Senja Di Atas Cakrawala

Senja Di Atas Cakrawala
Masih berdebat manis


Senja lagi-lagi harus berpikir dengan keras apa yang diucapkan oleh Cakra.


Ganti panggilannya?!.


dia sudah mulai terbiasa memanggil laki-laki tersebut dengan kata tuan, agak bingung juga harus memanggil laki-laki itu apa jika Cakra meminta dia mengganti panggilannya.


sepertinya tidak ada nama panggilan rekomendasi yang bisa dia berikan pada laki-laki tersebut.


"ganti panggilannya dengan nama yang lebih baik, seperti kata-kata di aku suamimu bukan majikanmu Senja, kata tuan terlalu menggangguku, tidakkah kamu melihat bagaimana orang-orang di dalam Lippo plaza menatap kita tadi?"


laki-laki tersebut berceloteh.


dia cukup terganggu dengan orang-orang yang melihat mereka tadi, seolah-olah mereka adalah majikan dan asisten pribadinya, dan dia tidak suka pandangan seperti itu.


bisik-bisik jelas dia dengar tadi, ingin protes takut disangka seperti perempuan saja, memilih diam dengan perasaan kesal.


"aku tidak tahu panggilan apa yang pantas, hmmmm apa aku harus memanggil tuan dengan sebutan pak?"


senja tiba-tiba bertanya, dia berpikir dengan keras panggilan cocok apa yang boleh dia sematkan untuk Cakra, melirik kearah langit, dimana jutaan bintang malam ini terlihat bertaburan.


"aku ini bukan bapakmu, bapak sudah ada di rumah, jadi jangan menambah daftar nama bapak diantara kita"


lagi laki-laki itu protes, mana mau dia dipanggil bapak, bisa-bisanya orang-orang menyangka dia dan senja adalah ayah dan anak, orang akan berpikir dia menikah muda di zaman itu, tamat SMA langsung memiliki seorang putri.


mana dia setuju.


"bagaimana kalau Den? Aden?"


lagi gadis tersebut bertanya.


"aku bukan Raden Cokro Joyo Kusumo atau Raden tumenggung Bahurekso itu terdengar mengerikan, aku tidak suka"


laki-laki tersebut kembali protes, menyebut nama yang cocok untuk dijadikan kata Raden di depannya.


"seperti film kolosal 21 Indosiar saja, aku bukan termasuk laki-laki ikan terbang"


mendengar protesan Cakra soal film Indosiar dan juga ikan terbang seketika membuat gadis tersebut terkekeh.


"rupanya tuan tahu juga film ikan terbang kolosal?"


Seketika tawa gadis itu lepas begitu saja, dia tidak bisa menahan tawanya sama sekali ketika Cakra bicara soal film ikan terbang yang selalu ada di Indosiar.


tiba-tiba Senja ingat mak selalu seperti itu dulu, sangat suka sekali nonton film di Indosiar tentang kerajaan-kerajaan kolosal, kalau ingat kenangan itu rasanya begitu manis.


mereka harus mengalah dengan emak hanya untuk menonton film seperti itu, karena itu senja pada akhirnya mau tidak mau ikut nangkring untuk nonton film kolosal tersebut meskipun Senja dan April tidak suka.


"Yah aku tahu ibu-ibu memang sekarang tampilan seperti itu"


laki-laki itu menjawab dengan cepat ingat meskipun seperti itu mamanya suka nonton film-film semacam tersebut di jaman dulu.


sekarang jelas tidak lagi karena film itu sudah tidak di produksi kembali.


Senja pada akhirnya mengulum senyuman nya, dia pikir mamalia tidak memiliki selera seperti itu, siapa tahu rupanya Mama Niar suka nonton film seperti itu juga dulu persis seperti emak mereka.


"sekarang pikirkan dengan baik apa panggilan kamu"


Cakra kembali bertanya dengan tidak sabaran.


"bagaimana jika Om saja?"


Ciiittttt.


Buggggg.


"Akhhhhhh"


seketika senja berteriak kecil saat tiba-tiba motor yang dikendarai Cakra berhenti dengan mendadak.


Gadis tersebut panik langsung memeluk punggung laki-laki tersebut dengan kencang dan sontak memejamkan bola matanya.


"memangnya aku ini pamanmu"


Cakra tiba-tiba bicara sambil menoleh ke arah belakang.


Dag....dig.....dug......!.


seketika jantung gadis tersebut berdetak kencang tidak beraturan, dia membuka bola matanya dan menatap bola mata Cakra yang menatapnya begitu tajam dan dalam.


Dia marah!?.


Senja membatin sembari menelan salivanya.