
Lagi setelah doa terucap Cakra melesatkan indah penyatuan dua bibir di antara mereka, masih dengan cara yang lembut dan sopan dia menautkan bibir mereka, Senja sedikit menegang, membiarkan Cakra menyentuh dengan cara yang indah pada bagian merekah dalam dua simbol indah berwarna pink muda alamiah.
Sangat halus dan tidak tergesa-gesa, dia bergerak menyesap tiap bagian lembut simbol indah bagian pembicara tersebut, menenggelamkan Senja pada kelembutan yang belum pernah didapatkan sebelum nya.
Suami nya bergerak sangat hati-hati, dia tahu ini akan menjadi kali pertama untuk Senja di antara pengalaman hidupnya, tidak terburu-buru, menciptakan satu momen yang tidak akan terlupa.
Dia masih meneguk manis nya bagian awal bibir laksana bulan dimana jemari indah Cakra dibagian kanan nya telah bergerak menyusuri tiap kulit indah selembut kulit bayi tersebut, terlalu halus membuat jemari-jemari tersebut tanpa sadar menyusuri tiap mahakarya Allah SWT yang diciptakan dengan sempurna.
Bahkan jemari kiri nya secara reflek menyentuh rambut Senja dan menahan kepala nya, semakin memperdalam sesapan demi sesapan yang terjadi pada bibir mereka berdua dimana Senja mulai mengikuti irama indah yang dipersembahkan oleh Cakra.
Hanya gerakan refleks yang terjadi, balasan yang tidak direncanakan atas apa yang diberikan suami nya, insting alamiah bergerak tiba-tiba dimana semua pada akhirnya berjalan begitu saja, laksana air yang menemui jalan nya untuk bergerak mengalir mengikuti tiap poros jalan yang ada dihadapan nya.
Entah bagaimana Cakra melakukan nya,dia telah menurunkan kain selembut sutera yang menutupi bagian kulit indah milik bidadari nya satu persatu, laki-laki tersebut seolah-olah tahu kapan waktu terbaik dan kapan tidak baik membawa Senja pada petualangan asing yang belum pernah dia lewati.
Terlalu hati-hati juga lembut, penuh kasih dan cinta, dimana jemari laki-laki tersebut mulai menekan tiap bagian keindahan yang dipersembahkan untuk dirinya, bagaikan sang pianis muda yang begitu ahli memainkan tiap tuts-tuts piano yang diberikan kepada nya, menyusui seluruh lapisan kulit indah yang ada didepan mata, membiarkan jemari tersebut terus bergerak berjelajah menyusuri nada-nada indah yang memabukkan sang pendengar nya.
Beberapa kali laki-laki tersebut memuji kesempurnaan ciptaan Nya, yang dipersembahkan kepada dirinya dengan cara yang luar biasa, mengucapkan doa dibalik rasa syukur yang tiada habisnya.
Senja tidak tahu rasa apa yang menghantam dirinya, Cakra begitu pandai membawa dirinya, membawa dia pada petualangan menuju awang-awang, menggenggam tiap bagian paling sensitif didalam dirinya dan menyeret dirinya pada pusara kenikmatan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
Terlalu indah ketika bisa dia rasa tiap kali laki-laki tersebut menenggelamkan dirinya pada titik rasa indah membuat Senja berulangkali mengeluarkan suara asing yang cukup memalukan untuk diri nya, semakin dia mencoba menahan nya semakin kuat Cakra menarik dirinya pada pusara cinta penuh kepuasan.
Dia tidak memiliki adikuasa untuk melepaskan diri, meskipun terkadang rasa asing membuat dia ingin pergi, tapi kelembutan dan keramahtamahan yang dipersembahkan Cakra membuat dia tenggelam dalam pusaran air yang menghanyutkan diri begitu saja.
Beberapa kali gadis tersebut mencoba mencari pegangan, dengan lembut laki-laki tersebut menyatukan jemari mereka, tahu bagaimana rasa yang menghantam Senja, dia menggenggam tangan halus yang mulai merasa nyaman pada tiap sentuhan yang dipersembahkan Cakra.
