
Seketika otak Senja tidak berfungsi dengan baik saat dia melihat Hotel yang ada di hadapan mereka.
"Suami ku?"
Dia agak panik, ikut turun dari motor saat Cakra menghentikan motornya dan turun, menahan pinggang Cakra dan menggenggam nya erat.
"Kenapa tidak kembali kerumah?"
Dia bertanya lagi panik, wajah nya sedikit memucat bibir nya agak bergetar.
rumah menjadi tempat kekuasaan nya, tapi hotel jelas saja dia tidak paham, ini menakutkan.
Cakra menatap Senja, menaikkan ujung alisnya untuk beberapa waktu, hingga akhirnya memajukan wajahnya untuk menatap dalam wajah Senja.
"Kok pucat?"
Dia bisa-bisa nya bertanya seperti tanpa dosa, gerakan refleks Cakra membuat Senja seketika memejamkan sejenak bola mata, kedua tangan nya meremas ujung pakaiannya.
"Si...siapa yang pucat?"
Dia membuka bola matanya cepat, mencoba membela diri dengan cepat pula.
"Tidak lupa sama perjanjian nya kan? menikah dan punya anak?"
Yah tertuang dalam persyaratan dan peraturan ke berapa dia lupa, salah satu syarat penikahan mereka Yah punya anak, bisa-bisanya dia hampir lupa dan tenang-tenang saja.
"Sekalian saja kan kita belum melewati malam pertama"
Cakra bicara lagi, kemudian langsung memundurkan dirinya, detik berikutnya dia membalikkan tubuhnya lantas setelah itu dia mengembang kan senyuman nya, suka sekali melihat ekspresi panik Senja, ingin sekali tertawa terbahak-bahak saat ini juga.
Lumayan ngerjain anak kecil.
Batin nya.
Dia cuma berpikir untuk mengerjai Senja, tidak tahu yang di belakang kalang kabut, otak nya sudah traveling kemana-mana, berpikir untuk kabur saja.
Belum siap pecah pe.. rawan
Brrhhhh.
Senja menggelengkan kepalanya, ngilu-ngilu sakit membayangkan nya jika hal tersebut terjadi pada mereka.
Cerita orang-orang soal malam pertama terlalu ekstrim.
"Suami ku...siapa yang mengganggu di rumah? kita belum bilang sama bapak, itu ...kipas baru...ah kipas baru...kita belum menggunakan nya... hahahaha sayang di anggurin, kita bisa balik ke rumah sekarang"
Gadis tersebut bicara dengan bersusah payah, seperti anak kecil yang baru belajar bicara, belepotan kemana-mana, Senja berusaha membalikkan tubuhnya tapi Cakra buru-buru menahan ujung kerah pakaiannya.
"Ada pelakor dirumah"
Tiba-tiba laki-laki tersebut bicara cepat.
Eh?!.
Senja menoleh cepat, agak bingung.
"Penggoda laki orang?"
Dia bertanya cepat.
Cakra bicara lagi.
"Bagaimana... bagaimana?"
Senja tidak mudeng dari tadi,kata pelakor mengganggu dirinya.
"Aku tidak mengerti"
"Cuma parasit, tidak begitu penting, seperti Hama yang berusaha menyerang tanaman baru, lupakan saja"
Istilah yang dijabarkan Cakra terlalu keren, dia seketika masih pula tidak paham ucapan laki-laki tersebut.
Cakra menarik cepat lengan Senja, membawa nya masuk menuju ke lobby.
"Suami ku"
"Jangan berpikir yang sulit, tanpa bulan madu tidak akan ada penerus Gunawan group"
Enteng sekali dia bicara, tidak paham jika Senja gelisah dan gelagapan, takut melihat hotel yang menjulang tinggi di hadapan mereka.
"Aku...tahu...aku tidak bawa pakaian ganti"
Banyak sekali dalih dan kilahan yang dia miliki.
"Ada handuk didalam, pakai saja"
Lagi laki-laki tersebut menjawab dengan enteng.
Dia... bisa-bisa nya.
Senja menatap tidak percaya ucapan Laki-laki dihadapan nya tersebut, dia berjalan terseok-seok dengan penuh kegelisahan, didepan resepsionis suami nya mengeluarkan surat nikah, pesan satu kamar menghadap ke arah bukit sulap, alasannya indah, lumanyan untuk dijadikan panorama pemandangan mereka.
"Pengantin baru rupanya"
Resepsionis nya bicara sambil mengembangkan senyuman, menyerahkan kunci pada Cakra karena Cakra bilang tidak perlu di antar, bisa pergi sendiri bersama istri nya.
"Selamat menikmati bulan madu Kalian bapak, ibu"
Ucap resepsionis sambil membungkukkan tubuhnya dengan ramah.
Laki-laki langsung merangkul Senja.
"Kenapa?"
"Hahahaha aku mengantuk, bisa tidur lebih awal nanti?"
Senja bertanya sedikit panas dingin.
"Kalau bisa silahkan, aku tidak bisa jamin"
Cakra menjawab sambil menahan tawanya yang benar-benar ingin pecah.
"Jangan lupa, poin yang tertuang dalam surat perjanjian, anak...!"
Senja menelan salivanya.
Cakra suka melihat ekspresi Senja, tiba-tiba hidupnya terasa penuh warna, mengerjai anak kecil lumanyan bikin stress menghilang.