
Meta mengecek suhu Rendi, sambil sesekali masih mengompres rendi. Panas Rendi mencapai 38° Celcius.
"Kamu panas banget rend, yakin kamu gak mau bilang sama mama kamu? Atau aku panggil dokter ya?"
"Gak usah met, kan kamu dokterku. Aku gak mau mama khawatir, jadi please jangan bilang mama ya, cukup temenin aku di sini itu udah lebih dari cukup buatku!"
"Makanya jangan suka bandel, jangan terlalu kecapekan, kamu kan masih dalam masa penyembuhan sakitmu kan?"
"Iya Bu dokter! Aku bakal jadi pasien yang penurut deh, janji!"
"Ya udah kamu minum obat penurun demam dulu ya?"
Meta mengambil obat dan air putih untuk diminum Rendi.
"Kamu istirahat dulu ya, masih dingin?"
"Iya, rasanya dingin sayang!"
"Kamu ganti baju pakaian kaos aja ya biar badanmu lebih sejuk!"
"Iya!"
Meta mengambil kaos Rendi dan menggantikannya. Meta menyelimuti Rendi yang masih menggigil.
"Sayang makasih ya kamu udah ngrawat aku!" kata Rendi sambil mengusap lembut tangan meta yang sedang mengompresnya.
"Iya, sama-sama. Aku cuma gak pengen lihat kamu sakit kayak gini, aku khawatir tahu kalo kamu kayak gini! Apa kamu sering demam menggigil kayak gini Rend?"
"Entah kenapa akhir-akhir ini kalo aku kecapekan sering demam seperti ini!"
"Kamu jangan capek-capek dong! Kamu masih rutin checkup ke dokter kan?"
"Iya, aku masih rutin kok! Kamu gak usah cemas, aku gak papa kok!"
"Gimana aku gak cemas kamu tiba-tiba kayak gitu, kamu kan memang harus perhatikan kesehatan kamu Rend! Aku kan gak bisa setiap hari ada di samping kamu, gak bisa ngrawat kamu kalo sakit kayak gini!"
"Meta...." kata Rendi mengusap lembut pipi meta.
"Kenapa Rend?"
"Kalo seandainya aku gak bisa disamping kamu selamanya gimana?"
"Maksud kamu?"
"Emmm kalo seandainya suatu saat aku pergi jauh dari kamu apa yang bakal kamu lakuin? Apa kamu bakal tetap cinta sama aku?"
"Kamu ngomong apa sih rend, kok tiba-tiba ngomongnya aneh gitu! Aku gak mau jawab pertanyaan kamu itu! Aku cuma pengen kita bersama selamanya!"
Rendi tersenyum menatap meta, meski sebenarnya dia ingin mendapat jawaban dari meta.
"Aku juga pengen selamanya selalu di sampingmu. Seandainya suatu saat nanti aku gak bisa menemani kamu, aku berharap kamu punya seseorang yang selalu ada di sampingmu, yang bisa melindungi kamu!" kata Rendi sambil menatap meta intens.
"Rend, udah dong! Kenapa sih dari tadi ngomongnya kayak gitu terus! Mending sekarang kamu istirahat aja ya, aku temenin kamu di sini."
"Kamu jangan pergi ya, kamu di sini aja, tidur di sampingku!" kata Rendi sambil menggenggam tangan meta.
"Iya aku temenin di sini! Kamu istirahat ya, biar cepat sembuh!"
Rendi memejamkan matanya sambil memeluk tangan meta.
Meta melihat Rendi yang sudah mulai tertidur, sesekali meta mengecek kening Rendi yang sepertinya sudah berangsur-angsur turun demamnya.
"Syukurlah kamu udah turun suhu badannya!" bisik meta.
Hari ini meta benar-benar kelelahan, meta merasa mengantuk sekaligus lelah. Meta membaringkan tubuhnya di sebelah Rendi yang sudah tertidur pulas.
Keesokan harinya, Rendi bangun terlebih dahulu. Dia meraih kompres yang masih ada di keningnya dan meletakkan di meja nakas sebelah tempat tidurnya.
Rendi mengamati meta yang tertidur di sebelahnya dan menyelimutinya dengan perlahan supaya meta tidak terbangun. Rendi menyingkirkan rambut yang menutupi wajah meta, dia menatap meta intens.
"Aku berharap kita bisa bersama selamanya, tapi aku gak yakin apa penyakitku ini bisa membuatku bisa bertahan denganmu selamanya atau nggak!" bisik rendi sambil mengusap lembut pipi meta.
