
"Sebenarnya Ardian yang kasih tahu aku tentang rencana busuk Dinda!"
"Hah, Ardian?" kata Rendi kaget.
"Iya, tadi dia telpon aku dan jelasin semuanya ke aku!"
"Gue gak nyangka Dinda selicik itu, bahkan bisa-bisanya dia menyewa orang untuk memukuli aku!"
"Dinda memang perempuan licik, dia juga udah mempermalukan gue di depan umum, makanya gue pengen kasih dia pelajaran dengan melaporkannya ke polisi."
"Van, gue boleh gak minta tolong sama Lo!"
"Minta tolong apa?" tanya Devan heran karena tak biasa-biasanya dia bisa seakrab ini dengan Rendi.
"Tolong jagain meta selama gue gak bisa ada di sampingnya, gue tahu Lo adalah orang yang tepat karna Lo adalah satu-satunya orang yang selalu ada di dekat meta!"
"Maksud Lo nyuruh gue buat jagain meta?"
"Yah mungkin gue gak bisa selamanya buat ngejagain meta, dan gue berharap Lo mau janji bakal ngejagain meta dari apa pun!"
Devan heran melihat tingkah Rendi yang tiba-tiba berubah seperti itu. Padahal biasanya dia selalu melarangnya dan harus jauh-jauh dari meta. Devan cuma menanggukkan kepalanya saat Rendi bilang seperti itu, sambil mencoba mencerna apa maksud dari perkataan Rendi yang tiba-tiba menyuruhnya untuk menjaga meta.
"Tapi jangan bilang apa pun ke meta soal janji kita ini!!"
"Kenapa?"
"Biar ini jadi rahasia kita berdua aja! Gue harap Lo bisa jagain meta kalo gue gak ada di samping meta", kata Rendi dengan wajah sendu dan segala pikiran yang ada dibenaknya saat ini.
Tok tok tok
Mereka berdua yang sedang mengobrol pun mendengar suara ketukan pintu itu langsung menengok ke arah pintu.
"Rendi....kamu gak apa-apa?" meta berteriak dan menghampiri Rendi.
Meta melihat semua luka Rendi di beberapa bagian wajah dan tubuh Rendi.
"Kok bisa kayak gini sih? Gimana kejadiannya tadi? Kamu dikeroyok? Siapa yang ngroyok kamu?" kata meta panik.
"Ya ampun satu-satu dong tanyanya! Tadi ada orang yang mau niat jahat sama aku!"
"Siapa orangnya?"
"Dinda!" jawab devan.
"Apa Van? Aku gak salah denger? Dinda yang nglakuin semua ini! Bener-bener ya tuh cewek, apa sih maunya dia sebenarnya?"
"Tadi Ardian kasih tahu aku, katanya dinda nyusun rencana buat nyelakain rendi dan mempermalukan kamu!"
Meta terdiam dan menyambungkan semuanya dengan surat dari Ardian tadi. Dia tidak menyangka kalo memang Dinda orang selicik itu.
"Kok malah bengong sih?" tanya Rendi heran melihat meta yang sedang memikirkan sesuatu.
"Eh nggak, aku jadi ke inget sesuatu! Kamu masih ingat kan Rend tadi waktu reuni sekolah Ardian kasih amplop putih buat aku dan dia ngomong kalo dia gak bakal ganggu aku lagi!"
"He em inget, terus apa hubungannya dengan kejadian ini. Karena tadi Devan juga bilang kalo dia tahu rencana jahat Dinda dari ardian," kata Rendi penuh dengan tanda tanya.
"Tadi di surat itu Ardian bilang kalo ternyata Dinda yang punya ide supaya Ardian berlaku kurang ajar dulu waktu SMA. Dan Ardian yang waktu itu juga pengen memiliki aku sehingga dia menyetujui ide dari Dinda itu. Tapi dia sudah meminta maaf di surat itu!"
"Apa ? Jadi yang waktu dulu Ardian berbuat kurang ajar itu karna ide Dinda? Bener-bener tuh anak!" kata Rendi geram.
"Yah dengan dia ditangkap polisi bisa bikin dia jera!" kata Devan menimpali.
"Apa? Dinda ditangkap polisi?" kata meta kaget.
"Iya tadi Devan sama polisi yang nolongin aku di sana dan bawa aku ke sini!"
