
Pagi-pagi sekali meta dan Rendi berangkat menuju bandara untuk pulang ke Indonesia. Karena mereka harus mengejar waktu supaya tidak terlambat datang ke sekolah. Mereka langsung dijemput oleh supir Rendi yang sudah menunggu di bandara Indonesia. Bahkan mereka langsung menuju ke sekolah karena mereka sudah membawa seragam yang sengaja sudah dipersiapkan.
Berita mengenai kepergian mereka ke Singapura ternyata sudah diketahui oleh teman-teman mereka. Bahkan banyak yang memandang iri kepada meta karena bisa pergi berdua dengan Rendi.
Untung saja hari ini mereka bisa datang tepat waktu, meski mereka melewatkan upacara bendera.
Meta memasuki kelas bersama Rendi, dan spontan teman-teman di kelasnya langsung menyoraki mereka berdua.
"Cie cie cie yang habis pada liburan ke Singapura!" sorak salah satu teman.
Meta dan Rendi pun tak menggubris omongan temannya itu dan langsung duduk di kursinya.
Entah kenapa saat itu Dinda langsung menghampiri Rendi ke tempat duduknya.
"Hai Rend! Boleh duduk!" tanya Dinda.
"Ada apa Din?"
Dinda pun tanpa aba-aba langsung duduk di samping Rendi. Meta yang jelas-jelas berada di sebelahnya melirik Dinda yang seolah tiada hentinya mengganggu Rendi.
"Met, Dinda tuh nyamperin pacarmu!" bisik Rika kepada Meta.
"Iya ih ngapain sih tuh anak?"
Dinda pun tiba-tiba menyodorkan kotak bekal makanan.
"Kamu udah sarapan Rend? Kita makan sama-sama yuk, kan kamu capek kan habis dari Singapura!"
"Kok kamu tahu kalo aku habis dari Singapura?"
"Ya elah Rend satu sekolah juga tahu kali kalo kamu ke Singapura!"
"Oh!"
"Ini Rend aku bawa nasi goreng spesial, aku suapin ya aaaaaaa!"
Rendi melihat meta yang ada di sebelah mereka, Rendi tahu betul meta tidak suka Dinda cari perhatian dengannya seperti ini.
"Aku udah makan Din, sorry gue ke kamar mandi dulu ya!" kata Rendi.
Rendi justru beranjak dari tempat duduknya, tak menggubris Dinda dan langsung pergi dari situ.
"Eh tunggu Rend, kok aku malah ditinggal sih!"
"Kasihan deh dicuekin, emang enak!" teriak Rika menyindir.
Dinda yang sudah merasa kesal karena dicuekin bertambah panas ketika Rika meledeknya.
"Ngomong apa Lo!" kata Dinda menghampiri meja meta.
"Lagian Rendi tuh gak bakal suka sama kamu, Rendi tuh cuma suka sama meta. Harusnya Lo sadar diri dong!" kata Rika berkacak pinggang.
"Emang dasar lo ya!"
Dinda mencoba menarik seragam Rika, tapi ditepis meta yang berusaha melerai mereka.
"Udah-udah gak usah ribut, Dinda apaan sih lo narik-narik Rika!" kata meta melerai.
"Semua ini gara-gara Lo! Lo itu udah ngrebut apa yang harusnya milik gue!" jawab Dinda penuh dengan emosi, bahkan jari telunjuknya menunjuk-nunjuk ke muka meta.
"Ngomong apa sih lo Din!"
"Gak usah pura-pura deh met, kamu sengaja kan ngedeketin Rendi karna kamu tahu aku suka sama dia!Kamu ngedeketin dia karna kamu gak mau kalah bersaing sama aku kan!"
"Maksud Lo, gue gitu yang ngedeketin Rendi?Gak usah ngawur deh kalo Lo gak tahu!"
"Ya gak mungkin kan kalo gak kamu yang kegatelan sama Rendi dia gak bakal mau sama kamu!"
"Apa Lo bilang, gue kegatelan, jangan asal kalo ngomong!"
Meta pun hampir emosi mendengar ucapan Dinda yang tentu saja semua itu gak benar. Tapi masih berusaha dia tahan.
Dinda pun sudah dikuasai kecemburuan di hatinya, cemburu dengan yang apa yang meta punyai. Apalagi Rendi adalah cowok incaran Dinda semenjak Rendi berada di sekolah itu. Dinda menarik rambut meta, namun kemudian ditepis oleh Devan dari belakang.
"Udah din, Lo gak seharusnya nglakuin itu sama meta!" bentak Devan.
"Lepasin gak tangan gue, sakit tau!" kata Dinda meringis kesakitan karna cengkraman tangan Devan.
Rendi menghempaskan tangan Dinda yang sedang menjambak rambut meta.
Meta masih meringis kesakitan karna rambutnya dijambak oleh Dinda tadi.
