
Kembali ke masa lalu.
17 tahun yang lalu.
Rumah sakit xxxxxxx.
Gunawan muda menatap perempuan yang ada di ujung sana bersama seorang laki-laki yang menuntun nya,ada gemuruh di dada nya yang tidak bisa dia tahan, jutaan kerinduan menghantam nya, entah betapa belas tahun berlalu, ketika kerinduan tersendiri nyaris tidak pernah mampu dia tampung didalam dada nya.
Dalam sholat nya dia selalu berdoa, menyenandung kan harapan dalam hati yang dia tahu bisa jadi harapan nya tidak mungkin, tapi siapa sangka ketidakmungkinan yang dia harapkan Tiba-tiba terkabulkan.
Dia melihat wajah sendu dan sayu yang jelas tidak baik-baik saja, pucat tak berdaya yang kini berpindah keatas kursi roda.
Entahlah apa yang terjadi pada perempuan di ujung sana, yang merupakan cinta pertama nya.
laki-laki tersebut pada akhirnya bergerak perlahan menapaki kaki nya maju melangkah kedepan sembari tatapan nya tidak kunjung lepas dari sosok yang selalu dia rindukan, bibir laki-laki tersebut bergetar tatkala jarak yang terbentang semakin merapat menuju ke titik pengharapan.
"Rasty?"
Dia bicara, menatap perempuan yang kini terlihat seperti bunga yang mulai layu tanpa tahu alasan nya, Gunawan mencoba menahan air mata saat melihat sosok cantik dihadapan nya tersebut.
Perempuan itu menoleh, menatap kearah suara yang menyebutkan nama nya, laki-laki yang menuntunnya tadi menghilang ke satu ruangan menemui seseorang.
Begitu sadar siapa yang datang, perempuan yang dipanggil Hesty seketika terkejut, menutup mulutnya dengan kedua belah telapak tangannya.
"Hah?"
Bayangkan bagaimana perasaan perempuan tersebut yang menatap laki-laki yang kini berdiri dihadapan nya, entahlah berapa lama waktu berlalu, laki-laki dihadapan nya tetap terlihat tampan meskipun dia telah termakan usia.
"Apa yang terjadi?"
Sebaris tanya tersebut melesat di balik bibir Gunawan, dia menatap perempuan di hadapannya tersebut dengan bola mata berkaca-kaca.
Perempuan tersebut pucat pasi, tidak berdaya, permukaan mata terlihat menghitam dengan tubuh ringkih dan tidak baik-baik saja.
Alih-alih menjawab ucapan Gunawan, perempuan tersebut mengembangkan senyuman nya, jutaan kerinduan menghantam dirinya, andaikan saja dulu tidak ada kisah Juna, mungkin kini mereka sudah bersama, menapak cerita sendiri dalam versi yang berbeda dan memiliki anak-anak sesuai mimpi yang pernah mereka rancang.
Realitanya manusia hanya bisa berencana, tapi Allah SWT yang menentukan.
"Kamu semakin matang dibandingkan terakhir kali kita bersama"
Rasty bicara, mencoba menyentuh lembut wajah Gunawan, laki-laki tersebut meneteskan air mata nya, menatap rindu pada perempuan tersebut, membiarkan tangan Rasty menyentuh wajah nya, laki-laki tersebut memejamkan bola matanya, Membiarkan tangan nya menyentuh lembut tangan perempuan yang selalu berdiri kokoh didalam singasana hati nya.
Bolehkah mereka melepaskan kerinduan? pada orang yang telah dimiliki oleh orang lain? ingin sekali rasanya Gunawan menenggelamkan dirinya pada perempuan yang pernah membuat dia jatuh bangun dalam cinta yang tidak tersampaikan.
"aku merindukan mu"
Gunawan bicara, membiarkan tangan indah tersebut menyentuh hangat pipinya sembari di memejamkan bola matanya dalam jutaan kerinduan.
Rasty tidak menjawab, menelisik wajah Gunawan untuk beberapa waktu, membiarkan diri tenggelam pada kerinduan yang mendalam.
"Pa?"
Tiba-tiba satu panggilan mengejutkan mereka.