
Kembali ke tadi malam.
"Mari kita lihat sekeras apa kamu bertahan"
Rudi membatin menatap Riana yang terus menangis tidak berkesudahan, dia muak mendengar tangisan palsunya, yang selalu di buat-buat sejak dulu.
"Kau persis seperti ibu mu"
Lagi laki-laki tersebut membatin, membuang pandangannya namun telapak tangan nya masih digenggam erat oleh Vervita.
"Pulanglah dan jangan buat hati mu lebih sakit dalam penantian, apa harus aku kirim foto mereka didalam kamar hotel? agar kamu puas melihat nya?"
Rudi kembali buka suara, Vervita sejenak menoleh, dia pikir laki-laki tersebut selalu bicara tanpa memikirkan perasaan orang lain.
Riana sama sekali tidak menjawab, terus menenggelamkan dirinya kedalam pelukan Vervita, kata-kata Rudi bagaikan pecutan cambuk yang terus bergerak menghantam seluruh Anggota tubuh nya.
apakah cinta semenyakitkan itu? dia jatuh cinta pada Cakra terlalu lama, bermimpi jadi pengantin seperti impian yang tertancap di masa anak-anak kebanyakan perempuan di dunia, menggunakan pakaian indah, gaun pengantin bak seorang Barbie yang di hadiri para tamu undangan yang tak terhitung jumlahnya.
Bermimpi melewati masa bersama laki-laki yang dia cintai, memiliki keturunan dan menjalankan hidup hingga hari tua.
"Tapi cinta mu salah Na"
Berulang kali Vervita mengingatkan diri nya, jika cinta nya salah kepada Cakrawala.
"Dimana letak salah nya?"
Dia bersih keras berkata ini tidak salah.
"Kamu jatuh cinta pada kakak ipar mu, suami kakak mu sendiri Na, meskipun mereka sudah tidak bersama, dia masih kakak ipar mu, suami sah kakak mu, tidak pernah ada surat cerai di antara mereka, dan kau tahu betapa kak Cakra mencintai kak jelita?"
"Tapi tidak ada yang salah dengan hatiku, kak jelita sudah lama mati, dia sudah di alam sana, dan kak Cakra sudah mengikhlaskan dirinya"
"Kak Cakra laki-laki normal"
"tapi dia bukan tipe laki-laki yang gampang berpindah hati, dia bukan seseorang yang mudah menikahi seorang perempuan kemudian membuangnya dan menikah lagi dengan perempuan lain"
Vervita terus mengingatkan.
"setiap laki-laki memiliki karakteristik dan juga sudut pandang yang berbeda soal perempuan atau pasangannya, tidak semua laki-laki itu setia tapi tidak semua juga laki-laki itu pendusta, jika Rasulullah itu seorang yang pendusta maka dia tidak akan mungkin tidak bisa melupakan Khadijah, beliau hanya menikah kembali setelah sekian tahun berlalu namun yang beliau nikahkan adalah para wanita tua dan janda, beliau hanya menikahi Aisyah yang seorang gadis atas pilihan Allah SWT"
"jangan kau samakan Cakra dan Rasulullah Saw Cakra hanya laki-laki normal yang tidak akan bertahan tidak menyentuh seorang perempuan"
"Aku tahu itu Na, tapi kak Cakra bukan type laki-laki haus belaian dan harta"
Vervita menatap kearah Riana, saat mereka sudah berada di atas mobil mereka.
Mendengar ucapan Vervita, Riana langsung ikut menoleh kearah gadis tersebut.
"Yah aku tahu itu, Cakra bukan papa ku, aku yang terlalu naif berpikir mereka mungkin type yang sama yang bisa aku bandingkan antara satu dengan yang lainnya"
Gadis tersebut kemudian berucap, membuang pandangannya dengan cepat.
"Tapi aku tetap tidak salah karena jatuh cinta pada nya, sejatinya aku tidak mencintai kakak ipar ku melainkan orang asing, karena aku dan kak jelita lahir dari rahim yang berbeda dan aku begitu membenci dia karena sejak kecil dia mendapat kan apapun yang dia inginkan dari papa ku"
Lanjut gadis itu lagi kemudian, dia membuang pandangannya.
Vervita menoleh secara perlahan, menampilkan keterkejutan yang sebenarnya tidak pernah ada.
"Apa?"
Ekspresi pura-pura yang sebenarnya sangat enggan untuk dia keluarkan.