Sapuan demi sapuan menyusuri tiap lapisan atmosfer bumi, beberapa kali terdapat sesapan aneh yang meninggalkan jejak bewarna asing di bagian leher hingga ke bagian dua bagian kenyal yang terus terlindungi kain tebal di bagian sisi kiri dan kanan nya selama ini, hanya ketika dia mandi Pelindung mereka terlepas namun kembali di tutup oleh kain bak sutera yang terus melindungi diri, namun hari ini Cakra menyusuri nya dengan sentuhan baru yang sanggup memabukkan dirinya, bahkan sapuan demi sapuan dipersembahkan laki-laki tersebut melalui rasa aneh yang mampu membuat Senja berkali-kali memejamkan bola matanya karena malu, dia terbuai, tidak sanggup melawan, menikmati seluruh perlakuan asing yang terasa begitu istimewa.
Kemana laki-laki tersebut membawa istrinya? yah tentu saja membawa Senja mengarungi indahnya penggabungan dua mahakarya indah, dimana dia mulai membiarkan diri turun menyusuri tiap lapisan kulit bumi dari atas hingga kebawah sana, menjelajahi lapisan indah seluruh kulit bumi yang belum terjamah, membiarkan diri menyapu dan menjelajahi diri dari puncak Himalaya lantas turun ke hutan tropis paling indah di dunia.
Tangan dan kaki berjalan menyusuri tiap jalan indah yang ada di depan mata, tanpa ada cacat dan celah yang menghambat perjalanan indah nya, bagaikan air sungai yang menuntun Cakra untuk terus menyusuri nya tanpa gangguan siapa-siapa.
Senja berulangkali memejamkan bola matanya, merasakan sensasi aneh yang membuat dia pening, bukan karena pening meminta berhenti, namun pening dalam pengharapan semua agar jangan cepat berakhir.
Semakin gadis tersebut mengeluarkan suara memalukan dari balik bibir indah nya semakin pandai Cakra menenggelamkan Senja pada petualangan yang baru yang terkadang membuat tubuh istrinya bergetar berkali-kali atas sensasi luar biasa memabukkan didalam dirinya.
Mereka bagaikan dua bayi baru lahir yang tidak memiliki apa-apa, tanpa lapisan sutera atau kain penutup lainnya, Cakrawala memulai satu penyatuan indah antara mereka,namun sebelumnya laki-laki tersebut menatap dalam wajah senja yang dipenuhi buliran peluh di setiap lapisan kulit wajah cantik istrinya.
Dingin AC tidak mampu mendinginkan suasana didalam ruangan mendominasi berwarna putih tersebut.
"Sayang?"
Cakra meminta izin sang pemilik surgawi, menatap bola mata sayu Senja yang tidak berdaya dibawah kekuasaan nya.
Gadis tersebut menatap syahdu sang suaminya, menganggukkan kepalanya dengan rona wajah memerah karena malu menghantam dirinya.
Mendapatkan izin sah dari sang kekasih halal nya, Cakra kembali bergerak memulai petualangan nya, kali ini secara perlahan dan hati-hati laki-laki tersebut menuntun diri, membuat penyatuan dalam peraduan antara dua anak manusia yang tercipta saling melengkapi.
Demi Allah Senja mengencangkan pegangan pada tubuh suaminya, saat dia merasakan satu sensasi aneh yang menyeruak masuk kedalam dirinya, hingga pada akhirnya tangan kanan Senja menahan dada suami nya, dia mencoba menahan nafasnya karena satu benda asing seolah-olah membelah dirinya.
"Abang"
Begitu sakit, membuat dia berkeringat dingin, terlalu sakit hingga membuat bola mata Senja ber'embun begitu saja.
Cakra berhenti, menahan lengan nya pada kedua sisi ranjang, dia menatap Senja dalam tatapan penuh arti, namun terlihat sedih seolah-olah ingin menyudahi.
"Sakit?"
Satu tanya melesat dibalik bibir Cakra, dia benar-benar berhenti, membiarkan setengah diri nya masih tenggelam dibawah sana.
"Maafkan aku, aku melukai kamu, Kita berhenti saja"
Laki-laki tersebut pikir mungkin ini masih terlalu dini, berniat untuk berhenti, dia pernah bersumpah tidak akan menyakiti Senja apalagi membuat gadis dihadapannya yang nyaris menjadi perempuan utuh menangis karena dia.
Laki-laki tersebut siap berhenti, tapi Senja meraih leher Cakra, menautkan dirinya dan membiarkan diri tenggelam dalam pelukan suaminya.
"Bergerak pelan-pelan saja"
Dia tidak mungkin meminta Cakra berhenti, ini kewajiban nya, ditunda hingga keesokan hari pun, pada akhirnya hari seperti ini tidak mungkin tidak terjadi.
