Senja Di Atas Cakrawala

Senja Di Atas Cakrawala
Adakah kamu akan pergi


Rudi menatap kepergian mobil yang di naiki Riana, laki-laki tersebut mengeratkan rahangnya sembari menggenggam erat telapak tangan nya.


"Kak?"


Suara April mengejutkan dirinya.


"Kenapa kembali ke depan? tidurlah hari sudah malam"


Rudi menoleh, agak terkejut mendapati adik nya sudah berdiri tepat di hadapannya, gadis tersebut menatap bola matanya untuk beberapa waktu, entah kenapa tapi bisa dipastikan ekspresi wajahnya penuh kekhawatiran dan kecemasan, menelisik wajah Rudi untuk waktu yang cukup lama.


"Mengantar selimut dan bantal"


April menyodorkan dua benda ke arah Cakra, bantal dengan sarung kerophi dan selimut berwarna merah motif kartun.


Laki-laki tersebut diam sejenak saat adiknya itu meletakkan dua benda tersebut di depan dadanya, dua benda itu nyaris terjatuh karena terlalu lama menunggu pergerakan Rudi, laki-laki tersebut terkejut, langsung menahan gerakan dan mengeratkan pegangannya pada kedua benda tersebut.


"Banyak nyamuk dan dingin, pakailah sofel"


Ucap April lagi.


"Kakak akan tidur didalam mobil"


Jawab Rudi cepat.


April agak terkejut mendengar nya.


"Jangan lah kakak, tidur di ronda siskamling saja di sana"


Dia mencegah.


"Kenapa?"


Rudi menaikkan ujung alisnya.


"Mereka bilang tidur di mobil bisa menyebabkan orang meninggal dengan cepat, sering lewat di beranda tik tok yang tidur di mobil tiba-tiba besok pagi nya mati"


Jawaban polos anak 17 tahun yang belum pernah mencicipi naik mobil mewah kecuali naik angkot kesana-kemari.


Rudi bengong, kemudian tiba-tiba tertawa geli, entahlah rasanya sudah bertahun-tahun dia tidak tertawa lepas, kali ini begitu lepas, tanpa sadar ada sedikit air mata yang mengalir, dia memeluk April secara tiba-tiba, melepaskan sejuta rindu yang entah sejak kapan dia pendam.


"Kak?"


Laki-laki tersebut bicara sambil memejamkan sejenak bola matanya.


April diam sejenak kemudian perlahan menganggukkan kepalanya.


"Kakak baik-baik saja selama di Jakarta? Uwak ( Oom ) bilang...."


April tidak melanjutkan kata-katanya, berat mengucapkan nya karena dia berharap apa yang dia dengar dari Wak nya cuma gosip belaka, dia tidak siap mendengarkan kenyataannya jika sesuatu yang buruk menimpa kak Rudi nya.


"Tentu saja kakak baik-baik saja"


Rudi menjawab cepat.


"Benar tidak mau pulang nemuin Mak dan Bapak?"


April kembali bertanya.


"Ada banyak PR yang harus kakak kerjakan, jika sudah selesai baru coba pulang sejenak"


Jawab Rudi lagi kemudian.


"Tapi uwak bilang....kakak...."


Seketika tangis April pecah, dia satu-satunya keluarga yang boleh mendengar kabar Rudi, Mak dan bapak dilarang tahu bahkan kak Senja nya juga tidak.


Sejak pagi ingin bertanya tapi dia takut melakukan nya, sengaja menunggu malam saat semua orang terlelap dan tetangga kiri kanan sudah masuk kerumah masing-masing untuk bisa mengejar langkah kak Rudi nya, bertanya langsung untuk menyakinkan diri, kabar yang didengar tidak pernah ada dan terjadi.


"Bagaimana kalau kakak bohong? bagaimana kalau kakak mati?"


Dua tanya keluar dari balik bibir nya yang bergetar, dia tidak dapat menahan tangisannya yang pecah, terisak didalam dada Rudi sambil menahan deru jantung yang tidak mau berhenti.


"Bagaimana jika Kakak benar-benar mati?"


Tanya nya sekali lagi tanpa mengharapkan jawaban apa-apa.


Rudi diam tanpa suara, menjatuhkan bantal dan selimut di tangan kirinya, tangan kanan nya masih memeluk April sambil dia kembali memejamkan bola matanya.