
Senja terlelap didalam tidurnya, terlalu lelah dan mengabaikan segalanya, apapun itu dia tidak peduli, yang dia pedulikan jika dia harus menenggelamkan dirinya ke dalam tidur lelapnya.
namun siapa sangka di balik tidur lelapnya dia merasa ada sesuatu yang bergerak-gerak dan juga sesuatu yang dingin menyentuh kulitnya.
Senja masih enggan untuk sadar dari keadaan, masih terlalu nyaman menenggelamkan dirinya ke dalam roda perputaran mimpi malam nya saat ini, mengabaikan suasana bahkan apapun yang terasa mengganggu dirinya.
berusaha untuk terus terlelap panjang dan membiarkan diri masuk ke alam mimpi hingga pagi, namun semakin dia memaksakan diri untuk tenggelam semakin terasa ada sesuatu yang mengganggu diri nya.
Sentuhan lembut dan hangat seperti tangan seseorang, mengingat kan dirinya pada satu sosok yang selalu dia rindukan belakangan ini, tidak tahu Kenapa tiba-tiba terasa rindu, ingin sekali Membiarkan diri menyentuh balik tangan yang menyentuh dirinya.
"Adek Abang tak mau bangun? hari sudah siang, waktu nya sekolah"
Suara itu seolah-olah terdengar di balik telinga nya, suara yang begitu dia rindukan dalam beberapa waktu ini.
"Adek Abang sudah makan? mau Abang belikan apa? mie ayam atau bakso? bukankah itu makanan favorit lembayung Senja milik Abang"
"Rindu Abang kah? Abang begitu rindu dengan Adek"
"Jangan menangis, kau tahu kau adalah Lembayung (nama bunga yang berwarna merah campur ungu) Senja (bagian waktu dalam hari atau keadaan setengah gelap di bumi sesudah matahari terbenam, ketika piringan matahari secara keseluruhan telah hilang dari cakrawala) dan Senja hanya boleh di miliki cakrawala.
"Terlalu Lengkara (Mustahil) untuk kita bersama, Abang cinta kamu, tapi ada batas yang tidak bisa di langgar dalam norma, bukankah mereka bilang cinta itu tak mesti memiliki bukan? melihat kamu bahagia, Abang pasti bahagia."
"Makkkk jangan makkkk"
Satu kenangan memori menghantam ingatan, ketika rotan memecut seluruh tubuh Rudi, Mak marah dipenuhi kebencian saat Rudi Berkata.
"Aku hendak menikahi Senja"
"Kau pasti sudah gila"
kala itu kemarahan Mak tidak bisa dibendung lagi, tidak tahu berapa kali pecutan menghantam tubuh besar tinggi tersebut, yang jelas rasanya begitu menyakitkan dan ngilu.
"Mak tanya, kamu mau nikah sama Abang kamu? kamu mau Mak mati sekarang juga"
Mak berteriak histeris, meraih racun rumput di sudut dapur, membuka botol nya dengan cepat dan bersiap menegak nya.
"Makkkk".
seketika senja berteriak histeris.
bola matanya terbuka dengan sempurna gimana Cakra rupanya sejak tadi terus menepuk pipi Senja agar terbangun.
Gadis itu mimpi buruk.
"Senja?"
Cakra panik, menyentuh kedua pipinya dengan berkata.
Senja berucap di dalam hatinya, tampak sadar bola mata Senja dipenuhi air mata, seketika tangis Senja langsung pecah.
Dengan gerakan refleks dia meraih leher Cakra, memeluk cakra dalam Isak tangis yang terus menggema.
"Apa aku melukai kamu? adakah ucapan aku yang salah membuat mu memimpikan nya?"
Cakra bertanya bingung, merasa sangat bersalah, baru beberapa hari kemarin berkata tidak akan membuat Senja menangis, nya hari ini?!.
Laki-laki tersebut memendam sejuta kecewa, merasa gagal memenuhi janjinya.
*******
LENGKARA
Pada anak waktu
Di dalam ruang yang sunyi
Ia menyelinap ke dalam hatiku
Mengetuk pintu yang purba
Di paksa menenggak kembali
Air ludah yang kusudahi.
Sebagaimana ludah
Yang tak ingin kujilat lagi
Ini hati yang tetap memilih untuk tetap basi
Dari patahan-patahan waktu
Yang disia-siakan
Untuk tetap pergi.
Mana mungkin! yah mana mungkin kita bersama.
Kecuali itu takdir Yang mengetuknya kembali.
Dan itu hanya dalam alam mimpi.