TERJEBAK CINTA META

TERJEBAK CINTA META
Kehilanganmu Selamanya


Devan membangunkan meta yang tertidur di sebelah Rendi. Meta membuka matanya yang sembap, dia tersadar di sekitarnya sudah ada Devan dengan Tante Karoline. Bahkan dia melihat dokter melepas alat bantu pernapasan untuk Rendi.


"Loh ada apa ini? Kenapa dokter tiba-tiba nglepasin semua peralatan di tubuh Rendi?" kata meta kaget.


"Met....yang sabar yah....!!!" kata Karoline sambil memeluk meta dengan air mata.


"Kenapa Tante, ada apa ini??"


Meta tak mengerti dengan Karoline yang menangis sedang Devan terpaku menundukkan kepalanya. Meta yang tak mendapat jawaban dari mereka berdua langsung melepas pelukan Tante Karoline dan mendekat ke tempat tidur Rendi.


"Dokter, what's wrong with Rendi?" kata meta setengah berteriak.


"I've do my best...but sorry...!!"


Belum selesai dokter berkata-kata meta langsung berhambur memeluk Rendi. Seolah dia tak percaya kalau dia sudah benar-benar kehilangan Rendi. Meta menangis sejadi-jadinya sambil memeluk Rendi erat. Pelukan yang pasti akan selalu dia rindukan, pelukan terakhir yang bisa dia lakukan.


Devan menghampiri meta, berusaha menenangkan meta yang menangis tersedu.


"Meta...kamu yang sabar yah....!!"


Meta mendekat ke arah Devan sambil memegang tangan Devan, mendekatkan tangan Devan ke pipinya.


"Van...ini cuma mimpi kan...tolong tampar aku Van...tampar aku yang kenceng supaya aku bisa cepat bangun dari mimpi buruk aku ini! Tampar aku Van.....!!" kata meta sambil mengarahkan tangan Devan supaya bisa menamparnya.


"Meta....aku tahu kamu pasti bisa melewati semua ini!! Kamu harus kuat yah....Rendi juga pasti gak mau kamu kayak gini!!"


Devan yang memegang tangan meta kemudian memeluknya supaya meta bisa lebih tenang. Saat ini meta benar-benar tak bisa untuk tenang. Meta berusaha melepaskan pelukan Devan dan menghampiri tubuh Rendi lagi.


Tubuh Rendi yang dalam beberapa hari ini sudah terlihat pucat, bahkan kali ini meta melihat wajah Rendi sudah benar-benar pucat.


Terlintas dipikiran meta semua kenangan dengan Rendi. Kenangan yang sudah terlalui begitu indah dan tak mungkin bisa lupakan begitu saja. Bahkan cincin tunangan mereka pun masih melingkar di jari manis Rendi.


Meta memegang tangan Rendi, melihat cincin pertunangan mereka berdua, kenangan tentang indahnya saat acara pertunangan itu membayangi benak meta saat ini, bahkan meta teringat saat-saat kebersamaan mereka waktu pertama kali Rendi menyatakan cintanya di tengah hamparan bunga kesna dan bunga Gemitir yang begitu indah, air matanya semakin deras mengalir mengenang masa-masa itu.


"Rend...kamu pasti cuma mau bikin surprise sama aku kayak bisanya kan?? Aku tahu kamu cuma tidur....Rend...udah bercandanya! Gak lucu tahu gak kayak gini....Aku mohon kamu bangun sekarang!!"


Karoline yang mendengar itu pun hatinya seolah makin tersayat. Melihat meta yang mungkin sulit menerima kedaan ini sama seperti dia saat ini, harus kehilangan orang yang paling dia sayangi. Karoline mendekati meta, mengelus pundak meta. Karoline sendiri juga merasakan kepedihan yang teramat dalam.


Karoline memeluk meta, seolah mereka ingin menguatkan satu sama lain. Mencoba untuk menerima semua ini meski terasa sulit.


"Kita harus kuat meta! Rendi pasti gak mau lihat kamu kita seperti ini!!" kata Karoline sambil terisak.


"Tante...aku gak mau kehilangan Rendi....!!!"


"Tante....Tante...gak sendiri....masih ada meta...anggap saja meta seperti anak Tante sendiri!"


