Senja Di Atas Cakrawala

Senja Di Atas Cakrawala
Bayi itu dia


Kembali ke masa Kemarin


Flashback episode 34


Mencari tanggal baik.


Cakra terlihat menatap barisan foto didinding rumah kayu tersebut, ada beberapa foto jadul yang terpampang disana, para orang tua yang berbaris disana.


Sejenak bola mata Cakra menatap satu barisan foto keluarga di atas pintu ruangan penghubung dengan arah ke ruang belakang, laki-laki tersebut mencoba untuk memperhatikan dengan seksama foto itu tapi tiba-tiba saja seseorang menurunkan foto tersebut.


Seorang gadis muda sekitar kelas dua atau tiga SMA tampak menurunkan nya dengan buru-buru, Cakra mengerutkan keningnya ingin bertanya tapi tiba-tiba suara seseorang mengejutkan dirinya.


"Apakah tanggal 7 bulan depan tidak masalah acara ngunduh mantu nya, Cakra?"


Papa Gunawan bertanya pada laki-laki tersebut.


''Ya?"


Cakra bertanya sedikit terkejut.


Pada akhirnya dia mengabaikan foto yang dia lihat, mendengar kan pertanyaan dan menyampaikan pendapat soal tanggal pernikahan mereka.


Entah sampai mana pembahasan mereka, hingga akhirnya dia melirik kearah Senja, sejenak laki-laki itu mengurutkan keningnya saat dia melihat arah pandangan senja, Cakra berusaha untuk mengikuti arah pandangan gadis tersebut, dia menoleh ke arah sisi kiri menuju ke arah luar pintu, bisa laki-laki itu lihat ke arah mana pandangan bola mata istrinya saat ini.


lagi laki-laki tersebut mengerutkan keningnya saat dia sadar siapa yang dilihat oleh senja saat ini.


"Wa Ara?"


Cakra berguman sambil mengerutkan keningnya, cukup terkejut dengan penglihatan nya, seorang wanita tua terlihat berdiri di ambang pintu, menatap kearah diri dan Senja dengan tatapan bahagia.


Laki-laki tersebut seketika tidak bergeming, kembali menoleh kearah barisan foto dengan jantung berdebar tidak menentu.


"Tidak mungkin kan?"


Dia gelisah, menunggu pembahasan dan rundingan tanggal pernikahan selesai, tidak sabaran ingin melihat sisa foto terakhir yang belum diturunkan.


"Ayolah"


Dia membatin.


Hingga akhirnya semua benar-benar selesai, ketika orang-orang bubar tanpa berpikir dua tiga kali, Cakra langsung bergerak menuju kearah dinding rumah papan tersebut, menatap satu bingkai foto besar usang dimana tampak barisan orang-orang yang berdiri disana.


Bola mata Cakra menelisik foto tersebut dengan seksama, mencari sosok yang dia yakini jika itu adalah.....


Hah?!.


Cakra seketika membulatkan bola matanya, dia melihat sosok dirinya disana, menggendong bayi mungil yang usia nya baru lewat 1 ½ tahun.


Segala puji bagi Allah.


"Bang?"


Suara seseorang mengejutkan Cakra, laki-laki tersebut menoleh dengan cepat, itu adalah April adik Senja.


"Kamar Abang disebelah sini"


Gadis muda tersebut mengembang kan senyuman nya, memberitahukan kemana Cakra harus bergerak kemudian dia berniat pergi meninggalkan Cakra.


"Tunggu dulu"


Cakra mencoba menghentikan langkah April, sang adik ipar nya.


"Bayi ini siapa?"


Saat Cakra bertanya April mengerutkan keningnya, dia memperhatikan foto yang ditunjukkan oleh Cakra.


"Loh kok mirip Abang?"


Gadis tersebut malah bertanya soal laki-laki remaja di foto usang tersebut.


"Masa?"


Dia pura-pura balik bertanya.


April menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, berusaha menyamakan wajah, mirip tapi agak tidak jelas, maklum warna nya sudah berubah, memudar seiring berjalannya waktu.


"Ini kak senja"


April menjawab dengan cepat, membuat Cakrawala seketika membeku, menatap tidak percaya foto yang dilihatnya.


Jadi bayi itu dia?!.


Seketika wajah Cakrawala memerah.


"Ini dijakarta, setelah kelahiran April"


Tiba-tiba bola mata gadis dihadapannya tersebut berkaca-kaca.


"Sebelum makk...."


April menghentikan kata-katanya.


"Sebelum?"


Cakra mengerutkan keningnya.


April hendak menjawab, tapi suara teriakan Senja mengejutkan mereka.


"Dek...bisa bantu Ayuk dak (Adek bisa tolong kakak ga?"


April buru-buru berbalik meninggalkan Cakrawala dalam keheningan.


"Iyo yuk (Iya kak)"


Teriak April sembari menghilang dari hadapan nya.