
Senja buru-buru melepaskan tubuhnya saat dia menyadari apa yang terjadi, cukup tidak enak karena Cakra memeluk dirinya, gadis tersebut melirik kearah pegawai yang berulang kali meminta maaf karena tidak melihat keberadaan mereka, sosok tersebut mengulum senyumannya, jadi malu sendiri melihat adegan sepasang kekasih dihadapan nya yang terjadi karena kecerobohan nya di hadapannya tadi.
Dia tidak bisa menebak apakah kedua orang tersebut memang Sepasang kekasih atau sebenarnya sepasang suami istri.
"Tidak masalah"
Senja menjawab sambil mengembang kan senyuman nya Kearah pelayan Lippo plaza tersebut, melihat ekspresi senja pelayan itu ikut mengembangkan senyumannya kemudian dia mulai bergerak menjauhi kedua orang tersebut.
Senja kembali fokus menatap kipas angin, melirik lagi ke arah Cakra dan berkata.
"Tuan?"
bukankah tadi laki-laki tersebut belum menjawab pertanyaan nya dengan baik dan benar, ada banyak pertimbangan yang harus Cakra lakukan saat ingin membeli kipas angin tersebut.
"Tinggalkan saja kalau sudah pakai nanti"
Pada akhirnya Cakra menjawab dengan cepat, lagi-lagi itu menampilkan ekspresi wajah masa bodoh seolah-olah membeli barang seperti itu bukan hal yang terlalu berat untuknya.
"Loh kok?"
Gadis tersebut bingung.
dia pikir bagaimana bisa setelah beli ditinggalkan begitu saja.
"ya kan tidak mungkin kita bawa ke Jakarta Senja"
Pada akhirnya Cakra menatap kearah Senja, menelisi bola matai gadis yang ada di hadapannya tersebut untuk beberapa waktu.
"Lalu siapa yang pakai?"
dia pikir pertanyaannya sangat wajar, setelah digunakan siapa lagi akan menggunakannya setelah mereka kembali ke Jakarta.
"letakkan di kamar Mak dan bapak"
jawab laki-laki tersebut dengan enteng.
"Mak dan bapak sudah punya, yang lama ada"
"Tidak kalah menyedihkan dengan yang dikamar kita kan?, aku curiga itu sudah tidak layak pakai"
Protes Cakra cepat, dia bisa menebak jika kipas angin di kamar mertuanya pasti tidaklah sebaik kipas angin yang ada di kamar mereka.
"Yah...iya sih"
Senja terlihat bingung, menautkan jemari-jemari nya untuk beberapa waktu, sebenarnya apa yang diucapkan oleh Cakra ada benarnya.
"Tapi masih layak pakai"
Ucap nya pelan, dia tidak berani membantah atau menangkap bola mata laki-laki tersebut
"yang lama alokasikan saja sama yang lain, biar mak dan bapak menggunakan kipas angin yang baru setelah kita pulang nanti"
"Tapi..."
"Sssttt"
seketika laki-laki tersebut meletakkan jemari nya di bibir senja.
gadis tersebut memejamkan bola matanya secara refleks karena sentuhan Cakra.
Laki-laki tersebut melepaskan jemari nya, memanggil salah satu pegawai dan meminta mengambil kipas pilihan nya.
Senja menatap bingung kearah Cakra, berpikir dengan keras bagaimana cara membawa nya.
Gila cara bawa nya bagaimana?!.
Dia yang pusing sendiri memikirkan nya.
Entah apa yang dibicarakan Cakra, Senja tidak juga begitu peduli, bola mata gadis tersebut menatap kearah barisan televisi yang ada dihadapan nya.
Sejenak dia mematung menatap barisan ukuran dan harga di sana.
Senja mendongakkan kepalanya saat tiba-tiba sebuah pengumuman datang.
Selamat malam para pengunjung setia.......
dalam 5 menit Lippo plaza Lubuklinggau akan tutup, waktunya benar-benar mepet dan tidak memungkinkan lagi untuk mereka berkeliling atau melihat-lihat di sekitarnya.
Senja pada akhirnya mencari sosok Cakra, laki-laki tersebut terlihat masih mengobrol dengan salah satu pegawai yang bekerja di sana.
"Kemarilah"
Cakra bicara cepat, menunggu senja mendekati nya.
"Bayarlah"
Laki-laki tersebut menyerahkan kartu hitam milik nya ke arah Senja.
"Ya?"
Senja agak bingung, bukankah tempo hari di pernah diberikan kartu yang sama?!.
"Pin nya aku kirim lewat WhatsApp"
Jawab laki-laki itu lagi dengan nada ringan.
tunggu dulu.
Senja jadi semakin bingung.