TERJEBAK CINTA META

TERJEBAK CINTA META
Acara perpisahan sekolah


Setelah kejadian itu, meta


benar-benar muak dengan Ardian. Bahkan dia tak mau untuk melihat muka Ardian lagi. Meta pun melaporkan perbuatan Ardian kepada kepala sekolah. Alhasil Ardian mendapat peringatan keras dari sekolah serta mendapat skorsing beberapa hari.


Orang tua Ardian pun diundang ke sekolah untuk secara langsung meminta maaf kepada meta. Mungkin meta memang bisa memafkan, tapi dia benar-benar tidak bisa melupakan kejadian itu dibenaknya. Sebenarnya meta bisa saja melaporkan hal ini ke polisi. Tapi meta mengurungkan niatnya itu, dia masih punya hati nurani karena merasa kasihan jika Ardian sampai dibawa ke kantor polisi. Apalagi waktu itu mama Ardian menangis sambil memohon-mohon pada meta untuk tidak memperkarakan semua ini ke kantor Polisi. Akhirnya meta hanya menyelesaikan secara kekeluargaan dengan perjanjian Ardian tidak akan melakukan hal itu lagi pada meta.


*********


Hari pengumuman kelulusan pun tiba, hari ini semua anak kelas 3 menanti pengumuman kelulusan ujian. Sekolah mengadakan acara pensi untuk acara kelulusan sekaligus perpisahan kelas 3.


Semua anak kelas 3 dinyatakan lulus ujian, spontan mereka bersorak riang kala menerima surat tanda kelulusan mereka. Bahkan sebenarnya mereka sudah menyiapkan spidol untuk melakukan corat-coret di seragam sebagai wujud kenang-kenangan bagi mereka.


Seusai pengumuman acara pensi itu pun diisi oleh beberapa acara seni, beberapa diantaranya ada band dari anak kelas 1 dan 2, banyak juga dari anak kelas 3 yang menyumbangkan bakatnya. Entah itu menari, ngeband ataupun unjuk kebolehan yang lain.


Hari ini merupakan suatu kebanggaan bagi meta pasalnya dia ditetapkan sebagai siswa berprestasi tahun ini, mengalahkan Dinda rivalnya. Meta lulus dengan nilai terbaik di sekolah, dengan itu dia mendapat kesempatan untuk berpidato di depan semua warga sekolah dan tamu undangan. Bahkan meta menjadi salah satu siswa yang menginspirasi karena dia menjadi satu-satunya siswa yang berhasil mendapat beasiswa kuliah ke Jerman.


Saat itu Devan menjadi salah satu pengisi acara, waktu itu dia dengan bandnya menyanyikan beberapa lagu. Beberapa lagu yang dia nyanyikan untuk menghibur tamu yang hadir di situ.


"Terimakasih semuanya, kepada bapak ibu guru yang selama ini selalu membimbing saya selama 3 tahun di sekolah. Tidak lupa juga saya mengucapkan terima kasih pada seseorang yang sudah menjadi semangat saya dalam sekolah. Lagu ini saya nyanyikan untuk dia yang selalu spesial di hati saya!" kata Devan sebelum memulai bernyanyi.


Spontan anak-anak di sekolah itu langsung bersorak-sorai menyambut Devan yang mulai memainkan gitarnya.


Ku tak bahagia


Melihat kau bahagia dengannya


Aku terluka


Tak bisa dapatkan kau sepenuhnya


Aku terluka


Melihat kau bermesraan dengannya


Ku tak bahagia melihat kau bahagia


Harusnya aku yang di sana


Dampingi mu dan bukan dia


Harusnya aku yang kau cinta dan bukan dia....


Harusnya kau tahu bahwa cintaku lebih darinya


Harusnya yang kau pilih bukan dia


Devan menyanyikan lagu itu sepenuh hati sambil sesekali menatap meta dari kejauhan. Meta yang dari tadi melihat penampilan Devan seolah tahu kalo Devan sengaja menyanyikan lagu itu untuknya. Meta sekilas melihat Rendi, tapi kebetulan kala itu sepertinya Rendi sedang sibuk dengan temannya sehingga dia tidak begitu jelas memperhatikan lagu yang sedang dinyanyikan oleh Devan.


"Met, kayaknya lagu yang dinyanyiin Devan itu buat Lo deh!" kata Rika yang duduk tepat di sebelah meta.


"Ah masak sih, mungkin kebetulan aja dia suka sama lagu itu."


Meta masih menampiknya, meski dia juga tahu kalo jelas-jelas lagu itu dinyanyikan Devan untuk menyindirnya.


"Iya kebetulan pas sama perasaannya saat ini!" celetuk Rika.


"Halah udahlah Rik, gak usah dibikin baper ah!"


