
Seusai dari tempat meta Rendi menuju ke sekolahnya lagi untuk menemui seseorang. Rendi sengaja menemuinya malam ini. Sesampainya di sekolah Rendi memarkirkan mobilnya di parkiran. Nampak tak ada hiruk pikuk di sekolah seperti terakhir tadi dia pergi dari acara reuni sekolah.
Rendi berjalan menuju lapangan sekolah, tempat dimana dia ingin bertemu dengan seseorang. Rendi melihat sosok yang dia ingin temui sudah berada di lapangan.
"Untuk apa Lo ngajak gue ketemuan di sini?" tanya Rendi setengah berteriak pada orang itu.
"Kenapa Rend? Kamu takut kalo meta tahu kamu diam-diam menemuiku tengah malam seperti ini? Bukankah hubungan kalian memang sudah hancur karena peristiwa tadi
"Asal kamu tahu, tidak semudah itu kamu bisa menghancurkan hubunganku dengan meta?" jawab Rendi sambil tersenyum sengit.
"Oh ya, apa hebatnya meta dibanding aku? Aku jauh lebih segalanya dibanding dia, aku juga pintar dan cantik. Kenapa kamu tidak pernah melirikku saja untuk jadi pacarmu?"
"Cih....Lo bukan selera gue....dari dulu sampai sekarang Lo masih tetap sama! Cewek licik!!! Sampai kapanpun gue gak akan pernah suka sama Lo.....Dinda!!!"
Rendi tersenyum kecut melihat Dinda yang sekarang sudah tepat berada di depannya. Nampak dari sorot mata Dinda yang begitu geram dengan perkataan Rendi yang seolah meremehkannya.
"Bukan selera Lo! Berani-beraninya Lo bilang gue cewek licik!! Cewek Lo yang sebenarnya licik....di depan Lo aja kelihatan manis tapi dibelakang Lo dia sibuk selingkuh dengan Devan!!"
"Cukup!!!Gak usah jelek-jelekin meta di depan gue! Yang jelas dia seribu kali lipat lebih baik dibanding Lo....dan asal lo tahu sampai kapan pun gue gak akan suka sama Lo!"
"Oh ya....sampai kapan pun Lo gak bakal milih gue? Yakin?"
Dinda menepukan tangannya tiga kali seperti memberi kode pada seseorang.
Ada 3 orang berbadan tegap dan besar seperti preman yang kemudian langsung datang dan memegangi kedua lengan Rendi.
"Apa-apaan nih? Lepasin gue!" perintah Rendi sambil meronta melepaskan lengannya.
"Tenang aja Rend, mereka gak bakal ngapa-ngapain kamu kalo kamu bisa nurutin semua omonganku!"
"Apa sih mau Lo! Ternyata Lo lebih licik dari yang gue kira. Lo sengaja jebak gue kayak gini? Gue gak bakal nurutin apa pun mau Lo!!!"
Dinda tertawa terbahak, seolah omongan Rendi begitu menggelitiknya.
"Lo harus ikuti omongan gue! Putusin meta atau kamu bakal berurusan dengan mereka bertiga!"
"Gue gak bakal mutusin meta dasar cewek licik!!"
"Kamu bener-bener yah, sudah gue beri kesempatan tapi tetap keras kepala!"
"Mau kamu pukul aku sampai mati pun pilihanku gak bakal berubah!"
"Kamu bener-bener udah bikin aku geram!"
Dinda pun memberi kode kepada 3 orang yang memegang Rendi untuk memukuli Rendi. Rendi yang hanya seorang diri pun tak bisa melawan karena cengkraman tangan dua orang yang memegang lengannya begitu kuat.
Rendi yang mulai babak belur dan tenaganya mulai melemah, masih berusaha menahan diri dari serangan tiga orang itu.
"Gimana rend? Masih gak mau berubah pikiran?" kata Dinda sambil berkacak pinggang di depan Rendi yang sudah kehabisan tenaga.
"Emang Lo pikir dengan cara kayak gini Lo bakal ngerubah perasaan gue ke Lo. Yang ada gue semakin ilfill sama Lo!"
"Bener-bener Lo ya...udah habis kesabaran gue buat ngasih kesempatan Lo!!"
Dinda yang semakin geram langsung menyuruh 3 orang itu untuk memukuli Rendi lagi. Bahkan kali ini Rendi sudah benar-benar tidak berdaya terkulai lemas.
"Berhenti di tempat!"
Dinda kaget mendengar teriakan itu, spontan dia langsung melihat ke arah sumber suara itu.
Polisi langsung menangkap Dinda dan 3 orang suruhannya itu. Mereka pun hanya pasrah ketika polisi dengan tiba-tiba datang dan menangkap basah perbuatan mereka.
