
"Met....tunggu met...!"
Rendi mengejar meta ke kelas Rendi masih penasaran dengan Ardian yang mengaku-ngaku menjadi calon pacar meta. Rendi ingin menanyakan langsung pada meta tentang hal itu.
Rendi melewati koridor kelas 1.
"Kak Rendi....!" teriak seseorang memanggil Rendi.
Spontan Rendi menghentikan langkahnya dan menoleh memastikan siapa yang memanggilnya.
"Iya kamu kenal aku?"
Sesosok cewek yang bertubuh mungil dengan rambut sebahu itu menghampiri Rendi.
"Kak Rendi kan?Ini aku kak, Anisa!"
"Sorry Anisa siapa ya?"
"Ya ampun masak kak Rendi lupa...aku Ica kak "
Rendi mengernyitkan dahi, mengingat-ingat kembali.
"Aduh sorry banget Ica siapa yah, eh sorry gue lagi buru-buru nih lain kali aja ya!"
"Eh tunggu kak, ya ampun masak kak Rendi lupa, kita kan waktu kecil suka maen bareng, aku Ica kak tetanggamu waktu dulu kamu sebelum pindah!" kata Ica spontan memegang tangan Rendi.
Rendi mencoba mengingat lagi kejadian masa lalunya dulu.
"Ya ampun kamu Ica....beneran kamu Ica....iya...iya.. aku ingat...kamu yang suka nangis kalo diceng-cengin teman sekelasmu waktu di sekolah kan!"
"Kok yang diinget yang itu sih, aku jadi malu, tapi kak Rendi dulu selalu belain aku di depan temen-temenku!"
"Kamu sekolah di sini juga."
"Iya kak, kak Rendi sekarang tinggal di sekitar sini?"
"Agak jauh sih dari rumah sebenarnya tapi aku suka pindah sekolah di sini!"
"Wah...aku gak nyangka bisa ketemu sama kak Rendi lagi di sini!"
"Iya...gak nyangka yah....eh aku ke kelas dulu ya... kapan-kapan kita sambung lagi!"
"Ow...okey....!"
Rendi menuju ke kelas menemui meta. Tapi sayangnya ketika dia masuk ke kelas ternyata sudah ada guru di situ.
Rendi pun segera duduk di tempat bangkunya mencari buku tulis dan kemudian menyobek halaman buku yang masih kosong.
Rendi menuliskan sesuatu meremas kertas itu sampai terbentuk seperti bola dan melemparkan kertas itu ke meta yang duduk di sebelah mejanya.
Meta yang sibuk memperhatikan guru kaget melihat lemparan kertas itu, Meta mengambil kertas itu dan melihat ke arah Rendi.
"Apa ?" bisik meta
"Baca!" kata Rendi sambil memberi kode.
Meta membuka kertas itu.
Kenapa tadi langsung pergi?
Siapa Ardian?Calon Pacarmu?
Meta menoleh ke arah Rendi, dan kemudian membalas tulisan Rendi di kertas yang sama.
Bukan siapa-siapa?o iya...Anisa?siapa Anisa?mantan pacarmu...kok tiba-tiba sok akrab gitu pas ketemu?"
Meta melemparkan kertas itu lagi.
Gak usah ngalihin topik deh....kamu belum jawab pertanyaanku....!!!!!!!
Rendi gemas dengan jawaban meta sampai-sampai dia meremas kertas itu sampai hampir sobek dan melemparkan kertas itu lagi ke Meta.
Ardian suka sama aku tapi aku gak suka sama dia. Dia selalu ngejar-ngejar aku.
Rendi menoleh ke arah meta setelah mendapat jawaban itu dari meta dan tak memberikan respon balasan lagi
Tak mendapat jawaban dari Rendi akhirnya meta juga menyobek halaman tengah buku yang masih kosong.
Belum di jawab!!!!!Anisa siapa????
Rendi pun hendak melempar kertas balasan ke meta, naasnya kertas itu terjatuh dan diambil oleh pak Rio guru matematika mereka. Pak Rio menghampiri meja mereka yang terletak sebelahan.