Meta kaget ketika ada tangan menyentuh pipinya, dia pun kaget karena ketiduran di sebelah Rendi karena semalam rasanya dia sangat mengantuk dan tak sengaja tertidur di samping Rendi.
"Selamat pagi sayang, kamu udah bangun?" sapa Rendi.
Sesaat meta bangun dan mengecek kening Rendi.
Meta langsung mengecek suhu tubuh Rendi lagi untuk memastikan kalo demamnya sudah turun. Ternyata suhunya sudah normal kembali.
"Aku udah sembuh kok sayang, kamu gak perlu khawatir lagi!"
"Kalo gitu aku ke kamarku ya pasti mama nyariin aku! Kamu masih ada yang sakit?"
"Nggak, aku udah sembuh kok. Makasih ya sayang kamu udah ngrawat aku!"
"Iya, sebaiknya hari ini kamu istirahat aja dulu, jangan capek-capek!"
"Siap Bu dokter, kan semalam aku udah janji bakal jadi pasien yang penurut!"
"Bagus deh kalo gitu! Nanti biar aku bilang sama mamamu kalo hari ini sebaiknya kita di hotel aja!"
"Tapi gak seru dong masak udah jauh-jauh ke Bali masak cuma di hotel doang!"
"Ini anak ngeyel banget sih...baru tadi bilang janji!!'
'Iya, ampun Bu dokter! Aku nurut aja kata Bu dokter!"
"Nah gitu dong, kan enak kalo di bilangin nurut!"
"Apanya yang enak Bu dokter? Kalo tidur bersama kayak semalem itu baru enak.....!!"
"Ish...Rendi!!! Baru sembuh sedikit udah kumat lagi tengilnya. Udah ah, aku mau ke kamar, mau mandi! Kamu juga mandi gih, tapi pakai air hangat ya!"
"Kenapa gak mandi bareng aja Bu dokter?" tanya Rendi sengaja menggoda meta.
"Rendiiiiii........!!!" teriak meta bersungut-sungut.
"Becanda kali Bu dokter! Bu dokter jangan baperan dong, kalo gak mau diajak mandi bareng gak mau ya gak papa kok! Tapi kalo sarapan bareng mau kan?" kata Rendi dengan tersenyum menaikan alisnya.
"Ya udah, nanti sarapan bareng, tapi aku mau mandi dulu?"
Meta beranjak meninggalkan kamar Rendi.
"Eh Bu dokter nanti kalo mandi kita video call an yah!!"
"Dasar ini anak!! Baru sembuh dikit udah tengil kayak git," gerutu meta sambil pergi dari kamar Rendi.
Rendi pun tertawa tengil melihat meta yang selalu salting saat dia menggodanya.
"Meta, meta, aku benar-benar beruntung punya kamu! Aku hanya ingin mengisi hari-hariku bersamamu!" gumam Rendi sendiri.
Rendi beranjak dari tempat tidurnya hendak menuju kamar mandi.
Ceklek
Seseorang membuka pintu kamar Rendi yang tidak terkunci.
"Apalagi sayang? Apa kamu mau mandi bareng aku?" kata rendi.
Rendi membalikan badannya dan melihat siapa yang datang.
"Ini anak yah, kumat nakalnya!" kata Karoline mendekati Rendi dan menjewernya.
"Aduh...ampun ma....!" kata Rendi berusaha melepaskan diri dari jeweran mamanya.
"Kamu ini, emang kamu pikir siapa tadi yang dateng, sampe kamu mau ajak mandi bareng?"
"Aku pikir tadi meta yang datang ke sini!" kata Rendi sambil mengelus telinganya yang sedikit memerah karena dijewer.
"Kamu ini ya, kalo pun meta yang dateng masak iya kamu mau ngajak dia mandi bareng! Kamu ini ada-ada aja tingkahnya!"
"Mama kayak gak pernah muda aja sih! Lagian aku kan cuma becanda tadi."
"Awas ya kalo kamu macem-macem sama meta sebelum waktunya!!"
"Iya, iya, Rendi tahu, ya mudah-mudahan aja rendi gak khilaf!" celetuk Rendi.
"Kamu ini yah bener-bener.....minta dijewer lagi??"
"Eh...gak...gak...ampun ma! Just joke kok....mama jangan nganggep serius gitu dong! O iya lagian mama ada apa sih pagi-pagi ke sini?"