Senja Di Atas Cakrawala

Senja Di Atas Cakrawala
Dia telah menggeser posisi nya


dikala hatinya bergemuruh dan kekhawatiran Menghantam dirinya, Senja terus berusaha untuk menatap bola mata suaminya, sembari dia menggenggam erat kedua belah telapak tangannya.


ada berbagai macam ketakutan yang ada di dalam hatinya, jika tebakannya tidak salah itu artinya Cakra sudah mengetahui tentang dirinya dan juga Rudi, tapi kenapa laki-laki itu sama sekali tidak pernah bicara padanya atau bahkan menyinggungnya.


dia khawatir Cakra akan berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya atau bahkan Cakra akan berpikir juga yang tidak-tidak saat Abang Rudi pernah mengantar nya dulu ketika mereka pertama kali menikah.


"Aku... seharusnya aku .."


Dia takut Cakra marah dan membenci dirinya, jangan ditanya bagaimana gugup nya Perempuan tersebut saat ini.


di tengah kecemasan yang melanda dirinya tiba-tiba saja Cakra melebarkan senyumannya, laki-laki tersebut menyentuh lembut ujung rambut nya kemudian berkata.


"Bukankah kita pernah membuat kesepakatan? melupakan masa lalu dan membuka lembaran baru?"


Laki-laki tersebut bicara, membenahi rambut Senja secara perlahan.


"Bagi ku itu tidak penting, aku tidak suka mempersulit sebuah hubungan hanya karena hal yang tidak berarti"


Lanjut laki-laki itu lagi, pelan dan lembut, sengaja melakukan itu agar tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka dimana semua orang masih terus cemas menunggu Rudi yang berjuang didalam sana.


"Saat kita melewati malam pertama, aku menyakinkan diri, kamu telah utuh menjadi milik ku, bukan pernah jadi milik orang lain atau berencana untuk berpaling kedepan nya, aku tidak perlu bertanya atau mencari cela untuk melakukan perdebatan karena hal tidak berguna, mencemburui diri pada seseorang yang tidak layak aku cemburui"


Lanjut Cakra lagi.


"Jika aku harus meragukan perasaan kamu, seharusnya sebelum acara ngunduh mantu kamu sudah meminta untuk menghentikan pernikahan kita dan memilih Rudi, tapi kamu tidak melakukan nya dan saat itu aku yakin secara perlahan posisi Rudi mampu tergeser karena kehadiran ku"


Saat Cakra berkata begitu, seketika Senja cukup terkesiap, dia mengendurkan cengkraman antara tangan ke tangan nya, mencoba untuk menahan debaran pada jantung nya.


Yah tanpa dia sadari, Cakra memang secara perlahan menggeser posisi Rudi dihatinya.


"Lalu kenapa aku harus khawatir?"


Laki-laki tersebut bertanya, menatap bola mata indah perempuan yang ada dihadapan nya tersebut dengan hangat.


"Abang...."


Dan Perempuan tersebut seketika mengeluarkan ekspresi lucunya, dia serba salah tapi juga bahagia, mengikis takut dan gelisah yang terus menghantam nya sejak tadi, keringat dingin yang sejenak hadir perlahan menghilang, jantung yang tidak baik-baik saja juga perlahan mengeluarkan degub normal nya.


Bersyukur kah dia? memiliki suami yang begitu tenang? bergerak tidak tergesa-gesa dan selalu sabar menghadapi nya.


"Tapi sejak kapan?"


Dia bertanya ragu, menatap kearah Cakra untuk beberapa waktu.


Tiba-tiba Cakra menyentil lembut hidung nya, membuat Senja seketika memejamkan bola matanya.


Dan laki-laki tersebut langsung menggenggam erat telapak tangan nya, memilih membuang pandangannya dan memfokuskan bola mata nya pada ruang operasi dimana Rudi berada.


Sejak kapan?!.


Cakra mencoba mengingat didalam hati nya.


Sekelabat ingatan menghantam dirinya di masa lalu saat dia mencari kandidat sempurna untuk calon istri nya.


"Gadis dari desa, tidak tepat nya kota kecil dimana dia tinggal di kota yang sama seperti nona jelita"


Kala itu Rudi berdiri didepan Cakra yang duduk di ruangan kerjanya, laki-laki tersebut menundukkan kepalanya, menawarkan seorang gadis muda untuk dirinya.


"19 tahun terlalu muda"


Cakra menggelengkan kepalanya.


"Tapi dia kandidat paling sempurna untuk anda, pak"


Rudi berusaha untuk mendesak nya.


"Tuan Anggara juga menyukainya, kebetulan kenal dengan orang tua gadis tersebut"


Saat Rudi menyebut nama mertuanya, Cakra mengerutkan keningnya.


Dia tahu mertua laki-lakinya tidak pernah setuju Mell menjodohkan Riana kepada dirinya dan turun ranjang menggantikan posisi Jelita.


"Tuan Anggara bilang, anda tidak akan menyesal memilih gadis tersebut dan melakukan negosiasi bersama, dia sempurna, dalam keadaan terdesak dan membutuhkan uang untuk pengobatan ayah nya"


Rudi menatap Cakra untuk beberapa waktu, dimana Cakra terlihat gelisah dengan pemikiran nya, laki-laki tersebut memutar-mutar pulpen ditangan nya sembari dia memejamkan sejenak bola mata nya.


Dan kini seketika Cakra mengulum senyumannya, dia melirik kearah Senja yang saat ini memilih menyandarkan kepala ke bahu Cakra, laki-laki tersebut ingin sekali tertawa kecil, seperti nya dia baru sadar semua orang sejak awal menggiring nya agar dia memilih Senja untuk dijadikan istri berikut nya setelah almarhumah Jelita.


"Kamu tidak akan menyesal Memilih dia"


Dan sebaris ucapan tuan Anggara membuat dia mengulum senyuman nya.


"Acara ngunduh mantu nya harus dipercepat, papa tidak peduli"


Dan kata-kata papa nya kala itu juga kembali terngiang di telinga nya.


Semua benar-benar bekerjasama dengan sempurna untuk membuat dia dan Senja bersama.


Laki-laki tersebut sejenak melebarkan tangan kanan nya, dia meraih bahu Senja yang berbaring di pundak nya, secara perlahan laki-laki tersebut mencium lembut puncak kepala istrinya, menenggelamkan rasa pada aroma lembut yang selalu dia sukai sejak Senja masih balita.