Senja Di Atas Cakrawala

Senja Di Atas Cakrawala
Jarak yang terbentang di antara kita


"Ini akan masuk musim hujan, jangan lupa sediakan minyak angin dan obat sejenis Antangin, kamu gampang flu, jangan lupa minta bik Rodiah untuk membelikan kamu inhealer atau fresh care"


barisan kalimat berisi pesan tersebut disampaikan oleh Rudi saat senja akan keluar dari dalam mobilnya, gadis tersebut menghentikan gerakan tangannya ketika dia ingin membuka handle pintu mobil di mana dia berada.


Senja menelan air ludah nya, mencoba bicara dengan suara serak nya karena sisa tangis nya tadi.


"Abang masih ingat?"


Ucap Senja pelan tanpa berniat menoleh ke arah Rudi, di bergetar.


"Aku pikir Abang sudah lupa"


Tambah nya lagi kemudian.


"Boleh aku memeluk Abang sejenak? sebentar saja bang, sekali saja"


Tiba-tiba dengan segelintir keberanian gadis tersebut meminta kepada Rudi, berharap laki-laki itu mengabulkan keinginan terakhir, melepaskan kerinduan selama bertahun-tahun lamanya tidak bertemu.


"Sekali ini saja"


Pinta Senja sekali lagi.


yang ditanya sama sekali tidak menjawab, memilih diam untuk beberapa waktu, selang beberapa detik kemudian Rudi malah keluar dari mobil nya dengan cepat, membantu Senja membuka pintu mobilnya dan menunggu gadis tersebut keluar dari dalam mobilnya.


"Bang?"


Senja menunggu jawaban laki-laki tersebut, suara nya bergetar sembari menahan kerinduan, hendak sekali dia melompat memeluk laki-laki tersebut, tapi dia mencoba menahan segala rasa didalam hati nya yang bergemuruh.


Senja mencoba menatap wajah laki-laki dihadapan nya tersebut, berharap jika Rudi mau mendongakkan kepalanya dan menatap ke arah dirinya, mengizinkan dia sekali ini saja memeluk dan melepaskan kerinduan nya, tapi alih-alih mau melakukan hal tersebut Rudi malah berkata.


"Nabila sudah menunggu saya Nona"


ucap laki-laki itu sembari menundukkan kepalanya, begitu dalam dan penuh hormat, seolah-olah ucapan dan cara laki-laki tersebut menyatakan ini tidak lagi mungkin terjadi diantara mereka.


Rudi memasang benteng paling tinggi di antara mereka.


"Bang?"


Melihat hal tersebut sejenak sesuatu menggenang di pelupuk bola matan Senja, demi Allah dia ingin sekali menjatuhkan air mata nya yang tertahan, menangis meraung dan terisak didepan laki-laki tersebut.


Laki-laki tersebut menggeleng-gelengkan kepalanya sejenak kemudian dia kembali menundukkan kepalanya.


Senja hendak bicara tapi tiba-tiba bibi Rodiah muncul dari pintu depan, bergerak mendekati mereka dan membantu Senja untuk membawa beberapa oleh-oleh dari rumah mama mertua nya.


Dia menatap Rudi yang kini mengangkat kepalanya, sama sekali tidak menoleh kearah dirinya tapi bergerak cepat masuk kembali ke dalam mobil yang dikendarai laki-laki tersebut.


Senja hanya bisa menatap wajah laki-laki tersebut untuk beberapa waktu, jangan ditanya bagaimana perasaan nya saat ini.


Sakit?!.


Tentu saja.


Bolehkah dia menangis sekarang? dia tidak memiliki keberanian dan kekuatan untuk melakukan nya.


jangankan menangis, tertawa pun rasa nya sulit.


Sejauh itu jarak yang terbentang di antara kita sekarang bang? kau dan aku bagaikan orang asing yang tidak saling mengenal antara satu dengan yang lainnya.


Ada yang bilang, keluarga seperti Orang asing dan orang asing seperti saudara sendiri, tapi itu tidak berlaku untuk kita.


Dari sudut manapun kita tetap lah orang asing yang tidak diizinkan untuk saling mengenal antara satu dengan yang lainnya.


"Non?"


bibi Rodiah menatap kearah Senja, dia khawatir karena bola mata gadis tersebut seketika mengeluarkan air matanya.


Sepersekian detik kemudian tiba-tiba tangis Senja pecah, dia menangis terisak tersedu-sedu dalam posisi berdiri, menatap mobil Rudi yang perlahan menghilang di hadapan nya.


"Non?"


Bibi Rodiah terlihat bingung, mencoba memeluk Senja dengan sejuta tanda tanya.


"Bapakkkkk"


Gadis itu menyebut kata bapak nya, seolah-olah hanya nama itu yang bisa dia lontarkan dari balik bibir penuh sedu hari ini dihadapan wanita tua di hadapannya itu.