"Terimakasih sayang, terimakasih selama ini sudah mengisi hari-hari indah untuk Rendi. Mungkin terkadang Rendi membuatmu marah dan terkadang sering egois sama kamu. Tapi yang jelas Rendi sangat menyayangi kamu, cuma ada kamu yang ada di hatinya. Bahkan sampai saat-saat terakhirnya dia selalu memikirkan kamu, Rendi bekerja keras untuk membangun perusahaan yang dia rintis untuk masa depannya bersama kamu. Tapi ini adalah takdir Tuhan yang tak mungkin bisa kita pungkiri. Meski ini berat untuk kita, kita harus kuat untuk Rendi!!"


Meta hanya bisa mengangguk sambil menyeka air matanya, kata-kata Tante Karoline sedikit bisa membuatnya kuat meski tertatih.


Meta mencium kening Rendi untuk terakhir kalinya, menangkupkan kedua tangannya ke pipi Rendi.


"Aku cinta sama kamu Rend....Bagiku kamu adalah cinta pertama sekaligus cinta terakhirku! Hanya ada kamu di hatiku...selamanya...dan tak akan terganti...! Semua kenangan bersamamu adalah saat-saat yang tak akan pernah aku lupakan!!! Kamu sudah berkorvan banyak untuk aku! Aku tahu mungkin kamu lelah dengan semua ini, maaf jika aku tak bisa melakukan apa pun untuk kesembuhan kamu...bahkan aku tak bisa mencatikanmu pendonor sum-sum tulang buat kamu!!!"


"Meta...kamu harus ikhlas dengan semua ini, kamu gak boleh nyalahin diri kamu sendiri, pasti Rendi juga akan sedih kalau lihat kamu seperti ini!' kata Devan sambil mengelus pundak meta.


"Rendi.....aku....aku.... benar-benar gak bisa hidup tanpa kamu!!"


Meta terisak sambil mencium pipi Rendi, seolah berat baginya untuk menerima semua ini. Meta yang tak kuat menahan kesedihannya tiba-tiba jatuh pingsan.


Devan dan Karoline langsung sigap menolong meta yang hampir saja jatuh ke lantai karena pingsan. Devan langsung membawa meta untuk mendapat perawatan medis, sedang Karoline mengurus segala keperluan untuk pemakaman rendi di Indonesia.


Dengan cepat berita mengenai Rendi pun menyebar di berbagai teman-teman kampus Rendi, terutama ke sahabat dekat Rendi semasa kuliah yakni bastian dan juga Rafael.


Teman-teman kuliah juga syok mendengar kabar kepergian Rendi, karena yang mereka tahu Rendi tak pernah menunjukan penyakitnya itu. Bahkan kedua sahabatnya pun tak pernah mengetahui tentang penyakit Rendi. Namun entah kenapa akhir-akhir ini Rendi memang jarang terlihat di kampus, nomor Rendi pun tak bisa dihubungi.


Dari dulu Rendi memang selalu menyembunyikan penyakitnya itu, bahkan kedua sahabat dekatnya pun juga tak pernah Rendi beritahu tentang penyakitnya. Rendi hanya tak ingin dia dikasihani karna penyakitnya, bagi Rendi dia bisa melakukan aktivitas biasa tanpa harus dianggap sebagai orang sakit.


Begitu pula dengan Merry yang terakhir kali dia bertemu Rendi masih dalam keadaan sehat, yah meski beberapa waktu lalu Rendi selalu menghindari Merry. Merry juga seolah tak percaya mendengar berita itu.


Bastian dan Rafael langsung menuju rumah sakit saat tahu berita itu. Mereka benar-benar merasa tak percaya dengan semua ini, bahkan selama ini mereka berdua melihat Rendi baik-baik saja seolah tak punya penyakit apa pun.


Bastian dan Rafael menemui Tante Karoline untuk mengucapkan belasungkawa. Mereka berdua ingin bertemu dengan Rendi untuk yang terakhir kalinya. Air mata tak dapat mereka bendung kala melihat Rendi saat ini.


Rasa kehilangan seorang sahabat yang bagi mereka terasa tiba-tiba.


"Kita berdua sangat kehilangan kamu Rend, kita benar-benar gak nyangka kalo selama ini ternyata kamu sakit!!" kata Bastian berusaha menahan air matanya.


"Kita akan kehilangan anggota the cool man....! Dan semua gak akan Setu tanpa kehadiran kamu Rend!!! Kenapa secepat ini rend???"


Rafael memijat dahinya, berusaha membendung air matanya namun tak sanggup karna kesedihannya yang terlalu dalam kehilangan sahabatnya itu.


^^^AYO JANGAN LUPA LIKE DAN VOTE YAH....^^^^