"Lo bener-bener keterlaluan ya Din! Gue bener-bener gak nyangka Lo bisa ngelakuin hal-hal licik kayak gini!"
"Lo tuh selalu aja ngurusin urusan yang bukan urusan Lo! Buat apa Lo ngurusin urusan gue sama Rendi!"
"Lo tuh bener-bener sakit jiwa tahu gak! Sampai Lo berbuat kayak gini ke Rendi dan juga meta! Sekarang biar polisi yang bakal kasih pelajaran buat Lo!”
"Lo tuh bener-bener yah, selalu ngacauin semua rencana gue! Awas Lo ya....gue gak bakal tinggal diem dengan semua ini!"
"Silahkan aja Din, gue tunggu pbalasan dari lo! Gue gak takut! Yang jelas sekarang gue udah puas lihat Lo ditangkap polisi kayak gini, setidaknya besok Lo pasti bakal jadi berita utama di media sosial karena penangkapan Lo! Kita impas kan, tadi Lo udah ngirim video waktu Lo mempermalukan gue tadi ke medsos. Sekarang giliran gue yang bakal upload video penangkapan Lo ini ke medsos!!"
"Lo bener-bener sialan Van!" kata Dinda dengan penuh emosi.
Dinda benar-benar tak menyangka kalo akan berakhir seperti ini, ini semua tidak seperti yang dia rencanakan sebelumnya.
"Udah bawa aja pak ke kantor polisi pak!"
Polisi itu pun langsung membawa Dinda dan mereka bertiga ke mobil polisi.
"Bye...bye...Din!" ejek Devan sambil melambai tangannya pada Dinda seolah dia benar-benar mengejek Dinda yang sudah dibawa pergi oleh polisi.
Rasanya Devan benar-benar puas sudah bisa membalas semua yang dilakukan Dinda karena sudah mempermalukannya bukan hanya di acara reuni tadi tapi juga di media sosialnya.
Devan langsung lari menuju Rendi yang sudah tergeletak lemas.
"Rend, kamu gak papa! Aku bawa ke klinik ya!"
"Makasih Van, kamu udah nolongin aku!" kata Rendi yang sudah mulai kehabisan tenaga.
"Kamu harus segera di bawa ke klinik Rend, lukamu cukup parah!"
"Please jangan kasih tahu meta, aku gak mau dia khawatir!"
"Udah gak usah mikirin itu! Yang penting kamu di bawa ke klinik dulu!"
Devan pun dengan bantuan para polisi yang masih ada di situ langsung membawa Rendi ke klinik terdekat untuk mendapat pertolongan. Nampak beberapa luka di tubuh dan wajah Rendi.
Sesampainya di klinik Rendi langsing ditangani oleh dokter jaga yang ada di situ. Devan pun masih menunggu Rendi di situ.
Beberapa jam setelah melakukan pemeriksaan akhirnya Devan diperbolehkan memasuki ruang perawatan Rendi.
Devan melihat Rendi yang masih terlihat lemas dengan perban yang ada di bagian wajahnya.
"Gimana Rend? Masih sakit?" kata Devan sambil duduk di sebelah Rendi.
"Udah mendingan, tadi udah dikasih obat sama dokter! By the way....gue makasih banget Lo udah nolongin gue!"
"Santai aja kali Rend!"
"Gue utang budi sama Lo! Berarti udah dua kali yah?"
"Dua kali?" tanya Rendi heran.
"Iya yang pertama waktu dulu Lo nolongin meta sebelum gue datang waktu diganggu sama Ardian! Yang kedua Lo udah nyelamatin gue dari dinda! Gue bener-bener makasih!"
"Udahlah Rend, kayak Lo baru kenal gue aja! Kita kan udah temenan lama! Eh tapi kalo Lo anggep gue temen sih!"
" Sorry kalo gue sering ketus bahkan sering ngajakin Lo berantem! Itu semua karena mungkin gue terlalu cemburu Lo selalu deketin meta!"
"It's ok gue paham dan sadar diri kok! Tapi yang perlu Lo tahu Rend, meta tuh sayang banget sama Lo! Jadi gue berharap jangan pernah sakiti dia!"
"Pasti Van, karena gue juga sayang banget sama dia, sekuat tenaga gue bakal lindungi dia dari apa pun! Tapi gue sebenarnya masih bertanya-tanya kok bisa Lo sama polisi bisa nemuin kita di situ? tanya Rendi penasaran.
^^Hai para readers...penasaran kan sama kelanjutan ceritanya....tetep terus ikutin kelanjutan ceritanya yah....dan jangan lupa buat like dan vote...sama satu lagi...jangan lupa rekomendasikan novel ini ke teman-teman kalian!!! Terimakasih 😘😘^^