
Pada akhirnya sepasang pengantin baru tersebut Bergerak cepat menuju kearah pintu elevator, Cakra masih usil merangkum tubuh senja sembari menggodanya.
"apa kita benar-benar harus tidur di sini maksudnya bagaimana kipas angin barunya?"
senja berusaha bertanya pada Cakra sejak tadi, seolah-olah gadis tersebut sibuk mengalihkan pembicaraan menuju ke arah kipas angin, hotel membuat dia benar-benar merasa panik.
Tidak tahu pikiran nya bercabang entah kemana.
"Jangan pikirkan soal kipas angin, kita akan menggunakan nya besok malam"
bisa-bisanya Cakra menjawab dengan ringan, dia menahan senyuman, entahlah suka sekali melihat ekspresi gadis disampingnya itu sejak tadi.
"sepertinya sejak kita menikah hingga hari ini kita belum membicarakan sama sekali soal bulan madu dan anak jadi aku pikir malam ini lumayan jadi kesempatan untuk kita menginap di hotel dan melakukan bulan madu bersama berkat parasit yang singgah"
ucap laki-laki tersebut lagi dengan cepat sembari dia kembali merangkul gadis tersebut, senja langsung menoleh ke arah Cakra sembari memiringkan bibirnya.
"suamiku karena itu kalau begitu romantis hari ini padaku dan begitu baik? pantas saja seharusnya dari awal aku curiga"
seolah-olah tidak ada jarak yang terbentang di antara mereka senja langsung mengeluh sembari menatap Cakra serba Salah.
"Bisa jadi"
Cakra bicara kemudian melepaskan rangkulannya, kali ini kembali bersikap biasa, Membuat Senja menaikkan ujung alisnya, dia pikir laki-laki disamping nya itu sulit sekali ditebak jalan pikiran nya.
Mereka menatap pintu elevator dihadapan mereka, menunggu waktu pintu tersebut terbuka sedangkan disisi kanan Cakra Senja masih gelisah.
Begitu pintu elevator terbuka mereka masuk kedalam tapi tiba-tiba dari belakang antrian orang menyerbu, membuat Cakra memajukan tubuhnya dengan cepat disaat Senja memilih untuk memepetkan tubuh nya di dinding elevator.
posisi saling berhadapan benar-benar terlalu estetik untuk Senja, Cakra merapatkan tubuhnya ke tubuh Senja, sensasi aneh terasa, Senja sejenak meringkuk, membiarkan kedua tangan nya menutup dada nya, hanya gerakan refleks saja.
"Kalau tahu kita naik tangga"
Suara Cakra mendominasi dibalik telinga kanan nya, ingin Senja mendongakkan kepalanya tapi sulit, sebab dia terjepit, catat terjepit di antara orang-orang yang berisik ingin menuju ke lantai atas, terjepit tubuh cakra yang menahan sisi kiri dan kanan dengan lengan nya.
"Panas?"
Lagi suara Cakra menari-nari di balik telinga nya.
"Sedikit"
"Maaf"
Kalimat tersebut terdengar sederhana, tapi membuat Senja cukup berdebar-debar mendengarnya.
"Untuk?"
Dia hanya tidak tahu harus menjawab apa, anggaplah terlalu bodoh jika hanya bertanya balik untuk hal yang tidak berguna.
"Membuat mu terjepit"
Seketika Senja terkekeh, membuat beberapa orang disekitar mereka menoleh, seketika Senja malu sendiri.
"Khilaf"
Ucapnya malu, memasukkan kepala nya secara refleks ke dada Cakra.
Eh?!.
Seketika laki-laki tersebut terkejut, sedikit menegang saat senja memasukkan kepala nya ke dada nya, gadis tersebut menyembunyikan wajahnya dibalik pakaian nya, mungkin refleks karena malu, tapi dampaknya sangat luar biasa untuk Cakra.
Jantung nya berdetak tidak beraturan dan panas tiba-tiba menyerang wajah nya, seperti nya dia yang malu dan memerah saat ini.
Senja menundukkan kepalanya, menatap beberapa orang yang meliriknya karena terkekeh tadi.
"Senja"
Cakra gelisah, memanggil Senja dengan pelan, gadis tersebut buru-buru kembali mendongakkan kepalanya.
"Ya?"
Dia bertanya bingung.
"Aku akan menelpon bapak"
Seperti nya dia kehilangan topik pembicaraan yang sesungguhnya, dan menghubungi bapak jelas jadi alasannya saat ini karena dia dan Senja memilih tidak pulang melainkan menginap di hotel.
Seketika laki-laki tersebut membuang pandangannya.