
masih di kamar hotel
Keesokan paginya.
Senja tersentak dari tidurnya saat dia merasa tubuhnya menjadi begitu aneh dan berat, ada yang mengganjal dan seolah-olah ditahan oleh seseorang saat dia mencoba untuk menggerakkan tubuhnya dan membuka bola matanya, dia mengintip kearah glas blok kamar dan Alhamdulillah rupanya hari masih menggelap, gadis tersebut pikir mungkin belum masuk waktu subuh.
Dia takut jika dia melewatkan Subuh nya.
Masih dengan rasa kantuknya yang berat dia masih enggan untuk membuka bola matanya, gadis tersebut sejenak berusaha bergerak namun anehnya tidak bisa hingga akhirnya Senja memaksakan bola matanya agar benar-benar terbuka saat ini dan seolah-olah menyadari sesuatu, dia terkejut karena keadaan.
Eh?!.
Dia baru sadar tubuhnya di peluk erat dari belakang oleh Cakra, ini jelas terlalu erat, laki-laki tersebut memeluk nya dan mengukung seluruh Anggota tubuh nya, hal tersebut jelas membuat Senja sejenak menelan ludah nya.
Sejak kapan?!.
Itu jadi pertanyaan di atas kepalanya.
Senja ingin bergerak, mencoba untuk melepas kan diri, alih-alih bisa melakukan nya, sedikit saja dia bergerak Cakra malah tiba-tiba ikut bergerak dan semakin erat memeluk nya, malah sempat-sempat nya menepuk-nepuk tangan nya pelan persis seperti seorang ayah yang menipuk-nipuk anak nya agar kembali tidur.
Gadis tersebut memejamkan sejenak bola mata nya, jangan ditanya bagaimana jantung nya berdetak saat ini, dia pikir sepertinya dia akan mati dengan segera.
Jantung dimana kamu jantung?! please berhenti eh salah mati kalau berhenti, maksudnya bisakah lebih tenang? aku juga tidak tahu harus melakukan apa.
Senja mengoceh sendiri dalam hati, berusaha untuk menetralisir detak jantung nya yang tidak baik-baik saja, ini jelas bukan cinta, terlalu dini untuk nya tapi dia salah pola, eh salah maksudnya jadi sedikit serba salah.
Apa dia harus bergerak dengan cepat, menyingkirkan tangan kiri Cakra yang mendekap tubuhnya dan tangan kanan Cakra yang memeluk erat lengannya?!.
Tapi diam dan tidak menggerakkan tubuhnya dan membiarkan Cakra memeluk nya erat begitu sampai kapan?!.
Dia menunggu waktu subuh.
Senja melirik kearah jam di dinding.
10 menit lagi.
"Apa aku gigit saja tangan nya? pura-pura sedang mimpi untuk membangunkan dirinya?"
Batin Senja lagi.
Dia tidak tahu harus melakukan apa, hingga akhirnya berusaha untuk sedikit menarik Jemari Cakra, menyingkirkan nya dari tubuh Senja secara perlahan sembari dia memicingkan sebelah bola matanya.
Dia pikir mungkin dia butuh usaha ekstra untuk membuat dirinya keluar dari kungkungan laki-laki tersebut.
Gila 19 tahun dia hidup dalam ingatan nya yang memeluknya dalam tidur cuma bapak, kak Rudi pernah sekali, tapi tidak seperti itu juga posisi nya, masih normal dari kondisi saat ini, jauh berbeda.
Dan tidak ada laki-laki lain yang pernah melakukan nya.
Gadis tersebut berusaha dengan ekstra, melepaskan dirinya dari pelukan Cakra, meraih Jemari laki-laki tersebut dan berusaha mengangkat tangan nya agar menyingkir dari tubuh Senja.
Rupanya belum juga dia berhasil menyingkirkan tubuh Cakra, tiba-tiba laki-laki dibelakang nya bergerak dengan sedikit berat, laki-laki tersebut mengendurkan pelukan nya hingga membuat Senja seketika membeku, dia buru-buru menutup bola matanya karena panik.
Alamakkkkk?!.