"Sama-sama met, tadi aku setelah dikasih tahu sama Ardian tentang rencana jahat Dinda aku langsung menuju ke sana sama polisi buat nangkep Dinda dan preman sewaannya itu!" kata Devan menjelaskan.
"Berarti tadi Rendi kena pukul sama preman-preman itu. Ya ampun, nekat banget sih tuh cewek ular!"
"Sebenarnya tadi dia menawarkan sesuatu sebelum menyuruh preman itu memukuli aku!" kata Rendi.
"Menawarkan apa?" tanya meta heran.
"Yah intinya dia gak bakal ngapa-ngapain aku kalo aku bisa jadi pacar dia! Tapi jelas-jelas langsing aku tolak dia! Dan aku bilang sampai kapan pun gak ada yang bisa ngegantiin kamu di hatiku!"
Meta pun tersenyum sambil menatap Rendi dan menggegam tangannya.
"Ehem...ehem...ada orang lho di sini!" kata Devan menggoda mereka berdua.
"Ya elah Van, dari tadi juga tahu keles kalo kamu di sini!" gerutu meta.
"Tapi gak perlu mesra-mesraan di depanku juga kali!" gerutu Devan.
"Ya maaf, gak sengaja. Oh iya sebenarnya ada satu hal penting lagi yang ditulis di surat Ardian itu. Jadi sebenarnya dia bilang kalo surat itu adalah surat terakhir yang ditulis buatku, karena ternyata Ardian divonis menderita penyakit meningitis dan dia bilang kalo umurnya gak akan lama lagi. Makanya dalam surat itu dia benar-benar ingin meminta maaf denganku!" jawab meta.
"Ardian menderita penyakit meningitis?" tanya Devan kaget.
"Iya, dia bilang kalo surat yang diberikan dia tadi adalah surat yang terakhir dan dia gak bakal ganggu kehidupanku lagi setelah itu! Sebenarnya aku kasihan sekaligus gak nyangka sama semua ini! Dan sebenarnya aku sudah memaafkannya dari dulu!"
"Aku gak nyangka kalo dia menderita penyakit dan umurnya gak lama lagi!" jawab Rendi, sesaat tatapan mata Rendi kosong menatap ke depan seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Rend, kok malah jadi nglamun sih? Kamu kenapa?" tanya meta heran melihat sikap Rendi yang tiba-tiba melamun.
"Eh nggak, aku gak papa kok! Cuma kaget aja denger itu!"
"Em, sebenarnya aku berniat untuk menemui dia sebelum berangkat ke Jerman. Yah sekedar untuk menjelaskan kalo aku sudah memaafkan dia, tapi itupun kalo kamu ijinin Rend!"
"Iya, aku gak papa kok kalo kamu mau nemuin dia, aku juga kasihan kalo dia harus terus menerus menanggung rasa bersalahnya sama kamu!"
"Makasih Rend, kamu udah ijinin aku buat ketemu ardian!"
"Em, kalo gitu aku pulang dulu yah!"
"Kamu mau pulang sekarang Van?"
"Iya, kan udah ada kamu yang nemenin Rendi. Jadi mendingan aku balik sekarang!"
"Kalo gitu sekali lagi aku makasih banget sama kamu van! Kalo gak ada kamu aku gak tahu Rendi bakal kayak gimana!"
"Makasih ya Van udah nolongin gue, maaf juga kalo gue suka ketus sama Lo selama ini! Gue berharap saat meta jauh dari dia!"
"Santai aja kali, kayak sama siapa aja! Tenang aja pasti meta bakal gue jagain!"
"Tapi hanya sebatas jagain yah, awas kalo kamu cari kesempatan sama dia!"
"Ya ampun, Lo gak percaya sama gue!"
"Bukannya gitu, gue cuma jaga-jaga aja!"
"Ya elah, masih tetep aja curigaan!"
"Udah-udah nanti malah jadi pada berantem lagi! Kamu hati-hati di jalan ya Van, makasih buat semuanya!" kata meta menengahi.
"Okey, kalo ada apa-apa jangan sungkan-sungkan buat hubungin gue!" kata Rendi sambil menepuk bahu Rendi sebelum pergi.
"Thanks bro!" jawab Rendi.
Devan pun meninggalkan mereka berdua di situ.