"Apa ini?meta....Rendi.....dari tadi bapak perhatikan kalian maen lempar-lemparan kertas!Sedang apa sih kalian!"
"Iya pak maaf!"kata Rendi.
"Kayak anak kecil aja maen lempar-lemparan kertas!!Sekali lagi kalian lempar-lemparan kertas lagi lebih baik kalian keluar gak usah ikut pelajaran bapak!"
"Aduh jangan dong pak....iya maaf pak..kita gak akan ngulangin lagi" kata meta memohon.
Meta pun melotot ke arah Rendi, memberi kode supaya gak usah mainan surat-suratan kayak gini.
Meta kembali konsentrasi dengan pelajaran, mencatat materi-materi yang diterangkan oleh pak Rio. Tiba-tiba Rendi melemparkan kertas lagi ke arahnya.
"Met...tuh Lo dikirimin kertas sama Rendi lagi tuh....!"
"Mana?"
"Kamu tuh lagi ngapain sih sama Rendi, kok kayak akrab gitu, pake surat-suratan pake kertas lagi, jangan-jangan!!!"
"Ya ampun ka, jangan-jangan apa?"
"Ya aneh aja dari kemarin Rendi tanding basket cuma supaya pengen ngobrol sama kamu, terus sekarang surat-suratan kayak gini!"
Rendi menjadi kesal meta tak segera membuka kertas yang dia lempar tadi, meta malah mengabaikannya dan asyik mengobrol dengan Rika. Rendi pun melempari meta beberapa kertas lagi supaya meta membalasnya.
"Aduh....!" meta terkena lemparan kertas dari Rendi yang pas mendarat di kepalanya.
Meta pun melihat banyak kertas-kertas lain yang sudah berserakan didekat tempat duduknya.
"Rendi....meta....masih belum selesai lemparannya?" kata pak Rio yang tiba-tiba menghampiri mereka berdua lagi.
Pak Rio mengambil salah satu kertas itu dan membukanya. Penasaran dengan apa yang ditulis mereka berdua Pak Rio membaca tulisan di kertas itu.
"Rendi ini surat dari kamu buat meta?"
"I...i....y...y...a...p...a..k"
"Ke depan sekarang....!" kata pak Rio menaikan volume suaranya.
"Buat apa pak?"
"Cepat ke depan!" kata pak Rio marah.
Rendi pun bergegas ke depan kelas, takut kalo pak Rio memarahinya lagi.
"Baca kenceng-kenceng isi surat kamu!Cepet!" perintah pak Rio.
Glek....Rendi kaget pak Rendi menyuruhnya membacakan suratnya itu.
"I...i...y..y...a...pa...kkk!"kata Rendi
Rendi membacakan isi dari surat yang dia kirim itu dengan suara lantang.
Met...nanti pulang sekolah pulangnya bareng aku aja yah...kamu gak usah marah ya....Anisa itu cuma tetanggaku dulu.....I Love you....
Seketika suasana kelas yang tadinya hening berubah jadi heboh ketika mengetahui isi surat itu.
"Cie...cie.....cie...." kata anak-anak lain menyoraki mereka berdua.
Meta pun menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya karena saking malunya surat itu dibacakan di kelas.
"Lain kali kalo pacaran di kelas lagi kalian gak boleh ikut pelajaran saya!Jelas!!!!"
"Iya pak..." jawab Rendi yang kemudian kembali ke tempat duduknya.
Anak-anak yang lain menggoda mereka berdua.
Dinda yang mendengar surat Rendi itu merasa seperti terbakar.
"'Apa hubungan Rendi sama meta? jangan-jangan mereka ah gak ga ini gak mungkin!" kata Dinda dalam hati.
Devan pun hampir serupa dengan Dinda, masih merasa bertanya-tanya apa hubungan mereka berdua.
Meta benar-benar merasa malu saat itu, bahkan seolah menunjukkan mimik wajah protes pada Rendi, tapi anehnya Rendi tak menggubris protes meta itu, bahkan sebenarnya Rendi ingin supaya teman-temannya yang lain kalo mereka sudah jadian, apalagi Rendi ingin menunjukan pada Devan dan Ardian yang terang-terangan mendekati meta.