
Rumah panggung
kemarin saat Anggota kekuarga Gunawan sudah bertolak arah.
Mak terlihat mematung untuk beberapa waktu, menatap sisa penglihatan bagian punggung mobil yang menghilang ditelan jarak.
Entah apa yang dipikirkan wanita itu bapak tidak tahu, tapi Mak terlihat gelisah dan mencoba menggenggam kedua telapak tangan nya Ketika masih menatap kearah depan dimana mobil anak, mantu dan besan mereka yang telah menghilang sejak tadi.
"Wajah pak Gunawan mengingatkan ku pada seseorang"
Ucap bapak tiba-tiba begitu pelan.
Dia lupa sebab sudah terlalu tua, ingatan nya tidak sebaik di masa lalu ditambah bola matanya sudah lama tidak normal lagi, kaca mata yang dia punya sudah tidak mampu menampung mata minus nya yang terus bertambah.
"Tapi rasanya benar-benar tidak asing, tidakkah Mak merasakan nya? awal bertemu Mak juga terlihat terkejut kemarin"
Bapak terus bicara sambil mengerutkan keningnya, mati-matian mengingat sesuatu yang tidak mungkin dia ingat dengan cepat, ingat pula ekspresi istrinya yang terkejut di atas rumah menatap laki-laki seusia Dirinya yang masih bersahaja dan tampan di usia tua.
Tapi sayang nya dia berusaha mengingat tapi tidak bisa, orang tua benar-benar payah dalam ingatan.
"Itu cuma perasaan bapak"
Mak menoleh, mengembangkan senyuman nya dengan cepat.
"Nama nya manusia, hilir mudik kesana-kemari membuat kita bertemu dengan berbagai macam orang, apalagi dulu kita pernah merantau di Jakarta, tentu saja banyak ketemu orang-orang dari macam-macam kota dan desa"
Mak berucap kembali, menghalau gelisah dihati, enggan mengingat sebab dia sebenarnya tahu siapa laki-laki yang beberapa hari tinggal di rumah mereka.
Demi Allah awal kedatangan dan menyambut mereka Mak terkejut, menggenggam erat telapak tangannya untuk beberapa waktu, dia hendak mundur tapi takut salah langkah, tidak percaya Cakra adalah putra dari laki-laki yang ada di hadapannya.
Dunia selebar daun kelor ternyata.
"Kau lihat Rasty? dia disini bukan datang sebagai suami mu, tapi sebagai mertua Senja untuk putra nya., Cakra"
Kebetulan kah?.
Mak mengerutkan sejenak keningnya.
Bagaimana bisa?!
Batin nya lagi dengan gelisah.
"Bapak harus istirahat, tapi sebelumnya kita makan obat dulu, Mak takut karena beberapa hari ini terlalu banyak gerak kesehatan bapak tidak baik-baik saja"
Mak bicara cepat, berjalan dibelakang bapak dan meletakkan kedua tangannya pada kedua pegangan kursi roda, dia memutarkan dan menyeret arah menuju dalam rumah.
Tapi belum sempat dia memutar arah, sebuah mobil tiba-tiba masuk ke halaman rumah dan membunyikan klakson untuk mereka.
Mak dan bapak menoleh, agak kaget melihat sebuah mobil dengan beberapa dus-dus besar yang tersusun rapi di belakang kap mobil pickup L300 tersebut.
Brakkkk.
Pintu mobil ditutup saat laki-laki berusia sekitar 35 tahunan turun dari sana, berjalan mendekati tangga rumah panggung Mak dan bapak, bertanya untuk memastikan, dua teman nya dibelakang yang ada didalam bak mobil ikut turun.
"Rumah Mbak Senja?"
Sopir nya bertanya dengan cepat, tulisan di pakaian nya 'Lippo plaza Lubuklinggau"
Mak mengerutkan keningnya.
"Iya"
Wanita tersebut menjawab cepat.
"Mengantar barang belanjaan mbak Senja"
Laki-laki tersebut tersenyum, memerintahkan teman-teman nya mulai menurunkan barang dan menaikkan nya ke rumah panggung tersebut.
Mak dan bapak jelas bingung setengah mati.
Bapak terlihat sedikit shok diikuti Mak yang membuka pintu rumah dengan perasaan tidak kalah shok nya.
******
Kemarin sebelum mereka pulang.
kamar Senja dan Cakra.
Cakra terlihat menghubungi seseorang.
"Bisa minta tolong tunda antaranya? ada sedikit alasan untuk tidak mengantar nya sekarang, bantu antrakan di tanggal....."
Cakra bicara cepat dari balik handphone nya.
"Baik pak"
Jawaban disana terdengar membuat dia lega.
Cakra menatap kearah Senja, yang melebarkan senyuman kearah dirinya.
"Biar mama tidak merasa cemburu, dan Mak bapak tidak bisa menolak nya saat kita sudah pulang dan tidak ada"
Ucap gadis tersebut sebelumnya
"Ini cara kita menjaga banyak hati"
Lanjut gadis itu lagi.
laki-laki tersebut mengencangkan senyuman nya.
******
Jangan jadi menantu dan mertua yang saling menyudutkan dan saling membuat panas situasi.
tetap berpikir positif, saat mertua tidak menyukai mu saat ini, bisa jadi dia belum menemukan kecocokan saja dengan mu, Allah SWT maha membolak-balikkan hati manusia, sabar dan ikhlas, 2 ilmu itu sangat mahal harga nya dan tidak semua menantu memiliki nya.
Wajar saja, sebab dia berjuang mengurus anak-anak nya pagi, siang sore dan malam, sehat, sakit, suka dan duka, kau tidak pernah tahu pengorbanan nya seperti apa, seperti kita yang juga merasakan nya, saat anak sukses orang lain yang memiliki nya dan menikmati nya, dia cemburu itu biasa, satu hari kita juga, karena kita akan tua dan menjadi tidak berguna.
Saat merasa tidak cocok memiliki mertua yang membuat hati gundah gulana, cukup tekankan didalam hati, satu hari aku akan jadi mertua, dan satu hari aku akan memiliki menantu.
Hidup itu seperti karma yang berjalan, sebagaimana kamu berlaku hari ini, satu hari akan tetap berbalas di dunia dan tidak menunggu berbalas di akhirat.
Alhamdulillah keluarga besar kami tidak pernah ada kasus mertua menantu yang penuh drama seperti di dunia Maya dengan postingan menyindir antara satu dengan yang lainnya, dramatika membuat sedih ya yang membaca,lupa aib di umbar sana saja dengan menelanjangi kekurangan didalam keluarga.
karena mama selalu berkata, mau cari menantu atau mertua yang sesuai keinginan kita, sampai matipun tidak akan kita temukan dimana-mana.
Kita ini orang asing yang bertemu setelah tua dan dewasa, tidak akan bisa menyamakan watak dalam didikan kekuarga yang berbeda.
Akur-akur lah, sebab hidup ini sementara, dan ingat karma Karena jika hari ini kamu anak, besok kamu akan jadi menantu dan seiring berjalannya waktu kamu akan jadi mertua untuk anak-anak mu.
Salam sayang dan cinta
love you selangit cakrawala.
keluarga besar
Tan Bun Tiong (Bambang Aji Saman)
dan
Nila Wati
Salam sayang author
Eva Hye Seung.
💋💋💋💋❤️❤️❤️.