
"Kenapa tidak ada yang mengeluarkan suara?"
jelas saja tuan Gunawan menanyakan hal tersebut sekali lagi, menatap putranya dan menantu nya secara bergantian.
"apa pertanyaannya harus sehingga sedetail itu pa?'
Cakra bertanya sambil mengerutkan keningnya, dia hanya mencoba untuk menutupi pertanyaan yang dilontarkan oleh papanya karena dia juga bingung harus menjawab dari mana karena itu mengeluarkan ekspresi yang sedikit tidak bersahabat sembari mengerutkan keningnya.
"menurutku itu terlalu privasi, kami memiliki cerita sendiri dalam pertemuan kami layaknya seperti papa memiliki cerita sendiri pada pertemuan papa dan Mama"
laki-laki itu mulai protes ke arah papanya, mulai merasa tidak nyaman juga dengan keadaan saat ini, seolah-olah laki-laki tua tersebut sedang memberikan yang tekanan besar dan juga pernah mencurigai soal hubungannya dengan Senja.
meskipun tidak dipungkiri pernikahan mereka adalah sandiwara tapi dia tidak ingin semua orang tahu dengan pernikahan mereka yang terlalu dini.
jika dia menjawab apa yang ditanyakan oleh papanya atau bahkan senja juga menjawab yang ditanya ke papanya dan keterangan mereka berdua jelas tidak klop itu akan menjadi musibah di dalam keluarga mereka.
rupanya kesombongan dirinya benar-benar berakibat berkata fatal, keengganannya untuk bicara dengan gadis di sampingnya tersebut pada akhirnya malah membuat buruk suasana karena sejak awal mereka tidak pernah berbicara untuk saling mencocokkan keterangan antara satu dengan yang lainnya sehingga ketika pertanyaan diluncurkan kepada mereka mereka berdua memiliki jawaban yang sama persis.
"aku merasa dijadikan tersangka di sini seakan-akan pernikahan kami hanya sandiwara"
Cakra kembali protes sembari menatap ke arah papanya.
sesungguhnya apa yang diucapkan realita tapi dia berusaha untuk menetralisir detak jantungnya dan berusaha gunakan setiap kata-katanya seolah-olah tidak ada yang bersandiwara dalam pernikahan mereka.
melihat reaksi yang diberikan oleh Cakra membuat tuan Gunawan sejenak diam, laki-laki tersebut secara perlahan mulai mengunyah buah yang diberikan oleh putrinya, dia tidak melanjutkan ucapannya tampak fokus menatap ke arah senja kemudian laki-laki tua itu meraih minuman air putih yang ada di hadapannya.
"apa kamu pikir Papa sudah mengintegrasi kalian?"
tanya laki-laki itu cepat dengan ada yang begitu tenang dan santai.
"jawab saja seadanya bagaimana cara kalian bertemu dan lain sebagainya, kenapa kamu malah marah dan menampilkan ekspresi seperti itu? apa kau tidak tahu Cakra, ekspresimu menunjukkan sikap mu yang seolah-olah terzalimi atas apa yang Papa lakukan, kau terlalu tegang menghadapi hidupmu son, itu sama sekali tidak baik untuk kesehatan mu"
Tuan Gunawan bicara sambil meletakkan gelas yang ada ditangan nya, dia membuang pandangannya dengan cepat.
"Cara mu membuat papa curiga dengan pernikahan dadakan yang kamu lakukan, terlalu kebetulan karena setelah didesak semua orang tiba-tiba saja kamu memutuskan menikah dengan gadis yang belum pernah kamu perkenalkan dengan keluarga sama sekali, itu jelas membuat orang tua seperti kami merasa di bodohi dengan tiba-tiba"
Senja memejamkan sejenak bola matanya, tidak berani melihat kearah orang tua Cakra saat mendengar laki-laki tersebut bicara seperti itu.
"Pemikiran papa terlalu berlebihan"
Ucap Cakra cepat, dia mencoba untuk menetralisir perasaannya juga, berusaha untuk tidak bergerak gegabah atau bertindak gegabah.
"Satu hari kamu akan tua, apa yang kami rasakan kamu juga akan merasakan nikmatnya nya"
Setelah berkata begitu, tuan Gunawan melirik kearah Senja.
"Kamu berapa bersaudara?"
Dia mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Dua"
Senja menjawab pelan.
"Yang pertama atau ke dua?"
Laki-laki tersebut bertanya kembali.
"Pertama pa"
"Yang kedua laki-laki atau perempuan?"
"Perempuan."
"masih sekolah?"
Senja menganggukan kepalanya.
"3 SMA pa"
jawab senja lagi cepat.
"Orang tua lengkap?"
ketika mendengar pertanyaan tuan Gunawan, secara perlahan Senja menggelengkan kepalanya.
"Ibu sudah meninggal sejak melahirkan adik saya"
Innalilahi wa innalilahi ro'jiun.
Bisa dia dengar gumaman papa Cakra dan kak Nabila.
"Dzolim kalau kamu menyakiti anak yatim"
Tiba-tiba kak Nabila melirik kearah Cakra.
Cakra terlihat menarik kasar nafasnya.
"jangan terlalu berlebihan kak"
Ucap Cakra cepat.
"Cuma memperingatkan, kamu tidak tahu perjuangan seorang anak yang hidup tanpa ibu nya"
Setelah berkata begitu Nabila melirik kearah Senja.
"Apa ini penghakiman seolah-olah aku akan jadi suami yang begitu buruk?"
Cakra jelas tidak suka dengan tatapan dan tuduhan kakak nya.
Nabila malah terkekeh.
"Kenapa jadi begitu serius menanggapi ucapan kakak? kamu seperti sedang tersulut emosi"
Ledek perempuan itu kemudian.
Cakra menggeleng kan kepala, agak malu mendengar penuturan kakak nya.
Yah kenapa dia jadi serius dan tersulut emosi? itu karena dia memang tengah menzolimi Senja sejak awal mereka bertemu.
"Berhenti berdebat, sekarang katakan pada papa ada yang ingin di ralat dalam persiapan acara ngunduh mantu nya?"
laki-laki tua tersebut bertanya dengan cepat.
Ketika Cakra telah kehilangan kata-kata nya, laki-laki tersebut pada akhirnya hanya pasrah, memilih diam dan menyerahkan semua nya pada kakak perempuan nya.
"Semua aku serahkan pada kak Nabila dan Senja"
dia menghela kasar nafasnya, berpikir jika semua rencana seperti nya tidak baik-baik saja.
"Kami akan pulang sekarang"
lanjut laki-laki itu lagi.
"Tidak usah, tidurlah disini malam ini"
perintah papa nya cepat.
"Ya?"
Cakra jelas mengerutkan keningnya.