Senja Di Atas Cakrawala

Senja Di Atas Cakrawala
Memberikan nya pilihan


"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah 216).


 "Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, karena hasil akhir dari semua urusan di dunia ini sudah ditetapkan oleh Allah. Jika sesuatu ditakdirkan untuk menjauh darimu, maka ia tak akan pernah mendatangimu. Namun jika ia ditakdirkan bersamamu, maka kau tak akan bisa lari darinya." (Umar bin Khattab).


******


Senja masih tidak bergeming, tidak paham harus menjawab apa, jantung nya seolah-olah tidak berdetak, sama sekali tidak me'lebay dengan istilah jantung tiba-tiba berdetak ratusan kali lebih dari biasanya, tapi kenyataannya jantung nya seolah-olah benar-benar berhenti atau Terjeda untuk beberapa waktu, dia nyaris tidak bisa bernafas.


Pernah merasakan rasa terkejut dalam kehidupan sehari-hari? tiba-tiba mendapat kabar berita yang membuat pucat wajah dan telapak tangan menjadi tidak baik-baik saja, entah bagaimana rasanya kedua kaki menopang tubuh, tapi semua terasa tidak baik-baik saja.


Masih menetralisir hati, dia mencoba kembali merangkai kata-kata yang barusan Cakra ucapkan, mencoba mengulang ingatan dan meyakinkan diri telinga nya tidak salah mendengar.


"Ini membuatku bingung"


Senja bertanya, menelisik wajah Cakra, dia gundah gulana, sulit untuk mengeluarkan kembali kata yang tepat atas rasa bingung nya saat ini.


"Seperti kata ku tadi, aku hanya mengikuti kata hati"


Cakra kembali membuka perkataan nya.


"Ini terdengar egois, awalnya berpikir sejauh mana keadaan ini akan aku jalani, membiarkan kita mengikuti perjanjian, kamu menyerahkan diri dan aku mendapatkan apa yang aku mau, namun bukankah manusia hanya berencana? sedangkan kuasa Allah SWT yang menetukannya"


Ucap laki-laki tersebut sambil terus menatap dalam bola mata Senja.


"Rencana itu belum terlaksana tapi aku sudah menyerah ditengah jalan, terdengar bodoh bukan?"


"Aku takut bermain-main di atas janji suci pernikahan kepada Allah SWT, saat berjanji dan mengucapkan kata aku terima nikahnya.... aku lupa makna perjanjian itu sesungguhnya aku ucapkan kepada Allah SWT bukan kepada wali atau istri ku, aku lupa soal 'Maka aku tanggung dosa-dosanya si dia (perempuan yang ia jadikan istri) dari ayah dan ibunya.Dosa apa saja yang telah dia lakukan.Dari tidak menutup aurat hingga ia meninggalkan sholat', maafkan aku..aku benar-benar malu dan aku lupa dengan ucapan yang keluar dari lisan ku sendiri pada hari itu"


Sejuta sesal muncul di hati Cakra, teringat bagaimana dia mengatur perjanjian untuk mereka, dia pikir ini drama Korea atau China, penikahan kontrak yang selesai dengan perjanjian masing-masing atau tiba-tiba seiring berjalannya waktu membuat mereka saling jatuh cinta.


Ini kehidupan nyata, yang jauh lebih realistis dan penuh drama, berbingkai adab dan berpegang teguh pada prinsip dan agama, bagaimana terlintas di kepalanya untuk menikah dan mengakhiri segala sesuatu dengan mudah.


"Jika landasan berkeluarga hanya semata-mata materi, betapa mudah materi itu hilang dan musnah. Hari ini kaya raya, besok bisa menjadi orang miskin yang menderita. Hari ini memiliki banyak uang untuk membahagiakan pasangan, besok bisa merana karena tidak punya uang. Materi tidak bisa mengekalkan kebahagiaan, walaupun materi merupakan unsur penyusun kebahagiaan."


"Jika landasan pernikahan hanyalah kecenderungan syahwat, maka betapa mudahnya syahwat itu menghancurkan kehidupan keluarga. Hari ini tertarik dengan seorang perempuan cantik lalu dinikahi, besok sudah bosan dan mencari wanita lain yang lebih cantik. Hari ini bertemu lelaki tampan lalu menikah, besok sudah bertemu lelaki lain yang lebih tampan. Syahwat mengajak manusia berkelana, dan tidak pernah bisa dipuaskan oleh berapapun banyak wanita atau lelaki yang disimpannya."


"Jika landasan pernikahan hanyalah gengsi atau popularitas, betapa mudah tergoyahkan.Hari ini menikah dengan bangsawan yang terhormat, besok bisa kecewa karena ada posisi lain yang dianggap lebih tinggi. Hari ini menikah dengan artis yang tengah naik daun, besok sudah menyesal karena ada politisi yang lebih ngetop. Begitulah jika menikah hanya didasarkan kepada menjaga gengsi, maka akan selalu muncul pembanding yeng lebih tinggi."


"Jika landasan pernikahan hanya soal keuntungan maka betapa mudah nya orang-orang mencari banyak macam keuntungan dan dikala rugi mereka berbondong-bondong berpisah kemudian mencari keuntungan lain lagi untuk bisa mensejahterakan diri dalam berbagai macam aspek yang mereka butuhkan."


"Dan aku menganggap remeh penikahan, tiba-tiba membuat aku malu kepada Allah SWT"


Setelah menyelesaikan kata-katanya Cakra memilih diam, menatap Senja untuk beberapa waktu.


"Mari memperbaiki semuanya dan jangan menganggap lagi pernikahan ini atas landasan materi dan keuntungan, pilihan ku menatap kedepan, ingin berusaha untuk memulai semua nya dari awal, tapi jika kamu ingin semua berakhir hingga hari ini, maka aku menyambutnya dengan cepat sebelum kita melangkah terlalu jauh dan acara ngunduh mantu berjalan sesuai keinginan orang tua"


Dia melanjutkan kata-katanya kembali, hati nya iklas ketika bicara, membiarkan Senja memutuskan sendiri keinginan nya, berjalan kedepan atau berhenti ditengah jalan sebelum semua merasa dirugikan.


Senja diam, tak bergeming, menatap Cakra dalam pandangan yang sulit Cakra pahami, saat ini Senja semakin gusar dengan ucapan laki-laki dihadapan nya yang kini memberikan dia dua pilihan berat antara terus berjalan atau berhenti di tengah jalan.