
Mak terlihat menggenggam erat telapak tangan nya, tidak berani menatap Anggara, mereka duduk saling berhadapan untuk waktu yang cukup lama, bapak berada di kursi roda, menatap kedua orang tersebut yang sudah lama tidak bertemu antara satu dengan yang lainnya.
Sejenak bapak menggeser posisi kursi rodanya, memilih menepi dan bersandar di dinding, bapak mendongakkan kepalanya sambil menatap ke langit-langit gedung mewah tersebut, saking luas dan tinggi nya dia nyaris tidak melihat bagian atap nya.
Laki-laki tua itu memejamkan sejenak bola matanya.
"Tugas mu selesai untuk berbakti pada ku, Hesty"
Ucap bapak pelan.
Tiba-tiba ingat kenangan masa lalu dengan Almarhumah sebelum kematian bidadari syurga nya.
"Apa kabar mu Rasty? aku rindu pada mu, sangat"
Bapak membatin didalam hati.
Mak Hesty sendiri masih menundukkan kepalanya, tidak berani menatap kearah wajah laki-laki yang ada dihadapan nya, terlalu rindu rasanya, saking rindunya dia bahkan tidak berani melihat nya.
"Apa kabar mu, Hesty?"
Anggara tidak punya kata-kata terbaik untuk mulai membuka percakapan dengan wanita dihadapan nya itu, mungkin bertanya kabar merupakan kalimat paling tepat untuk nya meskipun terdengar sangat tidak masuk akal.
Hesty mungkin tidak baik-baik saja.
Mak sejenak menaikkan kepalanya, mencoba menatap wajah Anggara dengan tangan masih bergetar, bola mata Mak terasa memanas, dia tidak baik-baik saja.
"Aku baik-baik saja"
Dia bicara dengan bibir bergetar, membohongi lawan seolah-olah berkata dia baik-baik saja, realitanya dia tersiksa karena permainan takdir yang bertahun-tahun menghantam nya.
Dari nona muda menjadi orang biasa tidak mudah, dia ingat bagaimana Anggara bahkan tidak mengenali nya dimasa lalu, saat dia meminta kembali pada Dewantara dihadapan Mell.
Laki-laki dihadapan nya melaju menggunakan mobil nya, membuang pandangannya ketika Hesty mencoba berlarian dan berkata,
"Ini aku.... istri mu"
"Aku pikir kau tidak akan mengingat ku lagi"
Dia bicara, mencoba menahan tangis nya.
Kala itu dia putus asa, menangis sambil mendekap anak-anak dalam kesekaratan nya, Rasty dan Anwar sepasang suami istri yang menggenggam erat telapak tangan mereka, membantu Hesty bangun dari keterpurukannya.
Dia sekarat dengan caranya ditambah baru kehilangan bungsu nya, dia mengabaikan Rudi yang kala itu begitu membutuhkan nya.
Jika ingat ada jutaan rasa bersalah yang menghantam dirinya soal Rudi, anak itu kekurangan banyak kasih sayang, berdiri kokoh dengan kedua kaki nya sendiri, mencari hiburan dari Senja.
Bayi mungil itu adalah pengobat lara dan sepi Rudi, karena itu Mak tidak menyalahkan Rudi sepenuhnya, laki-laki itu hanya tidak bisa membedakan rasa, baginya Senja pelipur laranya, seperti obat yang menutupi setiap luka yang menganga.
Seakan-akan tahu apa yang dipikirkan emak, Anggara bicara pelan, mencoba meraih telapak tangan wanita yang begitu dia rindukan.
"Mari mengulang semua nya kembali dari awal, Hesty"
Ucap laki-laki tersebut pelan, menyentuh lembut jemari tangan yang begitu dia rindukan.
Tapi Mak menarik perlahan tangan nya, menggelengkan kepalanya secara perlahan.
"Semua sudah terlambat, ada hati lain yang harus aku jaga, Anggara"
Dua genangan air tumpah dibalik pelupuk mata kiri dan kanan nya, seolah-olah berkata ini telah lama berakhir dan kita sudah tidak mungkin lagi bersama.
******
...Kutitip Rindu pada Senja...
...Kepadamu yang telah pergi...
...Telah kutitip rindu pada langit senja yang seteduh matamu...
...Pandangilah merah, jingganya, hingga rindu yang hangat itu...
...Merasuk kedalam cakrawala hatimu...
...Layaknya gelap dan terang yang bertemu dikala senja...
...Pertemuan kita yang singkat namun indah itu...
...Takkan pernah ku lupa...
...Segala kenangan telah tersimpan dalam relung jiwa...
...Biar kumiliki hingga senja tak lagi ada...
...Satu hal yang perlu kau tahu...
...Perihal melupakanmu, aku tak mampu...
...Karena ingatan tentangmu serupa sang mentari...
...Walau ia terbenam hari ini...
...Ia akan datang lagi dikeesokan harinya...
Created by : Vinca Virgina