
Disisi lainnya
beberapa waktu sebelumnya.
Bola mata Riana terlihat Fokus menatap kearah depan sembari membawa mobil yang dia kendarai sejak tadi, dengan perlahan dia membelokkan mobilnya ke sisi kiri jalanan, berusaha mencari sebuah rumah Senja.
Menikah?!.
gadis itu mengoceh sendiri di dalam hatinya sejak tadi, api cemburu dan kemarahan menghantam dirinya menjadi satu, tidak percaya jika Cakra telah menikah dengan seorang gadis dari kampung.
baginya Lubuklinggau tetaplah sebuah kampung meskipun itu adalah kota kecil, dia pikir bagaimana mungkin laki-laki itu jatuh cinta pada gadis udik dia tidak tahu asal-usulnya.
sembari menggenggam erat telapak tangannya di setir mobil gadis tersebut tetap melajukan mobilnya menuju ke arah depan.
"Kamu yakin rumah nya disini Riana? aduh ribet banget ini ah, mending kamu Serang di Jakarta aja, kamu buat perhitungan sama gadis itu"
gadis di samping Riana mulai mengoceh, merasa cukup tidak nyaman dengan keadaan, sejak tadi dibawa berputar-putar oleh gadis disampingnya tersebut dalam keadaan tidak jelas hanya demi untuk mencari rumah yang katanya adalah istri baru Cakra.
sebenarnya kepalanya cukup pusing mengikuti Riana, tapi apa boleh buat dia tidak punya pilihan lain selain untuk mengikuti gadis tersebut, dan baginya menjadi bodoh karena cinta sangatlah tidak masuk akal, dan Riana benar-benar diperbudakme cinta.
bayangkan saja memangnya kakak ipar mana yang mau menikahi adik iparnya setelah istrinya meninggal dan mendapatkan istilah turun ranjang?.
hal itu jarang-jarang terjadi di dunia ini, cuma ada dua pilihan kalau tidak memang adik iparnya memiliki watak yang sama dan juga tingkah laku juga atau kebiasaan yang sama, itu artinya kakak ipar atau adik ipar yang tidak ada akhlaknya yang melampaui orang yang sudah meninggal dan menghianati nya.
"aku mana mungkin menunggu hingga ke Jakarta, aku hanya ingin tahu bagaimana kehidupan gadis sialan Itu dan juga bagaimana kehidupannya"
Riana bicara cepat, sembari bola matanya terus merapat ke arah depan, memasukkan alamat yang ada di hadapannya itu benar.
sejak tadi berputar ke Kiri dan ke kanan, cukup repot mencari rumah gadis yang di nikahi Cakra.
Gadis di samping Riana bertanya dengan cepat memastikan jika Riana tidak akan bertindak dan berbuat melampaui batasannya, karena dia tahu gadis itu terlalu nekat dan selalu bertindak di luar akan warasnya.
dia belum mau kehilangan harga diri karena menyerang orang lain, apalagi kalau dipikir-pikir itu adalah istri sah Cakra, suka-suka laki-laki tersebut ingin menikah dengan siapa, namanya juga hati memangnya bisa dipaksakan untuk siapa.
5 tahun lebih bukan waktu yang sebentar menduda dan setia pada satu perempuan, laki-laki juga memiliki hasrat dan syahwat, begini wajar-wajar saja laki-laki itu memilih untuk menikah lagi, daripada jajan di luar, hilir mudik ke diskotik dan berbuat dosa.
dan urusan hati juga pilihan, itu jelas urusan Cakra bukan urusan Riana, dirinya atau bahkan keluarga jelita lainnya.
meskipun pernah menikah dengan jelita, namanya juga izin menikah lagi tidak harus dengan Restu keluarga perempuan tersebut.
"kamu pokoknya diam saja biarkan aku yang melakukan semuanya"
Riana menjawab dengan cepat hingga pada akhirnya bola mata gadis tersebut menemukan rumah yang sama persis dengan yang ada di layar handphonenya.
"aku menemukan nya"
ucap Riana tiba-tiba.
dan gadis di samping Riana seketika merinding.
"aku harap kamu masih bergerak di ambang batas akal sehatmu Na"
ucap gadis itu lagi kemudian, menatap rumah panggung yang ada di sisi kiri mereka, tidak tahu kenapa jutaan kekhawatiran menghantam dirinya.
Gila!.
dia membatin.