"Lo siapanya meta sih, dari kemarin tuh lo jadi pahlawan kesiangan tau gak!"
Bukan hanya kali ini Rendi memperingatkan Dinda yang sering berbuat kasar pada meta, tapi selalu saja Dinda mengulanginya lagi. Dan kali ini Devan benar-benar merasa geram dengan tingkah Dinda.
"Heh, jangan-jangan bener yang dibilang sama anak-anak kalo kamu tuh sebenernya suka sama meta!" jawab Dinda dengan tersenyum kecut ke arah Devan.
"Maksud Lo apa ngomong kayak gitu?"
"Iya, sebenarnya Lo suka kan sama meta, tapi sayang meta sukanya sama Rendi! Kasihan banget sih lo van, cuma jadi pahlawan kesiangannya meta doang!"
"Bukan urusan Lo!"
"Devan, Devan, ngapain lo ngebelain orang yang jelas-jelas gak pernah suka sama lo!" kata Dinda sambil menepuk pundak Devan.
Setelah mengucapkan itu pada Devan, Dinda pun berlalu begitu saja.
"Van, gak usah didengerin omongan dinda tadi!" kata meta mencoba menenangkan Devan.
"Mungkin Dinda emang bener!"
"Maksud Lo?"
"Gue cuma bisa jadi pahlawan kesiangan Lo aja!"
Devan pun pergi dengan raut wajah yang tiba-tiba berubah. Bahkan entah apa maksud dari kata-kata Devan tadi.
"Lo gak papa met?" tanya Rika.
"Gue gak papa, cuma agak sakit aja bekas tadi dijambak si Mak lampir tadi!"
"Tuh anak bener-bener yah, gak tau malu banget! Jelas-jelas Lo sama Rendi udah jadian bahkan udah liburan ke Singapura bareng, masih aja dia ngotot ngejar Rendi!"
"Tahu tuh nyebelin banget!" kata meta sambil menyisir kembali rambutnya yang tadi acak-acakan.
"Eh iya ngomong-ngomong ngapain aja kamu di Singapura sama Rendi?Nah ya ketahuan, jangan-jangan!"
"Hush, jangan mikir yang macem-macem deh! Lagian aku dan Rendi ke sana ada keperluan penting tahu!"
"Keperluan?Perlu apa emangnya?"
"Ah kepo banget pengen tahu!"
Meta memang sengaja tak memberi tahu kepada siapapun tentang penyakit Rendi, mungkin yang mereka tahu bahwa dia dan juga Rendi hanya sekedar jalan-jalan saja ke Singapura. Meta belum siap menceritakan hal ini pada teman-temannya termasuk pada sahabatnya. Bagi meta biarlah ini menjadi rahasia antara dia dan Rendi saja yang tahu.
"Jangan-jangan bener kata anak-anak?" tanya Rika menyelidik.
"Apanya yang bener?"
"Kalo kamu diem-diem udah nikah sama Rendi di Singapura."
"What, nikah?Mikirmu kejauhan Rik! Kita tuh masih SMA perjalanan masih panjang, aku masih pengen kuliah, masih pengen mengejar cita-citaku!"
"Huft syukurlah kalo gitu!" jawab Rika sambil bernafas lega.
"Ya kali gue nikah gak ngundang-ngundang Lo! O iya gue ada oleh-oleh buat Lo!"
"Apa?"
Meta mengambil sesuatu di tasnya, oleh-oleh itu memang khusus dia siapkan untuk sahabatnya itu.
"Taraaaa."
Meta memberikan sebuah kaos beserta gantungan kunci khas Singapura.
"Wah makasih ya met, bagus banget aku suka! Sering-sering aja Lo keluar negeri biar gue dapet oleh-oleh kayak gini!"
"Hem maunya!"
Di saat mereka tertawa bersama tiba-tiba Rendi datang menghampiri mereka.
"Kamu gak papa met? Kata anak-anak lain kamu tadi berantem sampai jambak-jambakan rambut sama Dinda? Mana yang sakit?" tanya Rendi sambil memegang rambut meta yang sudah rapi karena habis dia sisir tadi.
"Aku gak papa kok, cuma agak sakit dikit aja rambutku bekas dijambak tadi!"
"Ya elah yang lagi pacaran, berasa dunia milik berdua yang lain ngontrak. Gue berasa makhluk transparan kagak dianggep dari tadi!" celoteh Rika menyindir mereka berdua.
"Sorry Rik gak maksud nyuekin, cuma panik aja tadi kalo meta kenapa-kenapa!" jawab Rendi.
"Ya elah nih anak baper banget pakek bilang makhluk transparan segala! Makanya cari cowok Rik, biar ada yang merhatiin juga!" kata meta menggoda Rika.
"Gak ah gue mau fokus menjomblo dulu aja!""
Mereka pun terkekeh bersama karena tingkah Rika yang bisa mencairkan suasana gara-gara sifat ceplas-ceplosnya.