TERJEBAK CINTA META

TERJEBAK CINTA META
Jadi kamu udah tahu semuanya?


Devan memeluk meta yang kedinginan, entah kenapa Devan begitu panik melihat meta yang menggigil kedinginan seperti itu.


"Aku bawa ke dokter yah? Aku takut terjadi apa-apa sama kamu!"


"Gak Van, aku gak papa!"


"Aku bikinin teh anget yah!"


Meta hanya mengangguk menjawab Devan, rasanya tubuhnya tiba-tiba merasa lemas.


Devan langsung sigap membuatkan teh manis hangat untuk meta.


"Minum dulu tehnya!"


Devan membantu meta untuk bangun dan membantunya meminumkan teh itu.


"Makasih Van kamu selalu bantuin aku!"


"Udahlah, kan aku udah sering bilang ke kamu! Kamu gak perlu terima kasih kayak gitu! Gimana udah mendingan?"


Devan meletakkan teh di meja, kemudian membantu meta berbaring dan menyelimutinya lagi.


"Van.....!" kata meta sambil memegang tangan Devan yang ada disampingnya.


"Hemmm, kenapa?" tanya Devan sambil menatap meta yang nampak lemas dan pucat.


"Aku pengen cerita sesuatu ke kamu!"


"Cerita apa?"


"Beberapa hari lalu aku mimpi buruk, mimpi tentang Rendi. Dan mimpi buruk itu terus berulang, aku benar-benar takut Van, aku takut kalau mimpi itu jadi kenyataan!"


Nampak raut wajah Jesica yang ketakutan membayangkan mimpinya beberapa hari lalu, mimpi yang akhir-akhir ini menganggu pikirannya.


"Emang mimpi buruk apa, sampai kamu ketakutan gitu?"


"Di mimpiku itu aku melihat Rendi jatuh ke sungai, aku berusaha mencegahya tapi sia-sia, Rendi justru terjatuh ke sungai yang arusnya deras itu! Mimpi itu seperti nyata, aku benar-benar takut, takut kalau Rendi terjadi apa-apa, aku takut kalau Rendi ninggalin aku Van!"


Meta yang ketakutan bangun dari tempat tidurnya dan memeluk Devan. Devan yang kaget melihat meta yang nampak sangat ketakutan, membalas pelukan meta dan mengelus rambut panjang meta yang tergerai.


Devan belum pernah meta panik dan ketakutan seperti itu, meski kepanikan meta karena memikirkan Rendi.


"Kamu tenang yah, Rendi gak bakal kenapa-kenapa kok!" kata Devan menenangkan meta.


Air mata justru mengalir deras di pipi meta yang tanpa sengaja mengalir. Rasanya meta ingin menumpahkan segala penat di hatinya di pelukan Devan.


"Kalo mau nangis, nangis aja, gak usah di tahan!" kata Devan masih memeluk erat meta.


"Aku bakal selalu ada buat kamu met, aku akan menyediakan bahu aku untukmu, meski kamu bersandar di bahuku karena menangisi Rendi!" batin Devan.


Meta menangis sesenggukan di pelukan Devan, seolah dia akan benar-benar kehilangan Rendi.


"Aku takut kalau kehilangan rendi, aku boleh jujur sama kamu van!?"


Meta melepaskan pelukannya, menghapus air mata yang membasahi pipinya.


"Jujur tentang apa?"


"Sebenarnya Rendi pernah divonis menderita penyakit leukimia! Dan karna itu aku selalu khawatir dengan kesehatannya! Rasanya penyakit itu masih mengantui meski Rendi bilang dia udah sembuh dan rutin checkup. Aku gak tahu kenapa, rasanya aku begitu takut kehilangan Rendi!"


Devan tiba-tiba teringat dengan cerita Rendi beberapa waktu lalu saat di Indonesia.


"Van....Van...! Kok malah nglamun sih! Kamu dengerin gak sih?"


"Sorry met, iya aku denger kok. Jadi kamu mengaitkan mimpi buruk kamu sama penyakit rendi gitu?"


"Ya gak tahu, fillingku aja yang seolah menuju seperti itu! Tapi kok kayaknya kamu gak kaget aku bilang Rendi punya penyakit leukimia?"


"Kemarin waktu di Indonesia, waktu di ulang tahun Ardian dia cerita banyak ke aku sama Ardian. Bahkan Rendi memberi semangat ke Ardian supaya bisa sembuh, seperti dia yang bisa sembuh dari penyakitnya itu!"


"Iya aku udah tahu, kalo boleh jujur sebenarnya aku udah tahu itu lama!"


"Apa? Maksud kamu, sebelum aku sama Rendi cerita kamu udah tahu duluan?"


Devan membuang pandangannya, sambil menghela napas dia ingin menceritakan apa yang dia simpan selama ini.


"Aku udah tahu tentang penyakit Rendi, bahkan sewaktu SMA,"kata Devan mulai menceritakan semuanya.


"Jadi......??"


"Kamu masih ingat, saat awal-awal Rendi masuk sekolah, bahkan saat itu katanya kamu dan Rendi putus. Aku nganter kamu ke rumah namun waktu itu Rendi salah paham"


Masih teringat jelas peristiwa dimana Rendi hujan-hujanan di depan rumahnya yang kemudian membuatnya pingsan dan dilarikan ke rumah sakit hanya karena Rendi tidak ingin putus dengannya.


