
Meta dan Rendi menuju bandara untuk langsung menuju ke Jerman. Setibanya di Jerman mereka langsung menuju apartemen meta untuk beristirahat.
Mereka berdua mendapati Devan yang berdiri di depan kamarnya.
"Kalian udah pulang?" tanya Devan sambil menatap mereka berdua.
"Apa urusan Lo nanya-nanya!" kata Rendi ketus.
"Rend, udah dong jangan marah-marah!"
"Gue kan cuma nanya baik-baik bro, jadi gak usah ngegas juga kali!"
"Lagian ngapain sih lo selalu aja nongol di depan kita berdua! Oh ya sayang, kamu gak mau kasih tahu sahabat kamu ini kalo kita mau tunangan? Kamu gak mau nunjukin betapa cantiknya cincinmu ke sahabatmu ini!" kata Rendi sambil merangkul meta.
"Rend, udahlah gak perlu kayak gitu!"
Rendi menarik tangan meta untuk menunjukan cincinnya. Rendi ingin melihat ekspresi Devan saat melihat cincin itu. pada
"Gue sama meta mau tunangan, lo liat kan cincin di jari manis meta itu. Itu sebagai bukti kalo gue mau tunangan sama meta!"
Glek....dada Devan terasa sesak mendengar kata-kata dari Rendi. Meski begitu Devan hanya berpura-pura biasa saja dengan ekspresi datarnya.
"Oh, selamat ya buat kalian berdua! Kalo gitu gue pergi dulu, gue masih ada urusan."
Devan berlalu meninggalkan mereka berdua.
"Rend, harusnya kamu gak usah kayak gitu sama Devan!"
"Lah, memang benar kan kita mau tunangan! Kenapa sih kamu belain dia terus?"
"Bukannya gitu Rend, maksudku gak gitu. Aku cuma pengen kalian bisa berteman baik. Itu aja."
"Kamu suruh aku berteman sama orang yang jelas-jelas mau ngrebut kamu dari aku? Gak bakal!"
Meta mendengus kesal karena Rendi terus menerus emosional dengan Devan. Meta tak mau memperpanjang masalah dan lebih memilih untuk masuk ke kamarnya.
"Kok kamu malah marah sih sama aku?" tanya Rendi sambil mengikuti meta dari belakang.
"Aku capek Rend, aku gak mau berdebat lagi!"
"Gara-gara si kunyuk Devan kita jadi marahan gini kan. Kenapa gak sebaiknya kamu pindah apartemen aja sih?"
"Ya ampun Rend, kamu tuh gak bisa kayak gitu dong, cari apartemen kan gak gampang."
"Ya udah terserah kamu deh! Besok pagi-pagi aku mau berangkat ke Singapura."
"Besok aku ada kelas pagi!"
"Aku berangkat naik angkutan umum aja, malam ini aku mau tidur di hotel aja. Aku gak mau tidur di kamar Devan lagi."
Rendi mengemas barangnya bersiap untuk pergi.
"Rend, kamu marah sama aku? Jangan kayak anak kecil kayak gini dong! Kamu tuh gak perlu cemburu sama Devan, toh aku juga udah nerima cincin dari kamu kan? Apa itu gak cukup buat ngebuktiin aku juga pengen serius sama kamu?" kata meta sambil menggenggam tangan rendi.
"Aku gak marah kok sama kamu. Maaf kalo kadang aku begitu emosional kalo bahas masalah ini," kata Rendi menatap meta intens.
"Kamu jadi mau nginep di hotel?"
"Memangnya kenapa?"
"Aku pengen kamu di sini aja, lagi pula besok kamu kan udah pulang ke Singapura kan?"
"Kita tidur seranjang gitu?"
"Ya nggak...!"
"Ya udah bIar aku tidur di kursi aja kayak pas waktu di hotel."
"Gak papa?"
"Ya kalo kamu khawatir sama aku harusnya kamu ngebolehin aku tidur di kamarmu!" kata Rendi sambil tersenyum menyeringai.
"Gak.... nanti kamu macem-macem lagi!"
"Takut banget sih kalo ngomongin itu!"
"Ya bukannya gitu...tapi kita kan belum muhrim! O iya Rend, aku masak dulu ya, kamu udah laper belum?" tanya meta mencoba mengalihkan perhatian Rendi.
"Iya, iya, masakan aku gak kalah sama masakan chef kali!"
"Masak sih?" tanya Rendi menggoda.
