Senja Di Atas Cakrawala

Senja Di Atas Cakrawala
Kita sampai pada titik perjuangan akhir


Rumah sakit xxxxxxx


pusat kota.


Derap langkah sepatu terdengar memecah keheningan malam, suara layar monitor pengatur detak jantung menggema memecah suasana, wajah-wajah panik terlihat dari semua orang yang ada di sana, bahkan para tim dokter bergerak untuk melakukan pertolongan pertama.


Rudi kembali masuk pada masa kritis nya, ketika bagian garis layar monitor detak jantung semakin menarik garis lurus yang sebelumnya masih bergerak naik turun,jelas saja membuat semua orang langsung terjaga dari tidur lelap mereka.


Rasa kantuk di jam malam jelas harus di abaikan oleh semua orang, karena dibandingkan rasa kantuk yang menerjang rasa panik dan juga takut lebih mengerikan menghantam.


semua anggota keluarga menunggu di depan, menatap dari arah luar bagian pembatas kaca transparan yang mampu melihat seluruh kegiatan didalam sana dari arah luar.



Bola mata Senja ikut menatap kearah dalam, terlihat begitu cemas dengan keadaan, dia sudah menangis seharian mengkhawatirkan akan keadaannya, saat ini tidak mampu lagi melepaskan buliran air mata karena rasanya air mata miliknya mulai mengering karena berjalan nya waktu.


ketimbang menangis bukankah memimta kepada Allah SWT merupakan hal yang paling tepat? bersimpuh dan menundukkan kepala, memohon dan mengirimkan doa agar Abang Rudi nya baik-baik saja.


"Bangun bang, semua membutuhkan mu disini, terutama....."


Senja bergumam, kemudian bola mata nya mencari seseorang di antara semua orang.


Vervita?!.


Dia mencari gadis tersebut di antara semua orang yang menunggu dalam kecemasan, namun sayangnya dia tidak menemukan gadis itu di antara mereka.


Kemana?!.


******


Di sisi lain.


"Kondisi kamu tidak dalam keadaan fit untuk mendonorkan darah"


Laki-laki berseragam serba putih tersebut bicara dengan Vervita, dia protes saat Vervita berkata masih siap untuk terus memberikan darah nya pada Rudi.


Sangat kebetulan sekali mereka punya golongan darah yang sama, entahlah tapi seolah-olah itu merupakan satu mukjizat tersendiri, di saat Mak tidak bisa mendonorkan darah nya untuk putra satu-satunya melakukan nya karena tekanan darah nya cukup tinggi, Vervita nyata nya jadi temeng terkuat untuk maju mendonorkan darah nya untuk Rudi.


"Aku baik-baik saja, Om"


Vervita menyakinkan diri jika dia baik-baik saja,. tidak ada hal hal yang perlu di cemaskan untuk semua orang.


Menolak keinginan Vervita jelas sulit, dengan langkah berat laki-laki tersebut mengehela pelan nafasnya, Membiarkan perawat melakukan nya.


"Apa Rudi akan baik-baik saja?"


Vervita melesatkan tanya pada Om nya yang memilih diam dan tidak mengeluarkan suaranya.


Alih-alih menjawab laki-laki tersebut lebih memilih menatap dalam bola mata keponakannya tersebut.


"Perbanyak berdoa kepada Allah SWT"


Laki-laki tersebut hanya menjawab begitu, kemudian memilih membalikkan tubuhnya dan bergerak keluar dari sana menuju ke arah ruangan dimana Rudi dirawat.


******


Ruang rawat Rudi.


Laki-laki tersebut seolah-olah tenggelam dalam ke indahkan dalam alam bawah sadar nya, memilih enggan bangun karena merasa apa yang ada di hadapannya tidak penting lagi.


Selang-selang yang menancap di tubuh nya terus berusaha untuk menyelamatkan nya, bahkan AED (automated external defibrillator) alat kejut jantung terus di lesatkan pada bagian dada laki-laki tersebut.


"Bradikardia"


Satu dokter bicara gelisah, detak jantung Rudi bergerak semakin melambat, dia memperhatikan garis pada layar monitor dengan keringat bercucuran di kedua pelipis nya.


"Sekali lagi"


Dokter lain nya bicara dengan cepat, mencoba menarik kesadaran Rudi yang dia yakini mulai menghilang secara perlahan.



Di balik dinding Vervita berusaha menutup mulutnya dengan kedua belah tangannya nya, menahan tangis yang sebenarnya akan pecah, dia ingin berteriak histeris dan menangis histeris saat mendengar percakapan terakhir didalam sana, tapi dia berusaha menyakinkan diri jika semua baik-baik saja.


"Bangunlah aku mohon"


Getaran Indah pada bahu nya terlihat begitu jelas, air mata gadis itu tumpah dimana suara tangis tertahan nya mulai menggema di ruangan tersebut dengan halus.


Didalam sana para dokter masih berusaha, menekan kesadaran Rudi agar tetap berada pada tempat nya.


"Please....jangan lakukan ini"


Om Vervita bicara panik, menggunakan tangan nya untuk terus memacu detak jantung Rudi yang sebenarnya telah menghilang sejak tadi, bola mata laki-laki tersebut berkaca-kaca, dia bahkan terus berusaha hingga tetes penghabisan terakhir nya.



"Dok...?"


"Sekali lagi"


Dia masih terus memerintahkan tim nya untuk bergerak tanpa lelah dan kata menyerah.


Satu dokter menggelengkan kepalanya, mencoba untuk mengatur nafas nya yang tidak baik-baik saja.


"Terus berusaha, karena hanya tuhan yang tahu kapan perjuangan ini akan berakhir saat ini"


Lagu laki-laki tersebut bicara, menggenggam erat AED (automated external defibrillator) alat kejut jantung yang kini ada di tangan nya.


Vervita memiliki menjatuhkan diri nya di lantai, kali ini tangis nya pecah seiring suara layar monitor semakin kencang memekakkan telinga.


Garis lurus.


Itu yang ada di kepalanya, dia tahu karena dia lulusan akademi tersebut, bahkan beberapa kali pernah terjun ke ruang operasi mengikuti jejak Om dan Tante nya.


*****


Catatan \= Beberapa episode jelang akhir cerita, yang bertahan menjadi readers setia Mak author sungguh subhanallah.


Maaf kalau slow update, Mak author sakit cukup parah dan lama, masih berusaha memulihkan stamina yang down parah setelah sakit berminggu-minggu.


Ini sakit Mak author paling parah, bahkan nafas Mak author sempat menghilang dan cuma ada sekotak korek selama 2 hari penuh tapi lucu nya masih memaksakan diri untuk update novel demi readers setia🤧🙏🏻🤭.


Love you selangit cakrawala makkkkk ❤️❤️💋💋.