"Ya elah ini anak, jelas-jelas lagu itu nyindir Lo! Masak Lo gak ngrasa, lagian Devan kan dari dulu memang ada rasa sama lo! Bahkan secara gak sengaja Devan selalu ada di saat Lo butuh, ya kan?"


"Udahlah Rik gak usah dibahas, kamu tahu kan aku udah sama Rendi!"


Rika pun tak bisa berbuat banyak walau sebenarnya dia tahu kalo Devan memang tulus sayang sama meta bahkan mungkin dari dulu. Tapi Rika juga tidak bisa memaksakan perasaan sahabatnya itu.


Setelah acara pensi itu pun banyak anak-anak kelas 3 yang saling bertukar tanda tangan di baju seragam yang mereka kenakan. Meta menghampiri Devan yang sedang berada di belakang panggung untuk berterima kasih padanya sekaligus mengembalikan jaketnya yang kemarin dia pakai untuk menutup baju seragamnya yang sobek.


Saat itu Devan sedang ngobrol dengan teman-teman yang lainnya di belakang panggung.


"Van boleh ngomong sebentar?"


"Iya met, ada apa!"


"Ini Van jaket kamu yang kemarin, aku bener-bener terima kasih banget sama kamu. Kalo gak ada kamu kemarin, gak tahu deh nasib aku gimana sekarang!"


"Iya aku pengen berusaha lupain kejadian itu, meskipun sulit! Pokoknya makasih banget ya kamu udah baik banget sama aku! Kalo gitu aku balik ke sana lagi ya!"


Meta membalikan badan, hendak pergi dari situ.


"Tunggu met!"


"Iya ada apa Van?"


"Aku boleh tanda tangan di seragam kamu?Buat kenang-kenangan!"


"Iya boleh!"


Rendi pun memberikan tanda tangan di seragam meta dan menuliskan sesuatu di situ, tulisan yang tidak diketahui meta saat itu. Kemudian bergantian dengan meta yang juga melakukan tanda tangan di seragam Devan.


"Udah Van, makasih ya. Kalo gitu aku balik ke sana lagi yah!"


"Meta, sebelum kamu pergi, boleh aku tanya sesuatu sama kamu?"


"Boleh, memang mau tanya apa Van?'


"Kamu serius mau kuliah ke Jerman?"


"Iya Van, kamu tahu kan aku dapet beasiswa di sana! Aku gak mau nyia-nyiain kesempatan itu!"


"Berarti kamu LDR dong sama Rendi?"


Sebenarnya Devan juga menahan rasa sakit ketika mengucapkan seperti itu, mungkin devan juga akan menjadi salah satu orang yang akan kehilangan meta saat dia harus pergi ke Jerman. Tapi Devan berusaha menutupi itu semua, seolah Devan ingin menampilkan ekspresi muka yang seolah biasa saja.


"Sebenarnya Rendi sih keberatan kalo aku ke Jerman, tapi itu udah jadi cita-citaku dari dulu van!"


"Wah berarti bakal jarang ketemu kamu lagi dong met!!! Kalo aku kangen gimana?"


"Hah apa Van? Kangen?"


"Eh, aku cuma becanda kali!"


Padahal sebenarnya itu memang merupakan isi hati devan yang tak bisa diungkapkan.


"Kamu tuh Van, gak pernah berubah, masih suka becanda! Tapi mungkin aku juga bakal kangen sama candaan-candaan kamu yang garing kayak gini!" kata meta sambil tersenyum.


"Awas entar gak bisa tidur gara-gara kangen gak bisa dengerin candaan aku setiap hari!Hehehehe!" goda Devan.


"Anda percaya diri sekali sih, pengen banget dikangenin! Hehehehe!"


Obrolan bersama Devan memang sering tanpa sengaja membuat meta tertawa.


"Eh Van aku ke sana dulu yah, kayaknya Rendi nyariin aku tuh! Nanti kita sambung lagi!"


"Iya deh yang lagi dicariin pacarnya, kayaknya Rendi takut banget kamu ilang!"


"Ngledek nih ceritanya!"


"Nggak, ya udah sana! Udah ditungguin tuh!"


"Iya, iya, bawel!!"


Meta melangkah pergi dari situ.


"Meta!!"


"Apalagi sih Van?" jawab meta membalikan badan sambil cemberut.


"Jangan kangen sama aku yah!" kata Devan menggoda meta.


"Ini anak GR banget sih!! Gak bakal aku kangen sama kamu!" kata meta sambil berkacak pinggang.


"Heleh...kita lihat aja nanti!" teriak Devan.


Meta meneruskan langkahnya menganggap candanya Devan seperti angin lalu.


Meta berlalu meninggalkan Devan yang masih mematung di situ. Devan hanya bisa menatap meta yang sudah menjauh, dari jauh dia melihat meta yang menghampiri Rendi. Dan untuk kesekian kalinya Devan merasa sakit menyaksikan itu.