Cakra diam, mencium lembut puncak kepala istrinya, berbisik lembut dalam tanya.
"Yakin?"
"Hmmm"
Laki-laki tersebut berusaha mawas diri, menekankan setiap aksi, kembali mencoba membawa istri nya pada petualangan baru dengan gerakan yang sangat hati-hati.
Seperti kata sang petualang sejati, tidak ada rasa pertama yang tidak membuat seluruh lapisan kulit mu seolah-olah tidak terbelah, Senja merasakan nya, saat ke asing'an menghantam dirinya, dia terkoyak, seolah-olah lapisan kulit Ari robek dan menghantam hingga ke ubun-ubun Kepala.
Awalnya luar biasa menyiksa namun Cakra terlalu pandai membawa dirinya dalam penyatuan surgawi membawa dia pada pusara cinta yang mampu kembali menenggelamkan diri nya pada keindahan surga dunia, dia terlena dan terbawa arus permainan Cinta sang pujangga yang melantunkan berbagai macam lagu cinta dan semakin menenggelamkan dirinya pada kenikmatan hakiki yang belum pernah dia rasakan dan baru pertama kali dia nikmati.
Senja berkali-kali mengeluarkan suara asing nya dimana tiap kali suara dalam rengkuhan kenikmatan tersebut bersenandung semakin membuat energi Cakra semakin menggila dan tiada habisnya.
Laki-laki tersebut begitu kuat dalam petualangan yang tidak berhenti lagi, lagi dan lagi, membuat Senja berkali-kali pula mengencangkan pegangan nya.
Laki-laki tersebut dengan luar biasa dan penuh Cinta mempersembahkan dunia penuh warna, melesakkan sesuatu didalam dirinya, memenuhi seluruh tubuhnya pada api cinta yang begitu membara, membawa nya pada keindahan langit ketujuh, dan mempersembahkan cinta dari dewa Yunani yang memabukkan dewi nya, Senja tenggelam begitu jauh, terbang hingga langit ketujuh, menggenggam banyak ada dalam rengkuhan Cakra, dia terbuai, merasa lengah dan runtuh dalam gelombang pusara Cinta yang dipersembahkan suaminya.
Tangan saling bertaut jemari antara satu dengan yang lainnya, hingga menarik mereka pada pusara kenikmatan hakiki yang tiada habisnya, hingga pada akhirnya satu air bah tumpah di susul pada air terjun yang menghantam deras pada tiap dinding terdalam lapisan bumi dibawah sana dalam rengkuhan doa Indah yang dipersembahkan Cakra untuk mereka.
Allahummaj’alnuthfatna dzurriyyatan thayyibah”
Artinya: Ya Allah, semoga air yang kami keluarkan bisa menghasilkan keturunan yang baik.
Dan berakhir pada satu doa yang lainnya untuk penutup hidangan sempurna petualang yang bisa jadi akan kembali terulang pada tenaga yang bisa saja kembali kapan saja.
“Alhamdulillaahi Lladzii Khalaqa Maa I Basyaraa,”
Artinya: Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan air mani ini menjadi manusia (keturunan).
"Terimakasih atas cinta yang telah kamu percayakan pada ku, sayang. I love you, I love you Senja, sangat"
Ditengah rasa lelah Senja, Cakra mencium seluruh permukaan kulit wajahnya dari kening, pelupuk mata, hidung, pipi, dagu dan bibirnya, melesatkan terimakasih hingga Senja merasa begitu dihargai, ditutup dengan kata cinta yang membuat Senja semakin merasa di cintai oleh laki-laki yang merupakan pemilik hati nya.
Senja yang lelah, sembari memejamkan bola matanya membalas kata-kata Cakra dengan kata paling sederhana.
"Aku juga mencintai kamu ya suami ku, pemilik hatiku, calon ayah dari anak-anak ku"
Seulas senyuman merekah, Senja menenggelamkan dirinya dalam pelukan Cakra dimana laki-laki tersebut menarik selimut mendominasi berwarna putih yang mereka lupa di bawah lapisan Sprei bercak sisa merah perlahan mengering disana.
*****
Catatan \= bahasa malam pertama yang Mak author gunakan selembut Senja diatas cakrawala, tidak ingin berlebihan karena takut menghancurkan keindahan cerita.
lain dari biasanya, tapi Mak author percaya ini indah, lebih indah dari persembahan kisah manapun yang pernah Mak author tulis sebelumnya.
💋💋💋❤️❤️❤️.