"Aku inget, bukannya waktu itu kamu udah pulang?'


"Kamu salah, waktu itu kamu masuk rumah, aku berusaha menjelaskan ke Rendi supaya gak salah paham. Tapi Rendi tetep gak percaya, dan aku pura-pura pamit pulang. Meskipun sebenarnya aku gak bener-bener pulang, aku lihat Rendi dari jauh yang kehujanan nunggu kamu bukain pintu! Dari situ aku baru tahu seperti apa perasaan Rendi sesungguhnya ke kamu!"


"Terus??"


"Aku lihat Rendi pingsan dan aku juga ngikutin kalian ke rumah sakit."


"Kamu ngikutin kita sampai ke rumah sakit? Buat apa?"


"Waktu di rumah sakit gak sengaja aku denger kamu ngobrol sama dokter, dan aku denger tentang perawatan Rendi di Singapura? Aku merasa penasaran jadi setelah kamu ngobrol sama dokter itu, aku langsung nyamperin dokter itu. Dan saat itulah awal pertama aku tahu apa penyakit Rendi sebenarnya!"


"Jadi, kamu tahu semua riwayat penyakit Rendi dari dokter itu?"


"Awalnya dokter gak mau ngasih tahu, tapi aku bilang kalau aku saudara Rendi yang ada di Indonesia, dokter kasih tahu aku kalo Rendi punya penyakit leukimia. Cuma itu aja informasi yang aku terima dari dokter!"


Sebenarnya meta tak keberatan kalau Devan mengetahui semuanya, hanya saja ternyata semua ini diluar dugaannya ternyata Devan sudah tahu riwayat penyakit Rendi dari dulu.


"Itulah makanya aku gak kaget waktu kamu cerita tentang penyakit Rendi?"


"Rendi tahu kalo ternyata kamu udah tahu dari dulu?"


"Nggak, waktu dia kemarin cerita aku pura-pura kaget seolah belum pernah tahu tentang penyakitnya. Aku minta maaf kalo aku berbohong sama Rendi waktu itu, hal itu semata-mata aku lakuin supaya menjaga perasaan Rendi."


"Makasih Van, kamu udah bisa jaga rahasia ini bahkan bertahun-tahun, karna jujur dari dulu cuma beberapa orang saja yang tahu tentang penyakit Rendi ini. Sebenarnya Rendi cuma gak pengen banyak orang yang tahu, apalagi dengan banyak orang tahu dia akan dikasihani banyak orang! Dia ingin menjalani kehidupannya dengan normal seperti saat dia belum terkena penyakit itu!"


"Aku tahu met, aku paham. Tapi hal itu jugalah yang membuat aku sepeti khawatir ketika kamu bersama Rendi! Emm maksud aku bukan karena kecemburuanku, tapi aku cuma khawatir aja kalau tiba-tiba Rendi dan kamu ada apa-apa waktu kalian pergi!"


"Jadi alasan kami selalu ngikutin aku dan Rendi selama ini??"


"Iya met, selama ini aku memang selalu mengikuti kamu dan Rendi kemana-mana, yah meski terkadang aku suka berantem sama Rendi! Tapi tujuan aku sebenarnya aku bisa memastikan kami baik-baik aja bersama Rendi. Karena aku tahu Rendi gak bisa kecapaian karna punya penyakit itu! Aku khawatir kalian ada apa-apa? Kalo boleh jujur aku terkadang merasa apakah Rendi benar-benar sudah sembuh dan bisa menjaga kamu sepenuhnya!"


"Apa kamu bilang?'


"Maaf met, aku gak maksud menyinggung perasaan kamu? Tapi met, kalo boleh jujur semua hal yang aku lakuin adalah semata-mata keinginanku untuk menjaga kamu!"


"Maksud kamu?"


"Mungkin orang lain akan menilai aku bodoh atau cowok cadangan atau apa pun itu! Tapi aku mengabaikan itu Bahakan aku selalu berusaha ada di samping kamu, menjaga kamu padahal nyatanya kamu ada di samping orang lain! Tapi setidaknya meski orang lain bilang aku bodoh sekalipun, aku bisa merasa tenang ketika melihat kamu bahagia!"


"Van...."


"Aku tahu met, aku tahu banget perasaan kamu dari dulu seperti apa? Lagi pula sekarang aku sudah jauh lebih akrab dengan Rendi! Kamu juga tahu kan aku hanya sahabatmu!"


Devan beranjak dari tempat duduknya, semua sudah dia terangkan panjang lebar, bahkan sudah tak ada yang dia tutupi satupun dari meta.


"Aku ke kamar dulu ya met, udah malem kamu tidur sana gih!"


Devan beranjak meninggalkan meta yang masih berbalut selimut.


Meta terpaku mendengar semua penjelasan devan, tersadar akan. betapa besar pengorbanan Devan untuknya selama ini.


^^Jangan lupa mampir ke novel baru aku yah...judulnya "KONTRAK CINTA SUPERSTAR"