Senja Di Atas Cakrawala

Senja Di Atas Cakrawala
Asal bukan dia


kembali ke masa lalu.


Sebelum Cakra dan Jelita menikah.


"Dia putri Anggara dan Mell, dari Anggara Construction'


Mendengar dua nama tersebut membuat tuan Gunawan mengeratkan rahangnya, dia langsung berdiri dari posisi duduknya dan memilih diam 1000 bahasa.


"Pa?'


Mama Niar menggerutkan keningnya, melihat respon suaminya yang terlihat tidak suka saat Cakra mengenalkan Jelita.


"Papa harus bergegas ke perusahaan"


Hanya barisan kalimat tersebut yang keluar dari balik bibir laki-laki yang masih begitu gagah perkasa tersebut, meskipun anak-anak telah berusia dewasa Gunawan masih menampilkan sisi kharismatik yang jarang dimiliki laki-laki seusia nya.


Pantas saja jika banyak gadis yang tergila-gila pada nya, meskipun tidak dipungkiri Niar juga, tapi dia bukan pula gadis di masa nya yang mau jual murah dan menampilkan sisi tanpa harga dirinya, dia tahu Gunawan memiliki cinta pertama, yang tidak direstui orang tua, seperti lagu antara Jakarta dan pena, atau lagu dalam petikan di selat Malaka dan di ujung sumatera dimana kala itu kabar nya cinta terhalang restu orang tua.


keluarga Gunawan trauma kisah Juna yang berakhir tragis, meninggal karena cinta beda kasta, untungnya bukan cinta beda dunia.


Gunawan mendapatkan nya juga tidak mudah, karena dia kala itu di pinang dengan bismillah oleh 2 laki-laki yang tidak kalah rupawan, Niar baru menyelesaikan S1 kedokteran nya di London, kembali ke Indonesia dan bertemu kembali dengan Gunawan yang pernah menjadi sahabat di SD dan SMP nya.


Laki-laki tersebut terombang-ambing dalam kapal karam atas cinta nya yang hancur lebur tanpa restu, entah beruntung atau memang takdir, dia saat itu dipertemukan dengan Gunawan, menjadi salah satu dokter yang menangani laki-laki tersebut terapis karena Gunawan trauma atas kematian saudaranya.


Dia ingat pertemuan pertama mereka, Gunawan meringkuk di bawah lantai, menangis terisak nyaris tanpa suara, tubuh bergetar masih bernyawa, tapi raga entah kemana.


"Tiga orang yang aku cintai pergi bagaikan angin, mama, Juna dan Rasty, kau tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan, jadi jangan pernah berusaha menghibur ku dengan kata-kata mujarab yang begitu menjijikkan"


Kala itu Gunawan berkata begitu, mendongakkan kepala nya, menatap Niar yang mencoba meraih tangan nya.


Kehilangan Mama karena meninggal akibat serangan jantung setelah kematian Juna, kemudian kekasih pertama dipaksa pergi oleh papa nya, bayangkan bagaimana tidak hancurnya Gunawan kala itu.


"Tidak ada alasan ku untuk terus bertahan hingga hari ini"


Saat Gunawan berkata begitu, tidak tahu kenapa air mata Niar jatuh, dia merangkul Gunawan, memeluknya hangat sembari berkata.


"Ada banyak yang membutuhkan kamu, termasuk saudara perempuan kamu dan papa mu, dan aku akan menjadi orang yang selalu menguatkan kamu"


Meskipun kala itu dia yang mengurus Gunawan hingga berdiri kokoh tanpa luka, dia tidak pernah mau bertanya siapa yang tega menghancurkan keluarga Gunawan, karena bagi nya bertanya siapa sama saja akan membuka kembali luka lama.


Hingga hari ini dia bahkan tidak tahu siapa sosok perempuan yang menghancurkan Juna, siapa pula yang mengkhianati Juna, bahkan dia tidak pernah tahu siapa cinta pertama suaminya.


Ada masa lalu yang perlu di kubur untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan buruk yang terjadi di masa depan, menutup lembaran lama dan membuka lembaran baru jelas jauh lebih bijaksana.


"Sayang....oh sayang ku....kenapa terlihat begitu buruk? apa mama salah memilih calon menantu? jelita baik loh pa, demi Allah, anak nya benar-benar baik, papa pasti suka jika bertemu dengan nya, dia..."


"Akhhh"


Dia meringis manja, menyentuh keningnya karena terkejut.


Gunawan mengulum senyumannya, menyentuh balik lembut kening sang istri.


Itu yang dia suka dari Niar, Perempuan tersebut selalu mampu membujuk dirinya, dimana sifat dan suara manja nya terkadang mengingat kan dia pada seseorang dimasa lalu, dua sosok berbeda dengan karakteristik dan sifat yang begitu sama.


"Dia gadis yang baik, percayalah"


Niar menatap Gunawan dengan bola mata berkaca-kaca.


"Tidak kah bisa Cakra mencari kandidat lain untuk dirinya? aku hanya tidak begitu suka saat tahu dia putra Anggara dan mell"


Gunawan bicara pelan, menelisik bola mata Niar lembut.


"Kenapa dengan mereka? papa selalu berusaha menghindari keluarga Anggara bahkan untuk urusan proyek kerjasama? adakah mereka punya salah dimasa lalu?"


Niar bertanya penasaran, menyentuh lembut dada suaminya, mencoba bertanya dengan hangat, begitu lembut dan tidak terburu-buru.


Laki-laki tersebut selalu tidak ingin berurusan dengan keluarga Anggara sejak dulu.


"Hanya sedikit persoalan antara orang tua di masa lalu"


Laki-laki tersebut berbohong, tidak pernah ingin membuka kisah lama.


"Tapi anak-anak tidak bersalah hmmm, meskipun orang tua terkadang memiliki salah yang sulit untuk di maafkan, anak-anak lahir dalam keadaan tidak berdosa, jangan libatkan mereka meskipun orang tua memiliki kesalahan dimasa lalu"


Niar masih berusaha membujuk.


Gunawan menggelengkan kepalanya.


"Tidak Keluarga Anggara, bukan putri Mell"


"Tapi jelita..."


Dia baru ingin menjawab kembali, tapi jari telunjuk Gunawan menahan bibirnya.


"Tidak mereka Niar, tidak putri dari wanita itu, kakek Cakra pun tidak akan mengizinkan nya"


Dan Niar pada akhirnya memilih diam membisu.