Keesokan harinya
Meta berangkat kuliah seperti bisa sedangkan Rendi sudah berangkat menuju Singapura tadi pagi.
Entah kenapa hari ini rasanya ada yang aneh, meta mencoba mengingat sesuatu apakah ada sesuatu yang terlupa. Tapi ketika dia mengecek semua barang bawaannya, tak ada yang tertinggal.
Meta baru menyadari kalo sedari kemarin di tak menjumpai Devan. Biasanya setelah pulang kuliah Devan selalu menemuinya. Hati ini bahkan meta tak melihat tanda-tanda kehadiran Devan.
"Apa mungkin dia marah gara-gara omongan Rendi kemarin?" gumam meta dalam hati.
Meta pun melangkahkan kakinya menuju apartemen setelah seharian bergelut dengan kesibukan kuliah.
Sesaat dia melihat ke arah pintu kamar Devan, meta penasaran apa Devan sudah pulang kuliah karna sedari kemarin meta tak melihatnya.
Meta memberanikan diri mengetuk kamar Devan. Namun tak ada jawaban dari dalam, meta mencoba memegang gagang pintu kamar, ternyata kamar Devan tidak dikunci. Meta mencoba masuk ke kamar Devan dan sesekali memanggilnya memastikan apakah Devan di dalam kamar.
Meta kaget setelah melihat Devan terbaring di tempat tidurnya.
"Van....kamu kenapa? Kamu sakit?"
Meta melihat Devan menggigil, meta mencoba memeriksa kening Devan.
"Ya ampun Van badan kamu panas, sebentar ya aku ambil kompres dulu!"
Meta berlari menuju kamarnya bergegas mengambil kompres untuk Devan. Dan mengambil obat dari kotak P3K yang selalu dia siapkan di kamarnya. Meta memang selalu menyiapkan beberapa obat yang dibutuhkan disaat genting.
"Van aku kompres dulu ya?"
Dengan hati-hati meta mengompres kening Devan, meminumkan obat untuknya sebagai pertolongan pertama.
"Makasih ya met udah ngrawat aku."
"Sama-sama, kamu istirahat dulu ya, biar aku buatin bubur buat kamu!"
"Gak usah met, aku gak mau ngrepotin kamu!"
"Ya ampun Van, kayak sama siapa aja. Lagian aku gak ngerasa di repotin kok. Bentar ya aku ke kamar bikinin dulu!"
Sesaat kemudian meta kembali lagi ke kamar Devan dengan membawa semangkuk bubur untuknya.
"Van makan dulu ya, pasti dari tadi kamu belum makan kan?"
Meta membantu Devan bangun dari tidurnya, sekilas Devan merasa benar-benar merasa bahagia diperhatikan oleh meta seperti ini.
"Seandainya kamu perhatian kayak gini terus sama aku met," batin Devan.
"Van, ayo makan, kok malah nglamun sih!"
"Eh gak, gak nglamun kok!Sini biar aku makan sendiri aja met, aku gak mau ngrepotin kamu. Lagian nanti Rendi salah paham lagi sama aku!"
"Udah biar aku suapin, lagian kamu bangun aja lemes masih mau makan sendiri."
"Makasih ya met kamu udah perhatian sama aku!"
"Ya ampun Van, kayak sama siapa aja! Kita kan temenan udah lama, kita sama-sama jauh dari rumah, jadi kita harus saling bantu kayak gini!"
"Seandainya kamu kayak gini terus met," kata Devan lirih.
"Apa Van? Kamu ngomong apa tadi?"
"Nggak, nggak ngomong apa-apa kok!O iya Rendi kemana met?'
"Dia udah berangkat ke Singapura tadi pagi. Aku minta maaf ya Van kalo Rendi sering emosional sama kamu."
"Aku paham kok met, pasti aku juga bakal ngelakuin hal yang sama buat ngelindungin orang yang aku sayang. Jadi aku paham kenapa Rendi cemburu banget sama aku."
"Makasih ya Van udah mau ngerti. Ya udah habisin buburnya, biar cepet sembuh!"
Devan pun menerima suapan demi suapan bubur yang dibuat oleh meta. Entah kenapa saat ini devan merasa bahagia mendapat perhatian dari meta, meski mungkin hanya sesaat saja, tapi iti sudah cukup membuatnya bahagia.
"Seandainya kamu tahu met, semalaman aku gak bisa tidur gara-gara aku tahu kamu akan tunangan dengan Rendi. Hatiku benar-benar sakit menerima kenyataan itu!" batin Devan.