingin menyanyikan sebuah lagu untuk teman spesial saya yang duduk di meja nomor 4, meta Arleta)" kata Devan dengan logat bahasa Jermannya.
Devan menunjuk ke meja nomor 4 yang notabene itu meja yang diduduki meta saat ini. Spontan meta menjadi perhatian orang-orang di cafe itu.
"Devan... apa-apaan sih!! Bener-bener yah tuh anak, malu-maluin aku aja deh!!" gerutu meta sendiri.
Meta pun hanya pura-pura tersenyum ketika orang-orang di cafe itu menatapnya.
Devan memainkan gitar dan mulai menyanyikan sebuah lagu.
I could be chasin
But my time would be wasted
They got nothin on you baby
Nothin on you baby
They might say hai and I night say hey
But you shouldn"t worry
About what they say
Caisar the hot nothin on you baby
Nothin on you baby*
...........
Tepuk tangan penonton di cafe bertepuk tangan mendengar nyanyian dari devan. Sedang meta tak bisa menampik rasa malunya melihat kelakuan Devan.
Setelah selesai bernyanyi Devan menghampiri meta di mejanya lagi.
"Gimana bagus gak suara aku?"
"Devan....kamu tuh nekat banget pake nyanyi dipanggung segala. Aku malu tahu pada nglihatin aku tadi pas kamu nyebutin namaku!" gerutu meta.
"Ya elah pake malu segala kayak mereka kenal aja sama kamu!!"
"Aishhh...kamu nyebelin banget sih Van! Aku mau pulang sekarang!"
"Iya, iya, kita pulang sekarang!!'
Devan mengikuti langkah meta dari belakang menuju ke apartemennya.
Di Tempat lain
Rendi merasa frustasi karena tak satupun panggilannya dijawab oleh meta. Beberapa saat kemudian dia menghubungi bagian HRD untuk melakukan perhitungan dengan Stella. Karena gara-gara dia meta marah dengannya.
"Hallo, saya pengen kamu membuatkan surat pemecatan pada Stella."
"Maaf pak, Stella manager marketing. Mohon maaf pak, kalo boleh tahu apa alasannya, kenapa dia dipecat? Setahu saya Stella pekerja yang berkompeten!"
"Gak usah banyak tanya, dia itu sudah bersikap gak sopan sama saya," bentak Rendi.
"Bbbaik...pak!! Akan segera saya buatkan surat pemecatannya."
Tut Tut Tut panggilan langsung diputuskan Rendi, dia masih merasa kesal dengan kejadian tadi.
Tak berapa lama kemudian Karoline datang ke ruangan Rendi.
"Rend, kamu kenapa sayang? Mama dapet laporan dari HRD katanya kamu minta surat pemecatan untuk Stella."
"Iya aku memang mau Stella dipecat!" kata Rendi penuh emosi.
"Kenapa sayang, kinerja Stella bagus di perusahaan ini."
"Mama gak tahu aja kelakuan dia, dia itu udah ngrayu aku bahkan dia dengan sangat menjijikkannya udah nyium bibirku. Sampai-sampai meta tahu kalo ada bekas lipstik di bibirku, dan sekarang meta jadi salah paham sama aku."
"Apa? Stella merayu kamu, bahkan sampai nyium kamu? Mama gak nyangka dia seagresif itu, padahal setahu mama banyak pria di kantor ini yang mengejar-ngejar dia. Kenapa meta bisa sampai tahu kejadian ini?"
"Tadi aku video call sama meta dan gak sengaja dia lihat di bibirku ada bekas lipstik. Dan parahnya lagi si Stella malah masuk ruanganku lagi karna antingnya terjatuh waktu aku video call sama meta. Aku gak tahu lagi gimana mau ngejelasin sama meta."
"Ya udah nanti biar mama bantu jelasin ke meta."
"Bener ma? Aku gak mau rencana pertunanganku gagal gara-gara wanita keganjenan itu. Aku gak mau lihat dia di kantor ini lagi!"
"Kalo gitu biar nanti HRD yang membuat surat pemecatannya. Meskipun mama menyayangkan keputusanmu ini."
"Kita gak perlu orang licik seperti dia di kantor kita ma. Dia menghalalkan segala cara untuk mendapat apa yang dia mau!"
"Kalo itu udah jadi keputusanmu, berarti kamu
harus mencari orang yang tepat untuk menggantikan Stella."
"Nanti biar aku urus kalo soal itu ma. Tapi mama mau kan bantu aku ngomong sama meta supaya dia gak salah paham lagi.
"Ya udah biar nanti habis meeting mama telpon meta. Kamu gak lupa kan kalo hari ini kita ada meeting dengan klien?"
"Maaf ma, Rendi lupa. Ini baru inget pas mama ngomong!"
"Kalo gitu langsung siap-siap, kita langsung berangkat sekarang!"
"Ok ma."